Telset.id – BYD Great Seagull resmi bersiap mengaspal sebagai generasi kedua EV termurah milik BYD, dengan perubahan besar yang jauh melampaui ekspektasi. Mobil listrik hatchback ini dijadwalkan meluncur di Tiongkok pada akhir 2026. Perubahan ini bukan sekadar facelift, melainkan perombakan total pada dimensi, tenaga, hingga arsitektur penggeraknya.
Di pasar global, mobil ini dikenal dengan beberapa nama berbeda. Di Eropa dan Inggris, ia dijual sebagai Dolphin Surf, sementara di sejumlah pasar lain menggunakan nama Dolphin Mini. Di Tiongkok, harga awalnya hanya 69.900 yuan atau sekitar US$10.000, menjadikannya salah satu mobil listrik paling terjangkau di dunia.
Sebagai pembanding, EV paling murah di Amerika Serikat saat ini adalah Hyundai Venue 2026 yang dibanderol sedikit di atas US$20.000. Bahkan di Eropa, Dolphin Surf versi saat ini mulai dari €22.900. Artinya, jarak harga antara Seagull dan kompetitornya masih sangat lebar.
Kendati murah, performa penjualannya tidak bisa diremehkan. Sepanjang paruh pertama 2026, Seagull bersama Dolphin Surf dan Dolphin Mini menempati posisi keenam EV terlaris di dunia. BYD tercatat menjual lebih dari 152.000 unit hingga Juni 2026 berdasarkan data Cleantechnica.
Dimensi Membengkak, Ruang Kabin Lebih Lega
Perubahan paling terasa ada pada ukuran bodi. Dari dokumen regulasi Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok (MIIT) yang muncul Agustus lalu, Great Seagull memiliki panjang 4.205 mm, lebar 1.810 mm, dan tinggi 1.570 mm, dengan sumbu roda 2.650 mm. Dibandingkan model saat ini yang hanya 3.780 mm, generasi kedua ini lebih panjang 425 mm dengan sumbu roda bertambah 150 mm.
Penambahan dimensi ini menjawab salah satu kelemahan Seagull generasi pertama, yakni ruang kabin yang dinilai sempit untuk empat orang dewasa. Kini kabinnya diklaim mampu menampung lima penumpang. Soal ruang, perubahan ini sejalan dengan Bocoran Spesifikasinya yang sebelumnya juga menyoroti pembesaran bodi sebagai strategi utama BYD.
Zhang Zhuo, General Manager lini Ocean BYD, telah membocorkan gambar resmi pertama Great Seagull pekan lalu melalui serangkaian sketsa desain. Salah satu keterangan interior yang diterjemahkan ke bahasa Inggris berbunyi “Brand new layout” dan “Space size expands together”, menegaskan fokus pada tata letak baru dan ruang yang lebih luas.
Motor Pindah ke Belakang, Tenaga Naik Dua Kali Lipat
Perubahan teknis paling signifikan adalah pemindahan motor listrik dari depan ke belakang. Model lama menggunakan motor 55 kW atau setara 73-75 hp di depan, sementara generasi baru mengusung motor 95 kW atau 127 hp di belakang. Artinya, Great Seagull kini mengadopsi penggerak roda belakang.
Konsekuensinya, muncul ruang penyimpanan baru di depan alias frunk yang sebelumnya tidak ada sama sekali. Menurut laporan Autohome, ruang tersebut tergolong cukup luas. Kaki-kaki juga diperbarui dengan suspensi multi-link independen di belakang, menggantikan torsion beam pada model lama, plus ban 205 mm di velg 16 inci untuk stance yang lebih lebar.
Dari sisi baterai, Great Seagull memakai baterai lithium iron phosphate (LFP) 800 volt dengan teknologi Flash Charging BYD. Tersedia dua pilihan kapasitas, yaitu 30 kWh dan 39,2 kWh. BYD mengklaim pengisian hingga 70 persen bisa dicapai dalam lima menit, sementara pengisian 97 persen memakan waktu sembilan menit.
Untuk jarak tempuh, versi baterai dasar menawarkan range 320 km (199 mil) dalam standar CLTC, sedangkan versi jarak jauh mencapai 420 km (260 mil). Jika dikonversi ke siklus EPA, angkanya setara sekitar 140 mil dan 183 mil. Perlu dicatat, sejumlah laporan lokal menyebut varian berharga lebih tinggi mungkin baru mengadopsi Blade LFP Batteries 2.0, jadi keterangan soal teknologi ini masih beredar berbeda-beda.
Baca Juga:
Pada sisi teknologi, Great Seagull akan tersedia dengan sistem bantuan mengemudi canggih berbasis LiDAR. Gambar mata-mata sebelumnya memperlihatkan model ini tengah diuji di jalan raya dengan LiDAR terpasang di atap, mengindikasikan kemungkinan hadirnya sistem God’s Eye B milik BYD. Langkah ini menempatkan mobil sekelas entry-level pada level fitur yang biasanya hanya ada di segmen premium.
Interiornya mengadopsi desain baru BYD dengan layar infotainment tengah berukuran lebih besar, setir dua palang, dan konsol tengah yang didesain ulang untuk menciptakan ruang lebih lapang. Menariknya, sketsa dan gambar mata-mata yang beredar tidak menunjukkan adanya klaster instrumen di belakang setir. Sebagai gantinya, ada tambahan baris tombol fisik di bawah layar infotainment.
Soal harga, belum ada angka resmi yang dirilis BYD. Namun pasar memperkirakan Great Seagull akan berusaha maksimal menarik pembeli di segmen bawah US$15.000 di Tiongkok, wilayah tempat performa penjualannya belakangan ini dinilai biasa saja. Untuk pasar Eropa, belum jelas apakah versi baru ini akan dijual di sana, mengingat BYD saat ini memasarkan versi modifikasi dari model spesifikasi Tiongkok untuk memenuhi regulasi keselamatan setempat.
Jika versi baru Dolphin Surf benar-benar hadir di Eropa, harganya diperkirakan mulai sekitar €30.000 atau US$35.000, naik dari €22.900 untuk model saat ini. Perlu dicatat, angka ini masih sebatas perkiraan dan bukan konfirmasi resmi. Ketidakpastian semacam ini bukan hal asing di industri teknologi, seperti yang terlihat pada Strategi Chip yang berubah demi mengejar momentum pasar.
Yang jelas, perombakan Great Seagull menunjukkan BYD tidak lagi sekadar bersaing di harga. Dengan bodi lebih besar, tenaga dua kali lipat, penggerak roda belakang, frunk, dan pengisian super cepat, BYD sedang menaikkan standar segmen entry-level EV global. Bagi pasar yang selama ini terbiasa dengan kompromi di kelas harga murah, perubahan ini menandai pergeseran nyata dalam lanskap mobil listrik terjangkau.





Komentar
Belum ada komentar.