Telset.id – GAC Aion resmi mengumumkan bahwa model terbarunya, Ray 7, akan masuk pasar pada 12 November 2026. Kendaraan ini memulai masa pra-penjualan sejak 17 Oktober dan tersedia dalam lima konfigurasi dengan rentang harga pra-jual 128.800 yuan (19.200 USD) hingga 158.800 yuan (23.700 USD). Pengumuman ini hadir bersama capaian penjualan GAC Aion yang melaporkan 42.357 unit terjual pada Oktober 2026, naik 56,79% secara year-over-year dan tumbuh 19,33% month-over-month.
Peluncuran Ray 7 menjadi sinyal ambisi GAC Aion memperluas lini sedan listriknya di segmen yang makin padat. Angka penjualan Oktober 2026 memberi brand ini modal untuk bersaing, meski tantangan di pasar sedan listrik Tiongkok tetap berat. Sebelumnya, gaung model ini sudah terendus lewat pemberitaan soal GAC Aion Ray 7 yang menantang Xiaomi SU7 dengan teknologi Huawei.
Desain Fastback dan Aerodinamika 0,22 Cd
Ray 7 mengusung bahasa desain baru dengan siluet fastback dinamis. Bagian depan memakai desain “Quantum Star Ring” yang ditandai light bar selebar bodi dan logo brand yang menyala. Bumper bawah dilengkapi air intake besar, dipadukan dengan saluran udara samping. Berkat paket desain itu, mobil ini mencapai koefisien hambatan 0,22.
Dimensinya tercatat 4.960 mm panjang, 1.900 mm lebar, dan 1.455 mm tinggi, dengan wheelbase 2.920 mm. Profil samping dipertegas door handle semi-hidden, roda dual five-spoke, dan kaliper rem kuning yang mencolok. Bagian belakang mencerminkan bagian depan lewat lampu belakang selebar bodi dan branding “AION”.

Untuk konteks pasar, GAC Aion bukan nama baru di segmen listrik Tanah Air. Model seperti AION UT sudah lebih dulu mencatatkan diri di daftar penjualan. Namun rekam jejak itu juga diwarnai catatan kelam, seperti kasus GAC Aion S yang alami baterai bengkak dan bocor massal.
Baca Juga:
Teknologi Huawei hingga Jangkauan 702 Km
Ray 7 dibekali sistem bantuan mengemudi cerdas dengan 27 sensor kelas otomotif, termasuk LiDAR Huawei 192-line dan tiga radar gelombang milimeter 4D. Sistem ini ditenagai model turunan teknologi Robotaxi level L4 milik WeRide, dirancang untuk menavigasi lingkungan perkotaan kompleks sekaligus mendukung fitur seperti parkir otomatis dan navigasi gerbang.
Di kabin, tersedia klaster instrumen digital dan layar sentuh tengah mengambang berukuran besar. Interior mencakup setir tiga palang multifungsi, jok sport terintegrasi, serta fitur seperti pengisian ponsel nirkabel dan dua cup holder.

Soal dapur pacu, Ray 7 memakai powertrain “Super Electric” yang menggabungkan sistem penggerak listrik multi-in-one Huawei DriveONE dengan modul manajemen termal 28-in-1 milik GAC. Efisiensi itu menghasilkan konsumsi daya versi CLTC hanya 9,7 kWh per 100 km dan jangkauan CLTC total 702 km (sekitar 569 km WLTP).
Ray 7 tersedia dalam dua pilihan jangkauan. Versi dengan jangkauan CLTC 530 km (sekitar 429 km WLTP) memakai sel Inpow milik GAC, sedangkan versi 702 km (sekitar 569 km WLTP) menggunakan sel CATL. Keduanya merupakan baterai lithium iron phosphate.

Menarik dicatat, nama “Aion” belakangan juga muncul di ranah teknologi yang sama sekali berbeda. Microsoft dikabarkan masih membangun OS berbasis AI lewat Project Aion, sementara di sektor kripto ada AiOnX yang mengakuisisi 77% saham perusahaan tambang kripto AS. Kesamaan nama itu tidak berkaitan dengan GAC Aion, tetapi menunjukkan betapa populernya label tersebut di berbagai industri.
Dengan harga pra-jual 128.800 hingga 158.800 yuan, Ray 7 diposisikan sebagai sedan listrik yang menawarkan teknologi Huawei dan jangkauan 702 km. Peluncuran resmi 12 November 2026 akan menjadi ujian pertama apakah klaim efisiensi 9,7 kWh per 100 km dan performa penjualan GAC Aion yang tumbuh 56,79% bisa berlanjut di segmen sedan.





Komentar
Belum ada komentar.