Telset.id – Celah distribusi musik digital dipakai pelaku kejahatan siber untuk menyisipkan lagu palsu buatan AI ke halaman artis asli di Spotify dan platform lain. Skema ini membuat pelaku bisa mengeruk royalti yang seharusnya menjadi hak musisi, sekaligus merusak reputasi nama besar yang mereka bajak.
Laporan 404 Media mengungkap bahwa pelaku memanfaatkan celah distribusi untuk menempelkan lagu buatan generative AI langsung ke katalog artis yang sudah ada. Uang dari lagu tersebut tidak mengalir ke artis asli, melainkan ke kantong scammer. Hasilnya pun jauh lebih besar dibanding lagu AI biasa karena lagu palsu itu menumpang nama dan halaman profil artis sungguhan.
Emanuel Maiberg dari 404 Media menyebut praktik ini “sangat mudah” dilakukan. Ia mengklaim butuh waktu hanya lima menit untuk memasang musik buatan AI dengan nama artis asli di Spotify. Sasaran pelaku tidak pandang bulu, mulai dari band kecil, musisi yang sudah meninggal, hingga Taylor Swift.
Begini Cara Kerja Celah Distribusi Lagu AI
404 Media memverifikasi proses ini dengan menguji langsung menggunakan band asal Brooklyn, Lathe of Heaven. Pertama, scammer membuat lagu sampah alias slop song lewat layanan seperti Suno atau Udio. Berikutnya, mereka memakai generative AI untuk membuat gambar sampul album.
Setelah itu, pelaku mendaftar ke layanan distribusi musik digital seperti DistroKid, yang dipakai 404 Media dalam pengujiannya. Begitu lagu diunggah, pelaku cukup berbohong dengan mengaku sebagai band asli, dan platform melakukan sisanya. Tak butuh waktu lama, lagu tersebut muncul di Spotify, Tidal, Apple Music, Amazon Music, dan layanan streaming lain sebagai trek baru dari artis sungguhan.
Modalnya hanya kemauan untuk memalsukan data dan kemampuan mencentang beberapa kolom di situs web. Baik layanan distribusi maupun platform streaming tidak menangkap kesalahan itu, sehingga lagu palsu dibiarkan menghasilkan uang bagi scammer dan merusak reputasi artis. Pola eksploitasi celah digital semacam ini juga marak di sektor lain, seperti yang terlihat pada kasus scammer jual anak anjing yang memanfaatkan kelengahan platform.
Artis kecil jadi pihak paling rentan terhadap scam ini. Sebabnya, musisi terkenal umumnya punya tim yang memeriksa hal semacam ini. Persoalan ini juga menimpa artis yang sudah meninggal, yang oleh laporan disebut sebagai hal yang menjijikkan.
Spotify mengonfirmasi kepada 404 Media bahwa “profil yang tidak dikelola secara aktif bisa sangat rentan” terhadap praktik tersebut. Vokalis Lathe of Heaven menyatakan bahwa menikmati proses menciptakan sesuatu dan melepasnya ke dunia sebagai produk karya sendiri adalah salah satu pendorong terakhir dalam bermusik. Ia menilai fakta bahwa seseorang bisa merusak reputasi mereka dengan melepas lagu sampah memakai nama band sangat melemahkan semangat, dan hal itu berbicara banyak soal layanan distribusi serta streaming yang membiarkannya terjadi.
Baca Juga:
Ratusan Lagu AI Palsu hingga Respons Platform
Grup musik Odette Child mulai melacak masalah ini sejak Juli dan sejak itu menemukan lebih dari 300 lagu buatan AI yang menyamar sebagai karya musisi besar seperti Taylor Swift, sejumlah selebritas, musisi jazz yang telah meninggal, dan berbagai nama lain di antaranya. Celah ini sebenarnya sudah ada sebelum lagu AI membanjiri platform streaming musik, tetapi kini persoalannya berubah menjadi soal skala.
Membuat satu lagu dummy lalu mengunggahnya dengan menyamar sebagai orang lain adalah satu hal. Menggunakan generative AI untuk dengan cepat “membuat” dan mengunggah ratusan lagu dalam sehari adalah hal yang berbeda. Odette Child menilai platform tidak tertarik pada solusi terbaik untuk masalah ini dan menyerukan adanya infrastruktur yang bisa melindungi konsumen, pendengar, dan terutama para artis.
Spotify menyatakan bahwa melindungi identitas artis adalah prioritas utama dan pihaknya terus berinvestasi besar dalam deteksi serta pencegahan. Spotify juga mengaku sedang bekerja langsung dengan distributor untuk menghentikan pengajuan buruk di sumbernya, yang bisa berarti celah ini pada akhirnya ditutup. Amazon Music menyampaikan pernyataan korporat bahwa pihaknya berkomitmen terus meningkatkan penegakan aturan melalui teknologi deteksi canggih dan sistem pemantauan yang disempurnakan, serta menjalin dialog rutin dengan mitra dan pemegang hak untuk melindungi kepentingan artis dan penulis lagu seiring perkembangan lanskap industri.
Platform-platform tersebut tidak tinggal diam. Mereka sudah mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini, tetapi langkah tersebut tampaknya belum berhasil. Spotify memiliki lencana verifikasi baru yang memastikan sebuah lagu tidak dihasilkan AI. Spotify juga memperkenalkan filter spam yang mencari unggahan massal, duplikat, trik SEO, penyalahgunaan trek yang dibuat sangat pendek, dan berbagai bentuk sampah digital lainnya.
Spotify tengah mengembangkan alat yang memungkinkan musisi meninjau rilisan sebelum tayang dan dikaitkan dengan profil mereka, tetapi fitur itu masih dalam tahap beta terbatas. Fitur ini pertama kali diumumkan pada Maret. Statistik memang bervariasi, tetapi diperkirakan sekitar 50.000 lagu buatan AI diunggah ke Spotify setiap hari.
Kasus ini memperlihatkan bahwa celah digital yang dibiarkan terbuka bisa dieksploitasi dengan skala besar, sejalan dengan pola kejahatan siber lain yang memanfaatkan kelengahan sistem seperti yang dibahas dalam kasus Ancaman Lumma Stealer. Bagi pendengar, artis, dan pelaku industri, celah distribusi ini menjadi pengingat bahwa perlindungan identitas dan hak royalti di platform streaming masih menyisakan celah yang belum sepenuhnya tertutup.





Komentar
Belum ada komentar.