📑 Daftar Isi

Transaksi Video Commerce RI Naik 90 Persen, Aplikasi Diminta Berbenah

Transaksi Video Commerce RI Naik 90 Persen, Aplikasi Diminta Berbenah

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Transaksi video commerce di Indonesia tercatat naik 90 persen secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi, dan lonjakan itu membuat kesiapan aplikasi livestreaming lokal jadi sorotan. Agora dan Carousell menilai pertumbuhan tersebut membuka peluang besar bagi platform digital di Tanah Air, sekaligus mengungkap celah teknis yang harus segera ditutup.

Angka tersebut merujuk pada laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company yang dikutip Agora. Selain kenaikan transaksi, jumlah penjual aktif atau toko online juga tumbuh 75 persen, mencapai sekitar 800.000 user. Indonesia disebut sebagai pasar video commerce terbesar dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.

CEO Agora Tony Zhao menjelaskan bahwa livestreaming menjadi salah satu kanal yang tumbuh paling pesat bagi masyarakat Indonesia. Pelaku usaha kecil kini dapat menjangkau pembeli dari berbagai daerah, sementara ekosistem livestreaming menciptakan peluang kerja baru bagi host, kreator, hingga tim produksi.

“Peluang Indonesia bukan hanya karena masyarakatnya banyak menonton konten live, tetapi karena mereka aktif berpartisipasi,” kata Tony Zhao dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).

Kebiasaan Menawar dan Masalah Jeda

Menurut Tony Zhao, masyarakat Indonesia sudah terbiasa berbincang dan menawar langsung dengan penjual, dan video live membawa kebiasaan tersebut ke ranah digital. Namun Agora menilai masih banyak aplikasi yang belum siap memenuhi ekspektasi tersebut.

“Banyak aplikasi masih menjadikan video live sebagai siaran satu arah, di mana host berbicara, sementara penonton menyaksikannya dengan jeda beberapa detik,” ujarnya. Pendekatan seperti itu dinilai mungkin cukup ketika livestreaming hanya digunakan untuk hiburan, tetapi tidak ketika orang sedang berbelanja.

Tony Zhao menegaskan bahwa platform yang akan unggul bukan sekadar yang menyediakan tombol live, melainkan yang mampu membuat percakapan terasa benar-benar instan. Kebutuhan ini, menurut Agora, juga melampaui sektor belanja, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga aplikasi berbasis komunitas.

Untuk memenuhi ekspektasi pengguna, Agora menyebut ada empat aspek utama yang perlu diperhatikan platform livestreaming. Pertama, latensi rendah agar pertanyaan, jawaban, dan proses bidding berjalan tanpa jeda beberapa detik. Kedua, stabilitas di jaringan seluler. Ketiga, kemampuan menangani lonjakan pengguna. Keempat, fitur interaktif seperti live chat, co-hosting, bidding, dan tanya jawab.

Tony Zhao menjelaskan bahwa membangun seluruh kemampuan itu memerlukan waktu berbulan-bulan dan sumber daya tim yang besar. “Peran kami adalah menangani lapisan teknologi real-time sehingga developer lokal dapat lebih fokus membangun pengalaman yang benar-benar membedakan aplikasi mereka,” ucapnya.

Agora menyediakan SDK dan API yang memungkinkan developer menambahkan fitur panggilan suara, panggilan video, interactive live streaming, dan conversational AI ke dalam aplikasi mobile maupun web. Di Indonesia, Agora bekerja sama dengan V-cube Indonesia terkait kebutuhan integrasi dan dukungan teknis bagi developer. Teknologi Agora juga digunakan oleh platform lokal seperti layanan livestreaming everywhere.id.

Fondasi Real-Time Carousell Live

Carousell menjadi salah satu contoh berkembangnya layanan livestreaming berkat fondasi real-time yang berjalan baik. Ketika mengembangkan live commerce, penjual harus dapat memperlihatkan barang dengan jelas, sementara pembeli perlu mengikuti jalannya lelang dan memasukkan penawaran tanpa terganggu kendala koneksi.

Untuk itu, Carousell memilih Agora Interactive Live Streaming sebagai fondasi real-time dalam Carousell Live. “Agora memungkinkan kami menghadirkan pengalaman livestreaming baru yang dirancang untuk interaksi aktif secara real-time. Pemutaran video yang lancar dan sesi yang stabil membantu host serta penonton tetap terhubung tanpa gangguan,” ujar Director of Engineering Carousell Naveen Moorjani.

Di atas fondasi video dari Agora, Carousell juga mengembangkan sistem anti-snipe timer otomatis untuk mencegah penawaran di detik terakhir yang mempengaruhi hasil lelang. Sebelum penawaran, peserta lelang diwajibkan menghubungkan kartu pembayaran dan alamat pengiriman guna mengurangi risiko pemenang lelang yang tidak menuntaskan pembayaran.

Hasilnya terlihat dalam waktu singkat. Carousell Live yang diluncurkan di Singapura kemudian diperluas ke Hong Kong dan Malaysia, mengalami peningkatan gross merchandise value (GMV) 2,5 kali lipat dengan jumlah penonton mingguan naik dua kali lipat dalam tiga bulan pertama. Dalam lima bulan sejak peluncuran, GMV dan jumlah bidder tumbuh sekitar enam kali lipat, jumlah penonton empat kali lipat, dan jumlah live show naik sekitar 13 kali lipat. Jumlah penjual yang melakukan live setiap bulan juga tumbuh sekitar lima kali lipat.

“Real-time engagement menjadi bagian penting dari visi kami untuk membangun pengalaman marketplace yang semakin dinamis,” ujar Chief Business Officer Carousell Vishal Salunkhe. “Agora mendukung upaya kami untuk membantu pengguna saling terhubung, menemukan produk, dan mengambil keputusan dengan informasi yang lebih baik melalui interaksi yang semakin kaya,” katanya.

Bagi pelaku usaha dan developer, kombinasi angka pertumbuhan pasar dan standar teknis yang dipaparkan Agora menunjukkan bahwa video commerce kini menuntut infrastruktur real-time yang siap, bukan hanya fitur siaran satu arah. Perangkat pendukung seperti tablet hiburan dan laptop baru juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi tim produksi yang menjalankan sesi live setiap hari.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.