Review Samsung Galaxy A8+ : Ponsel Menengah Dengan DNA Flagship

Penulis:Maulia Salamuddin
Terbit:
Diperbarui:7 Februari 2019
⏱️9 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Desain stylis, Dual camera selfie, Prosesor berkinerja tinggi, RAM 6GB dan sudah memiliki sertifikasi IP68 (tahan air). Dengan semua fitur yang ditawarkan Galaxy A8+ (2018), tentunya membuat banyak orang mungkin bertanya-tanya apakah perangkat ini dari segmen flagship? Jawabnya tentu tidak, perangkat terbaru yang diluncurkan Samsung Januari lalu ini hadir mengisi segmen menengah dan dikhususkan untuk para milenial yang baru mendaki karir.

Perangkat yang konon memiliki DNA flagship ini memiliki beberapa fitur yang kita jumpai di ponsel flagship Samsung, seperti Galaxy S8. Dibanderol dengan harga Rp 8.099.000, banyak yang mengatakan harga yang ditawarkan ketinggian. Namun apakah harga yang ditawarkan dengan fitur yang diberikan menjadi wajar? Mari simak ulasan Galaxy A8+ ini secara mendalam dimulai dari desain di halaman pertama.

DNA Flagship Ada di Desain

Meskipun Galaxy A8+ terlihat mirip dengan Galaxy S8 dari jauh, perbedaan di antara keduanya mudah dikenali saat Anda benar-benar memegang keduanya. Hal pertama yang Anda perhatikan tentang A8 adalah bahwa ponsel ini memiliki bezels yang jauh lebih besar, merusak kesan desain futuristik terdepan yang sesungguhnya dibangun Samsung dari zamannya Galaxy S6. A8+ juga terasa jauh lebih besar meski sebenarnya hanya berbeda dengan beberapa lebar kertas. Yang mencolok justru hadir di perbedaan berat, Galaxy A8+ memiliki bobot 191 gram, sedangkan S8 jauh lebih ringan 152 g, dan kami bisa merasakan perbedaan ini.

Dari segi bahan, A8+ terbuat dari kaca dan logam. Kaca itu adalah Gorilla Glass 5 milik Corning, yang terbaru dan paling tahan lama di seri ini, sedangkan logamnya adalah aluminium seri 7000 dengan finishing matte, tidak seperti pada S8 yang glossy. Ponsel ramping ini, memiliki profil ramping, dan memberi nuansa premium saat memegangnya. Tapi seperti pada semua ponsel dengan panel kaca, memiliki permukaan licin. Dan belum lagi itu juga magnet sidik jari, dan tentunya Anda cenderung terus membersihkan noda setiap saat.

Beralih ke bagian belakang juga terdapat sensor fingerprint tepatnya dibagian bawah kamera. Bentuknya persegi panjang dengan posisi horizontal dan berada di posisi tengah. Samsung nampaknya juga memberikan perubahan posisi fingerprint jika dibandingkan seri S8 dan Note 8 yang meletakan fingerprint disamping kamera, kali ini tampak lebih nyaman dari segi ergonomi. Kamera yang digunakan pada bagian belakang yaitu sensor 16MP dengan aperture F/1.7.

Tombol-tombol di sisi-sisinya terbuat dari logam dan terasa clicky dan enak untuk ditekan, sementara loudspeaker berada di sisi kanan (seperti pada seri Galaxy A dari tahun lalu). Di bagian bawah, Anda memiliki port USB-C untuk pengisian dan jack headphone

Tapi hei, ada sesuatu yang menarik! akhirnya Samsung menempatkan notifikasi LED di seri A. Tidak hanya itu, DNA flagship semakin terasa dengan kehadiran Sertifikasi IP68, sehingga perangkat terlindungi dengan baik terhadap air dan debu. Fitur ini yang kami sebut menyentuh batas kewajaran pasalnya di segmen ini sangat jarang disematkan.

