Telset.id – China resmi mengungkap rincian persyaratan implementasi standar nasional GB/T 46991.1-2025 yang mengatur tingkat akurasi dan daya tahan sistem tampilan kesehatan baterai kendaraan listrik penumpang ringan. Standar ini menetapkan batas penyimpangan antara status energi baterai yang ditampilkan pada panel instrumen dengan hasil pengukuran sebenarnya tidak boleh melebihi lima persen.
Laman Carnewschina, Senin (3/8) waktu setempat melaporkan, dokumen tersebut juga menetapkan acuan daya tahan baterai berdasarkan usia kendaraan dan jarak tempuh. Standar ini dikembangkan di bawah arahan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) serta Administrasi Standardisasi China (SAC), dengan masukan teknis dari tim ahli penyusun yang dipimpin Yu Yang.
Standar ini berlaku untuk kendaraan listrik penumpang ringan dan diklasifikasikan sebagai standar nasional yang bersifat rekomendasi, bukan regulasi keselamatan yang wajib dipatuhi. Meski demikian, kehadirannya menjadi acuan penting bagi industri otomotif dalam mengevaluasi kondisi baterai kendaraan listrik.
## Definisi SOCE dan Batas Akurasi
Salah satu ketentuan utama dalam standar ini mengatur akurasi informasi kesehatan baterai yang ditampilkan kepada pengemudi. Dokumen tersebut mendefinisikan State of Available Energy (SOCE) sebagai perbandingan antara energi yang masih dapat digunakan pada baterai saat ini dengan energi yang tersedia pada baterai kendaraan saat masih baru.
Berbeda dengan State of Charge (SOC) yang menunjukkan sisa energi baterai saat kendaraan digunakan, SOCE dirancang untuk mencerminkan kemampuan baterai dalam mempertahankan kapasitasnya dalam jangka panjang. Sesuai ketentuan, penyimpangan relatif antara nilai SOCE yang ditampilkan kendaraan dan hasil pengukuran fisik tidak boleh melebihi lima persen.
Artinya, nilai yang ditampilkan pada kendaraan tidak boleh berbeda lebih dari lima persen dibandingkan hasil pengukuran sebenarnya. Ketentuan ini menjadi acuan dalam membandingkan informasi kesehatan baterai yang ditampilkan dengan kapasitas baterai yang terukur.
## Aturan Virtual Mileage
GB/T 46991.1-2025 juga mengatur konsumsi energi baterai yang terjadi di luar kondisi berkendara normal. Standar ini mewajibkan konsumsi daya saat kendaraan tidak digunakan untuk berkendara, termasuk energi yang dipakai oleh sistem kendaraan ketika parkir atau saat mengoperasikan berbagai aksesori, untuk dikonversi menjadi Virtual Mileage.
Virtual Mileage mengubah konsumsi energi di luar aktivitas berkendara menjadi jarak tempuh ekuivalen berdasarkan tingkat konsumsi energi kendaraan. Nilai yang ditampilkan harus memiliki penyimpangan relatif maksimal tiga persen dibandingkan hasil pengukuran.
Ringkasan dokumen yang dipublikasikan kepada publik tidak menjelaskan secara rinci kondisi pengujian untuk setiap skenario, termasuk penggunaan aksesori dengan beban berbeda atau konsumsi daya saat kendaraan dalam kondisi diam.
Baca Juga:
## Target Daya Tahan Baterai
Dokumen tersebut menetapkan tingkat minimum retensi SOCE untuk kendaraan listrik penumpang ringan berdasarkan usia dan akumulasi jarak tempuh kendaraan sebagai berikut:
– Usia kendaraan 5 tahun dengan jarak tempuh 100.000 km: persyaratan minimum SOCE ≥82%
– Usia kendaraan 8 tahun dengan jarak tempuh 160.000 km: persyaratan minimum SOCE ≥75%
– Usia kendaraan 10 tahun dengan jarak tempuh 200.000 km: persyaratan minimum SOCE ≥70%
Angka-angka tersebut menunjukkan sisa energi yang masih tersedia dibandingkan kapasitas energi awal saat kendaraan keluar dari pabrik. Sebagai contoh, baterai dengan kapasitas energi awal 100 kWh harus masih memiliki sedikitnya 82 kWh setelah digunakan selama lima tahun dan menempuh jarak 100.000 kilometer sesuai persyaratan evaluasi.
