Telset.id – BYD mengklaim bahwa teknologi bantuan pengemudi (driver-assistance) aktifnya mampu menekan angka kecelakaan serius hingga lebih dari 80 persen. Klaim tersebut didasarkan pada data nyata yang diungkapkan dalam konferensi tahunan Intelligent Connected Vehicle Technology di Shanghai.
Dalam presentasinya, BYD memaparkan bahwa kendaraan yang dilengkapi sistem mengemudi cerdasnya hanya mengalami seperenam dari jumlah kecelakaan parah yang dilaporkan oleh pengemudi manusia murni. Metrik yang digunakan adalah frekuensi pengembangan airbag setiap 10 juta kilometer.
Yang Dongsheng, kepala Automotive New Technology Research Institute BYD, mengungkapkan bahwa perusahaan secara agresif memperluas perangkat lunak mengemudi cerdasnya pada awal tahun 2025. Sistem bantuan mengemudi Level 2 kini menjadi fitur standar di hampir seluruh mobil listrik penumpang yang diproduksi BYD.
Lebih dari 3 Juta Kendaraan Gunakan Sistem Ini
Teknologi tersebut telah berjalan di hampir 3 juta kendaraan secara global, mencakup lebih dari 60 model berbeda. Angka ini menunjukkan adopsi massal yang belum pernah terjadi sebelumnya di industri otomotif listrik.
Data dari perusahaan menunjukkan bahwa fitur bantuan navigasi (navigation-assisted driving) memiliki tingkat aktivasi lebih dari 50 persen. Sementara itu, bantuan parkir (parking assistance) bahkan lebih populer, dengan pengguna mengaktifkannya untuk 86 persen dari upaya parkir mereka.
Sistem parkir ini secara praktis menghilangkan kecelakaan kecepatan rendah, mengurangi lecet bodi dan benturan kecil hingga sekitar seperlima puluh dari tingkat tradisional. Itu berarti penurunan sebesar 98 persen.
Arsitektur Xuanji: Otak Tunggal BYD
Sebagian besar kinerja ini berasal dari apa yang disebut BYD sebagai Xuanji Architecture. Alih-alih menjalankan komputer terpisah untuk hiburan, kontrol motor, dan keselamatan, platform ini menyatukan otak elektronik dan perangkat keras elektrifikasi ke dalam satu sistem tunggal.
Mobil ini menggunakan model AI fisik (physical AI models) onboard untuk memprediksi potensi bahaya di jalan dan menghitung manuver defensif sebelum manusia bisa bereaksi. Untuk mendeteksi objek yang mungkin terlewatkan oleh kamera biasa, kendaraan menggabungkan perangkat lunak visual dengan sensor LiDAR yang dipasang di atap.
Pengaturan ini memetakan rintangan berongga atau menggantung, yang sangat berguna selama skenario parkir yang sempit. Di sisi perangkat lunak, BYD memasukkan 190 juta kilometer data mengemudi harian ke dalam simulator cloud, memungkinkan para insinyur memperbarui algoritma kendaraan setiap tiga hari.
Tim teknik BYD juga fokus pada kondisi cuaca ekstrem dan kondisi jalan berbahaya. Selama ban pecah kecepatan tinggi, hujan, salju, atau jalan berlumpur, platform terintegrasi mengoordinasikan motor listrik dan sasis bersama-sama. Jika ban pecah, sistem dapat menstabilkan kendaraan hanya dalam 200 milidetik.
Tim validasi BYD telah berhasil menguji stabilitas pecah ban ini pada kecepatan melebihi 200 km/jam di lapangan uji fisik khusus.
Strategi Mengemudi Cerdas dan Produk Baru
Kabar ini muncul tepat sebelum acara strategi mengemudi cerdas khusus pada 28 Mei mendatang, di mana analis industri memperkirakan BYD akan mengungkapkan pembaruan pada sistem keselamatan “God’s Eye”. Ekosistem ini mencakup program bantuan parkir yang pertama kali diluncurkan pada Juli 2025.
Pembaruan perangkat lunak ini hadir bersamaan dengan sejumlah peluncuran perangkat keras baru. BYD juga baru saja merilis BYD Sealion 08 yang bocor, serta model-model lain seperti BYD Song Ultra yang terungkap dengan spesifikasi mengesankan.
BYD Atto 3 yang diperbarui telah diluncurkan di China, dengan kemampuan “flash charging” yang lebih cepat dan tambahan jarak tempuh 120 km di bawah siklus uji China Light-Duty Vehicle Test Cycle (CLTC). Perusahaan berencana meluncurkan sedan Seal 08 baru sebelum akhir kuartal kedua, dengan kemudi roda belakang dan teknologi pengisian cepat yang serupa.
Sementara itu, penjualan global BYD menunjukkan hasil yang beragam. Perusahaan mengirimkan 314.100 kendaraan elektrifikasi di seluruh dunia pada April 2026. Angka itu meningkat 6,2 persen dibandingkan Maret 2026 yang mencatat 295.639 pengiriman, tetapi turun 15,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
BYD juga tengah melakukan negosiasi untuk mengakuisisi pabrik mobil Eropa yang kosong guna meningkatkan produksi lokal. Langkah ini menunjukkan ambisi global perusahaan asal China tersebut untuk memperkuat posisinya di pasar otomotif dunia.
Dengan klaim penurunan angka kecelakaan yang signifikan, BYD berharap dapat meyakinkan konsumen global bahwa teknologi bantuan pengemudi tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga secara fundamental meningkatkan keselamatan berkendara.
Data yang disajikan BYD ini menjadi bukti nyata pertama dari skala besar tentang bagaimana perangkat lunak mempengaruhi keselamatan berkendara sehari-hari. Industri otomotif global kini menantikan detail lebih lanjut tentang sistem “God’s Eye” yang akan diumumkan pada akhir bulan ini.
Bagi konsumen yang tertarik dengan Denza Z Supercar BYD atau model lainnya, klaim keselamatan ini menjadi pertimbangan penting dalam memilih kendaraan listrik masa depan.
BYD menunjukkan bahwa masa depan mobilitas tidak hanya tentang elektrifikasi, tetapi juga tentang kecerdasan buatan yang membuat jalan raya lebih aman bagi semua pengguna.





Komentar
Belum ada komentar.