Tampilan Infinity

DNA Flagship semakin terasa di sektor layar. Mewarisi apa yang ditawarkan seri flagship Galaxy S8, pada Galaxy A8+ juga  menyuguhkan layar yang terkenal dengan julukan sebagai Infinity Display.

Galaxy A8+ hadir dengan ukuran resolusi 2220 x 1080 (FHD+) Infinity dengan ukuran 6 inci. Sayangnya, tampilan ini tidak sebanding namanya. Tampilan A8+ masih menyisakan bezel di bagian atas dan bawah, dan bezel samping mungkin sama dengan A5 atau A7 tahun lalu. Jujur kami merasa kurang nyaman saat melihat video atau bermain game. Ya..masih seperti menggunakan layar dengan rasio standar 16: 9. Hal ini tentunya kami bandingkan dengan pengalaman menggunakan Galaxy S8 dan Note 8, dimana bezel samping benar-benar memberikan pengalaman yang berbeda, ya..terasa luas di pandang mata.

Meski memiliki kekurangan karena masih adanya bazel dilayar, Samsung memberikan kelebihan pada panel yang digunakan yakni Super AMOLED, dimana menawarkan vivid colors, deep blacks, and wide viewing angles yang baik.

Dari segi spesifikasi dan performa, tampilan ini sangat bagus. Ini mencapai tingkat kecerahan puncak setara dengan Galaxy S8, sehingga Anda dapat melihatnya dengan mudah di luar ruangan, di bawah sinar matahari yang cerah, dan turun ke tingkat terendah di malam hari yang berarti bahwa lebih mudah melihat segala hal di layar.

Interface

Sejauh mata memandang dan jari bergerak saat menggunakannya, kami merasakan user interface yang sama persis seperti yang ada pada Galaxy S8. Mulai dari halaman homescreen, app drawer, jendela notifikasi, hingga ikonnya semua sama.

Nah, inilah satu hal yang hebat: dengan Samsung Experience 8.5 di Galaxy A8+, semuanya menjadi lebih baik! Oke, jujur ​​saja, kami melihat banyak perbaikan apalagi Galaxy A8+  berjalan pada Android 7 Nougat dengan pembaruan ke Android 8 Oreo ada dalam rencana di kuartal pertama untuk itu kita lihat apakah Samsung mengikuti jadwal ini.

Memang ada beberapa pemangkasan yang dilakukan, jadi tidak persis dengan Galaxy S8 seperti fitur Edge Screen yang absen, opsi motion wallpaper yang tidak ada, atau tombol Home virtual di lockscreen yang tidak punya efek getar.

Sedangkan untuk fitur unggulan lain seperti Game Launcher, Dual Messenger, atau Always-on Display tetap ada. Pada fitur Always-on Display Anda bisa dengan mudah mendapatkan informasi seperti tanggal, waktu, pemberitahuan, dan bahkan tingkat baterai tanpa harus menghidupkan ponsel.

Fingerprint, Face Recognition dan Bixby Vision

Sejatinya, smartphone Android sudah membawa fitur keamanan standar, seperti Password, PIN, atau Pattern. Seperti smartphone kekinian umumnya, selain fitur keamanan standar yang disebut tadi, Galaxy A8+  juga sudah menyertakan aspek keamanan berbasis biometrik, yakni fingerprint sensor dan face recognition. Menggunakan fitur Face Recognition kita bisa dengan cepat dan mudah untuk membuka layar, semudah mengambil foto selfie atau memindai jari.

Setelah kami coba A8+ memiliki kecepatan standar-standar saja dan akurasinya lumayan oke. Tapi saat pakai dengan cahaya agak minim atau terlalu terang seperti backlight misalnya, kecepatan mendeteksinya jadi berkurang.

Fitur lain yang paling juga ada warisan dari S8 adalah Bixby Vision. Bixby Vision dapat digunakan sebagai alat untuk mencari informasi tentang satu hal melalui objek yang ditangkap. Untuk menggunakan Bixby Vision, cukup masuk ke aplikasi kamera lalu aktifkan. Bixby Vision juga bisa menerjemahkan kata atau kalimat berbahasa asing yang Anda lihat ketika bepergian ke luar negeri.