Informasi yang dipublikasikan hanya berlaku untuk kendaraan penumpang ringan. Dokumen tersebut tidak menjelaskan apakah ambang batas serupa juga akan diterapkan pada kendaraan komersial, bus, truk, atau kendaraan roda dua.
## Konteks Regulasi
Pengungkapan standar ini dilakukan di tengah upaya China yang terus mengembangkan berbagai standar terkait kualitas baterai kendaraan listrik, daur ulang, keselamatan, dan pengelolaan siklus hidup baterai. GB/T 46991.1-2025 berfokus pada pengukuran kesehatan baterai, akurasi tampilan, dan evaluasi daya tahan.
Standar ini terpisah dari standar keselamatan wajib seperti GB 38031-2025 yang mengatur persyaratan keselamatan baterai, termasuk ketentuan mengenai thermal runaway. Sebagai standar nasional yang bersifat rekomendasi, GB/T 46991.1-2025 berfokus pada kriteria evaluasi dan tidak menetapkan sanksi administratif, kewajiban penarikan kembali kendaraan (recall), maupun tindakan penegakan hukum yang dipublikasikan bagi kendaraan yang melebihi batas penyimpangan yang ditentukan.
Kondisi baterai kini menjadi salah satu faktor penting dalam pembahasan garansi, penilaian kendaraan listrik bekas, dan pertimbangan kepemilikan jangka panjang. Kekhawatiran mengenai pengaruh kebiasaan pengisian daya, termasuk penggunaan fast charging secara rutin, terhadap penuaan baterai juga meningkatkan perhatian terhadap pentingnya penilaian kondisi baterai yang akurat.
Perbedaan antara informasi kondisi baterai yang ditampilkan kendaraan dengan kondisi baterai sebenarnya turut menunjukkan perlunya metode pengukuran dan evaluasi yang konsisten. Inovasi baterai juga terus berkembang, seperti yang terlihat pada teknologi baterai terbaru yang mulai diadopsi berbagai produsen.
## Dampak terhadap Pasar Kendaraan Listrik Bekas
Kondisi baterai merupakan salah satu faktor dalam penilaian kendaraan listrik bekas, pembahasan garansi, dan evaluasi siklus hidup kendaraan. Dengan menetapkan metode pengukuran akurasi SOCE, perhitungan Virtual Mileage, dan tolok ukur daya tahan baterai, GB/T 46991.1-2025 menyediakan acuan bersama untuk mengevaluasi kondisi baterai.
Dampak standar ini terhadap harga kendaraan listrik bekas, sengketa garansi, maupun praktik penilaian oleh konsumen akan bergantung pada bagaimana produsen otomotif, lembaga pengujian, dan pelaku pasar menerapkan ketentuan tersebut dalam jangka panjang.
Kehadiran standar ini menjadi langkah maju dalam menciptakan transparansi informasi kesehatan baterai bagi konsumen. Dengan adanya acuan pengukuran yang konsisten, konsumen dapat lebih mudah membandingkan kondisi baterai antar kendaraan listrik, termasuk saat membeli kendaraan bekas. Hal ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap daya tahan baterai pada berbagai perangkat elektronik.
Standar ini juga berpotensi mendorong produsen untuk lebih berhati-hati dalam menampilkan informasi kesehatan baterai kepada pengguna. Dengan batas penyimpangan maksimal lima persen untuk SOCE dan tiga persen untuk Virtual Mileage, produsen harus memastikan sistem tampilan mereka akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi industri otomotif global, standar China ini bisa menjadi referensi bagi negara lain dalam mengembangkan regulasi serupa. Mengingat China merupakan pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, kebijakan yang diterapkan di sana sering kali menjadi acuan bagi pasar lain.
Namun perlu dicatat, karena sifatnya yang rekomendasi, standar ini tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Produsen yang tidak mematuhi ketentuan ini tidak akan menghadapi sanksi administratif atau kewajiban recall. Efektivitas standar ini akan sangat bergantung pada kesediaan pelaku industri untuk mengadopsinya secara sukarela.





Komentar
Belum ada komentar.