📑 Daftar Isi

BYD Seal U plug-in hybrid yang dethroned Volkswagen Tiguan di Eropa

Bos VW Desak Tarif Impor PHEV China Dinaikkan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Volkswagen Group, Oliver Blume, mendesak EU untuk menaikkan tarif impor PHEV China.
  • Desakan muncul setelah Volkswagen Tiguan PHEV tergeser dari posisi teratas oleh BYD Seal U, BYD Atto 2, dan Jaecoo 7.
  • Pada paruh pertama 2026, tiga PHEV terlaris di Eropa adalah buatan China.
  • Merek China kuasai 28,3% pasar PHEV Eropa, sementara Volkswagen PHK massal.
  • EU dikabarkan sedang pertimbangkan tarif tambahan untuk PHEV China.

Telset.id – CEO Volkswagen Group, Oliver Blume, secara terbuka mendesak Uni Eropa untuk segera menaikkan tarif impor terhadap mobil plug-in hybrid (PHEV) buatan China. Desakan ini muncul setelah Volkswagen Tiguan PHEV, yang sebelumnya menjadi pemimpin pasar, kini terlempar dari posisi tiga besar di Eropa. “We have no time to lose,” tegas Blume dalam panggilan pendapatan semester pertama perusahaan.

Langkah ini diambil Volkswagen di tengah tekanan finansial yang berat. Grup otomotif asal Jerman tersebut tidak sedang dalam periode yang cemerlang. Blume sendiri mengusulkan pemangkasan jumlah karyawan secara besar-besaran yang dapat memengaruhi 100.000 pekerja, naik dari 50.000 PHK yang telah disetujui sebelumnya. Dengan kondisi ini, Volkswagen menggunakan pengaruh industrinya untuk melobi regulator Eropa agar memperketat masuknya produk China.

Dominasi PHEV China di Eropa

Permintaan Blume bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dataforce yang dikutip oleh Automotive News, setelah paruh pertama tahun 2026, tiga PHEV terlaris di Eropa semuanya berasal dari China. BYD Seal U kini memimpin pasar, diikuti oleh BYD Atto 2 dan Jaecoo 7. Sementara itu, Volkswagen Tiguan yang berada di puncak tahun lalu kini melorot ke posisi keempat.

Fenomena ini tidak hanya menimpa model tradisional seperti Tiguan. Setelah enam bulan pertama 2026, merek-merek China telah menguasai 28,3% pasar PHEV Eropa, mendorong pabrikan lokal semakin terdesak ke bawah. Angka ini menunjukkan pergeseran kekuatan yang signifikan di segmen kendaraan elektrifikasi.

Desakan Blume datang setelah Uni Eropa sebelumnya memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi untuk mobil listrik murni (BEV) China. Blok tersebut berargumen bahwa beberapa perusahaan China telah menikmati insentif besar di dalam negeri, memungkinkan mereka menjual mobil di Eropa dengan harga jauh lebih murah dibandingkan pabrikan lokal. Saat ini, BEV buatan China bisa dikenakan tarif hingga 35% di atas bea masuk standar 10%, dan PHEV diprediksi menjadi target berikutnya.

Ketidakseimbangan Regulasi

Dengan akan berlakunya aturan emisi yang lebih ketat, pabrikan Eropa mengandalkan PHEV untuk memenuhi persyaratan tersebut. Namun, Blume berargumen bahwa lapangan permainan saat ini tidak seimbang. “Regulasi untuk BEV sudah berjalan. Di sana, kami kompetitif dalam hal harga. Yang tidak berjalan adalah untuk plug-in hybrid,” ujar Blume.

Volkswagen dan pemain lokal lainnya kemungkinan besar akan mendapatkan apa yang mereka minta. Menurut laporan Handelsblatt, Uni Eropa sedang mempertimbangkan tarif tambahan untuk PHEV China, meskipun belum jelas kapan dan seberapa besar dampaknya. Secara keseluruhan, jelas bahwa merek China datang untuk menang. Mereka berhasil menggandakan penjualan di Eropa dalam satu tahun, mencapai hampir 686.000 pengiriman dan menguasai 9,5% dari seluruh pasar mobil di kawasan tersebut.

Langkah Volkswagen ini menunjukkan bagaimana raksasa otomotif Eropa mulai menggunakan kekuatan politik mereka untuk membendung laju kompetitor China. Dengan pangsa pasar yang terus tergerus, masa depan persaingan PHEV di Eropa akan sangat bergantung pada keputusan tarif yang diambil oleh Uni Eropa dalam waktu dekat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.