Dual Camera Selfie

Galaxy A8+ terlihat mirip dengan Galaxy S8, tapi apakah juga memiliki kamera fantastis yang sama dengan ponsel andalannya?

Jawaban singkatnya adalah “tidak.” Pertama-tama kita harus mulai dengan spesifikasi: A8+ dilengkapi kamera belakang 16 megapiksel (tidak ada kamera ganda di bagian belakang) dengan optical stabilization (OIS) dan lensa f / 1.7, sedangkan di bagian depan, ada kamera ganda. Sistemnya terdiri dari 16 megapiksel dan 8 megapiksel yang bisa memiliki kelebihan dengan fitur “Live Fokus” dimana fitur ini bisa mengaburkan latar belakang pada saat selfie.

Antarmuka kamera Galaxy A8+ (2018) juga telah mendukung gesture tertentu. Misalnya, cukup menyapu jari dari bawah ke atas (posisi lansekap), kita bisa mengubah mode kamera belakang ke kamera depan, begitupun sebaliknya. Sementara bila untuk mengakses mode lainnya, seperti mode Pro, Panorama, Auto, dan lain-lain bisa dilakukan dengan menyapu layar dari kiri ke kanan.

Di luar tradisi, Samsung akhirnya tergoda ikutan tren ponsel dalam negeri yakni selfie dimana Galaxy A8 series punya dua kamera selfie 16 MP normal angle dan 8 MP wide angle f/1.9. Jadi kami akan mulai dengan mengatakan bahwa kami terkesan dengan penerapan yang dilakukan Samsung di kamera A8+. Kamera depan mendapatkan fitur Live Focus dari Galaxy Note 8 untuk selfies dengan latar belakang blur, dan Anda mendapatkan pilihan untuk menyesuaikan tingkat blur dan area fokus setelah pengambilan gambar.

Menariknya Anda dapat menyesuaikan gambar Anda dengan stiker dan filter yang menarik. Hiasi selfies dengan stiker menggunakan teknologi pengenalan wajah. Atau edit sebelum Anda memotret dengan mode Makanan, Efek Kecantikan, atau Filter. Dan efek Beauty bekerja saat mengambil video dengan kamera depan dual Galaxy A8+, sehingga Anda bisa tampil atau berkreasi pada foto selfie yang Anda buat.

Kamera Belakang 16MP Aperture F1.7

Beralih ke kamera belakang, ada kamera tunggal 16 MP f/1.7 yang dilengkapi PDAF dan juga EIS buat perekaman video. Tidak hanya resolusinya yang tergolong cukup tinggi, kamera utama Galaxy A8+ (2018) juga didukung sejumlah fitur, antara lain phase detection autofocus, LED flash, Geo-tagging, touch focus, face detection, panorama, dan HDR.

Soal antarmuka kameranya, apa yang tersaji di layar Galaxy A8+ terlihat cukup familiar. Di sini kita disajikan sejumlah fasilitas yang bisa diatur sedemikian rupa untuk menghasilkan gambar sesuai yang diinginkan. Di sisi kiri, misalnya, berutan dari atas ke bawah tersaji ikon menu untuk Camera Setting, mengaktifkan/menonaktifkan lampu flash, full view on/off, serta paling bawah ikon untuk beralih ke mode kamera depan/belakang. Adapun fasilitas lainnya tersaji di sisi sebelah kanan, seperti tombol shutter serta berbagai mode lainnya.

Bicara hasil bidik, memotret menggunakan kamera utama Galaxy A8+ pada siang hari secara umum hasil yang diperoleh terbilang memuaskan. Kualitas gambar yang dibidik cukup bagus, di mana terlihat nyaris tidak diganggu adanya noise. Selain itu komposisi warna yang ditampilkan juga begitu hidup dan natural, ketajaman gambar juga tergolong sangat baik apalagi dengan kehadiran teknologi Tetra-cell.

