📑 Daftar Isi

Ladang panel surya skala besar di China dengan teknologi penyimpanan molten salt

China Resmi Lampaui Batu Bara dengan Kapasitas Surya Terbesar

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • China mencatat kapasitas surya terpasang 1.288 GW, melampaui batu bara 1.285 GW pada 2026
  • Surya kini menguasai 31,5% total kapasitas pembangkit China, batu bara turun ke posisi kedua
  • Produksi aktual masih didominasi batu bara 49,7%, sementara angin-surya 24,6% di H1 2026
  • Penghapusan feed-in tariff memperlambat instalasi surya tahun ini
  • Total penggunaan batu bara naik karena permintaan listrik dan harga gas melonjak
  • Kontrak jangka panjang batu bara dan curtailment jadi tantangan utama transisi energi

Telset.id – China, pasar listrik terbesar di dunia, secara resmi memiliki kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya yang lebih besar dibandingkan pembangkit batu bara untuk pertama kalinya dalam sejarah. Media pemerintah China mengumumkan pekan ini bahwa total kapasitas surya terpasang negara tersebut kini mencapai 1.288 gigawatt (GW), sedikit melampaui kapasitas batu bara yang tercatat sebesar 1.285 GW.

Dengan pencapaian ini, energi surya kini menguasai 31,5% dari total kapasitas pembangkit listrik China, menjadikannya jenis kapasitas pembangkit terbesar di negara tersebut. Sementara itu, batu bara turun ke posisi kedua. Kabar ini datang di saat yang tepat, bertepatan dengan melonjaknya penjualan mobil listrik (EV) di China, melonjaknya harga energi global, serta krisis iklim yang terus mengancam bumi.

Kapasitas vs Produksi: Surya Belum Menyalip Batu Bara

Meski kapasitas terpasang surya telah melampaui batu bara, hal ini tidak berarti China sudah lebih banyak menggunakan tenaga surya dibandingkan tenaga batu bara. Semua pembangkit listrik hanya menghasilkan sebagian dari kapasitas namaplate-nya (kapasitas maksimum) masing-masing. Beberapa metode pembangkit biasanya beroperasi mendekati kapasitas penuhnya sepanjang waktu, sementara metode lainnya sering kali berada di bawah kapasitas tersebut.

Dalam kasus tenaga surya, karena matahari tidak selalu bersinar, faktor kapasitas/utilisasi biasanya berada di kisaran 25%. Sementara untuk batu bara, faktor kapasitasnya sering berada di kisaran 50%, meskipun semua ini bervariasi tergantung pada karakteristik masing-masing jaringan listrik. Dengan demikian, China masih lebih banyak menggunakan batu bara untuk pembangkit listrik dibandingkan surya, namun angka tersebut terus menurun.

Ladang surya China dengan teknologi molten salt

Pada paruh pertama tahun 2026, kombinasi angin dan surya menyumbang 24,6% dari pembangkit listrik China, sementara batu bara menyumbang 49,7%. Ini menandai pertama kalinya batu bara menyumbang kurang dari setengah total pembangkit listrik China.

Kapasitas surya di China memang tumbuh dengan sangat pesat, seiring negara tersebut membangun ladang surya masif dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, instalasi surya tahun ini melambat dibandingkan tahun lalu. Penyebabnya, China menghapus tarif feed-in yang selama ini menjamin harga bagi generator surya, memaksa mereka untuk bersaing di pasar terbuka. Meski demikian, karena biaya pembangunan surya lebih murah dibandingkan kebanyakan bentuk pembangkit listrik lainnya, instalasi tetap berlanjut.

Penurunan Pangsa Batu Bara dan Tantangan Jaringan Listrik

Tahun lalu, penggunaan batu bara di China mengalami penurunan sementara justru meningkat di Amerika Serikat. Ini menjadi berita besar karena ekonomi China yang berkembang pesat ternyata tetap mampu tumbuh tanpa perlu memperluas pembangkit batu bara. Namun meskipun pangsa batu bara China turun tahun ini, total penggunaan batu bara secara keseluruhan kembali meningkat sepanjang tahun ini. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan listrik serta menurunnya penggunaan gas fosil untuk pembangkit listrik seiring melonjaknya harga gas.

Faktor lain yang berkontribusi adalah kontrak jangka panjang pembangkit batu bara yang membuat pembangkit listrik berbahan batu bara yang mencemari lingkungan tetap beroperasi, memasok listrik ke jaringan, dan memaksa pembatasan (curtailment) energi terbarukan bahkan ketika energi tersebut tersedia. China terus membangun pembangkit batu bara baru meskipun demikian, namun baterai yang terhubung ke jaringan listrik (baik kimia maupun termal) dapat membantu menghindari masalah ini.

Pertumbuhan surya yang masif ini menjadi sangat penting saat ini, karena China sebagai pasar otomotif terbesar di dunia tengah melakukan elektrifikasi dengan cepat. Penjualan EV murni meningkat, sementara penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal menurun. Jelas lebih baik mengisi bahan bakar mobil-mobil tersebut dengan energi terbarukan dibandingkan dengan tenaga fosil, terutama karena harga minyak—sumber energi fosil paling umum untuk kendaraan—saat ini melonjak di seluruh dunia.

Tentu saja ada pula persoalan perubahan iklim. Jika pasar listrik terbesar di dunia yang juga merupakan penghasil emisi CO2 terbesar saat ini mampu membersihkan sektor energinya, hal tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap upaya penanggulangan perubahan iklim global. China tampaknya bergerak ke arah tersebut, meskipun seperti hampir semua tempat lain di dunia, gerakan ini perlu dipercepat.

Perkembangan energi surya China ini tentu menjadi sorotan bagi industri energi global. Negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia ini membuktikan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Namun, perlu dicatat bahwa dominasi kapasitas surya ini masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama dalam hal penyimpanan energi dan modernisasi jaringan listrik untuk mengakomodasi sifat intermiten dari energi surya.

Dengan kapasitas surya yang kini menjadi yang terbesar di China, negara tersebut menunjukkan komitmennya terhadap energi terbarukan. Meskipun masih ada tantangan dalam hal produksi aktual dan integrasi jaringan, arah kebijakan energi China jelas menuju transisi yang lebih hijau. Hal ini menjadi sinyal positif bagi upaya global mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memerangi perubahan iklim.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.