Sayangnya, Galaxy A8+ tidak bisa menyamai kualitas gambar fantastis yang Anda dapatkan dengan S8 di malam hari. Ada perbedaan besar dalam kualitas gambar di antara keduanya. Foto dari A8+ ternyata buram, sering overexposed dan kurang detail, sedangkan S8 menyimpan detail dan gambar seimbang bahkan di malam hari.

Video Digital Image Stabilization (vDIS)

Kamera belakang Samsung Galaxy A8+ sama-sama dilengkapi dengan fitur Video Digital Image Stabilization (vDIS), berbeda dengan fungsi Image Stabilization (IS) pada kamera digital atau smartphone pada umumnya, keunggulan teknologi vDIS memungkinkan hasil rekaman video menggunakan Galaxy A8+ menjadi lebih stabil dan jelas bahkan saat sedang merekam dalam keadaan bergerak.

Akan tetapi A8+ hanya bisa merekam video 1080p pada 30 frame per detik, sementara kebanyakan saingan dengan kisaran harga yang sama dapat merekam video 4K dengan lebih detail ke dalamnya. Ini jelas salah satu sisi kamera yang paling lemah. Namun video 1080p tidak terlihat buruk, karena mendukung stabilisasi optik.

Kualitas Audio

Anda memiliki satu loudspeaker pada A8 dan diposisikan di samping. Kami melihat posisi yang sama untuk loudspeaker pada seri Galaxy A tahun lalu, dan meski aneh, ini juga tempat yang tidak mudah teredam.

Kualitas loudspeaker hanya rata-rata: tidak terlalu bagus, atau terlalu buruk. Ini tidak memiliki kedalaman beberapa pemain hebat seperti seri iPhone 8 / X, yang memiliki kualitas bagus meski di setel cukup keras.

Ponsel ini juga mendukung Bluetooth 5.0, namun tidak memiliki dukungan codec AptX HD yang dimiliki beberapa ponsel kelas atas untuk transmisi audio beresolusi tinggi melalui Bluetooth.

Kinerja

Galaxy A8+ didukung oleh chip Samsung Exynos 7885. Ini adalah chip mid-range yang jauh berbeda dari Snapdragon 835 dalam hal performa, tapi juga lebih baik daripada chip mid-range seperti Snapdragon 625. Exynos 7885 dibangun di atas manufaktur LPP Finfot 14nm modern. proses, yang menjamin tidak mengkonsumsi terlalu banyak tenaga. Ini terdiri dari 2x core Cortex A73 yang kuat yang berjalan sampai dengan 2.2GHz dan core Cortex A53 6x yang efisien yang berjalan hingga 1.6GHz.

Tugas berat seperti game dan browsing dilakukan dengan baik oleh A8+. Kami bisa memainkan game grafis yang intensif seperti Modern Combat 5 and Gods of Rome with good frame rates. Menariknya saat browsing menggunakan Chrome dan Samsung Internet memuat halaman web sederhana dan atau media dengan grafis berat! kami masih rasakan sangat nyaman.

Kesimpulan

Awal tahun ini, Samsung membuat standart yang cukup tinggi untuk ponsel di kelas menengah. Hal ini dikarenakan A8+ yang berhasil mengepak keseluruhan fitur yang kami sukai dari model high-end tahun lalu dengan ponsel harga terjangkau.

Samsung akhirnya melakukan perbaikan pada sensor sidik jari, dan Anda juga mendapatkan Infinity Display yang besar seperti pada Galaxy S8 dan Note 8, kehadiran sertifikasi IP68 membuat DNA flagship sangat terasa di ponsel ini.

Dan meski memiliki kamera depan baik, kamera utama sebenarnya tidak terlalu hebat, terutama di malam hari. Hal lainnya kamera belakang tidak mendukung perekaman video 4K.

Akhirnya, ketika sampai pada nilai, A8+ dihargai sebesar Rp 8.099.000, kami pikir itu harga yang wajar dimana fitur yang diberikan melebihi ponsel-ponsel di kelas menengah lainnya.