📑 Daftar Isi

Ilustrasi krisis baterai GAC Aion S yang mengalami bengkak dan bocor

GAC Aion S Alami Baterai Bengkak dan Bocor Massal

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • GAC Aion S alami kegagalan baterai massal termasuk bengkak, bocor, dan pecah
  • 182 pengaduan dalam setengah bulan dengan tingkat kegagalan 4,7% dari 213.000 unit terdampak
  • Masalah berasal dari sel baterai LFP 177Ah yang dipasok CALB
  • GAC Aion perpanjang garansi baterai jadi 8 tahun/300.000 km dan tawarkan inspeksi gratis
  • Potensi biaya krisis diperkirakan sangat besar, melebihi sengketa sebelumnya senilai 2,3 miliar yuan
  • CALB dan GAC hadapi tekanan finansial besar akibat krisis ini

Telset.id – Ribuan unit GAC Aion S dilaporkan mengalami kegagalan baterai massal, termasuk bengkak, bocor, hingga pecah, yang menyebabkan mobil mati saat dikendarai. Krisis kualitas ini terdeteksi pada armada dengan jarak tempuh 150.000–300.000 km, memicu 182 pengaduan dalam setengah bulan dan tingkat kegagalan mencapai 4,7% dari total 213.000 unit terdampak.

Berdasarkan laporan Jiemian News, masalah ini berasal dari satu komponen spesifik: sel baterai lithium iron phosphate (LFP) 177Ah yang dipasok oleh CALB. Data dari platform pengaduan konsumen, termasuk 12365auto dan Black Cat, mencatat lonjakan keluhan dalam waktu singkat. Temuan ini menunjukkan bahwa cacat tersebut bukanlah insiden acak, melainkan indikasi awal dari kegagalan sistemik pada komponen baterai kendaraan listrik tersebut.

Menanggapi tekanan publik yang meningkat setelah investigasi oleh media nasional China, Xinhua News Agency, GAC Aion dan CALB akhirnya mengeluarkan permintaan maaf resmi serta rencana perbaikan pada 18 Juli 2026. GAC Aion memperpanjang garansi baterai untuk kendaraan terdampak menjadi 8 tahun atau 300.000 km, menjanjikan inspeksi dan penggantian gratis, serta memberikan subsidi untuk kendaraan yang memerlukan perbaikan lebih dari lima hari. Sementara itu, CALB juga berkomitmen menyediakan layanan inspeksi dan perawatan gratis bagi pemilik yang terdampak.

Akar Masalah dan Dampak Finansial

Para analis industri yang dikutip Jiemian News menilai bahwa masalah ini bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan menunjukkan adanya cacat manufaktur sistemik. Potensi penyebabnya meliputi desain sistem elektrolit yang tidak tepat, presisi perakitan di bawah standar, dan kurangnya verifikasi uji penuaan yang ketat. Implikasi finansial dari krisis ini sangat besar. Meskipun GAC Aion dan CALB memilih program perpanjangan garansi dan perbaikan daripada penarikan kembali (recall) formal, skala masalah yang mempengaruhi lebih dari 213.000 kendaraan tetap menjadi beban keuangan yang signifikan.

Sebagai perbandingan, perselisihan baterai sebelumnya antara VREMT milik Geely dan Sunwoda menghasilkan penyelesaian sebesar 2,314 miliar yuan (sekitar 340 juta USD). Mengingat insiden saat ini melibatkan jumlah kendaraan yang jauh lebih besar, potensi biaya bisa melebihi angka tersebut. Hal ini memberikan tekanan luar biasa pada GAC dan CALB, terutama mengingat kinerja keuangan mereka baru-baru ini. Menurut laporan keuangan CALB, total laba mereka untuk tahun penuh 2025 adalah 2,095 miliar yuan (308 juta USD), sementara GAC baru-baru ini mengeluarkan peringatan laba untuk paruh pertama tahun ini, dengan perkiraan kerugian bersih sebesar 4 hingga 4,5 miliar yuan (588 hingga 662 juta USD).

Baca Juga:

CALB sendiri merupakan produsen baterai terbesar keempat berdasarkan volume pemasangan, dengan pangsa pasar 6,3% – setara dengan Gotion High-tech dan hanya tertinggal dari raksasa baterai seperti CATL dan BYD. Krisis ini berpotensi menggerus kepercayaan pasar terhadap kualitas baterai CALB dan produk GAC Aion secara keseluruhan.

Skala dampak yang melibatkan lebih dari 213.000 unit menjadikan insiden ini sebagai salah satu krisis kualitas terbesar di industri kendaraan listrik China. Dengan tingkat kegagalan 4,7%, angka ini jauh melampaui standar yang dapat diterima untuk komponen keselamatan kritis seperti baterai. Langkah perbaikan yang diambil kedua perusahaan, meskipun signifikan, belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan konsumen yang sempat terguncang.

Ke depannya, insiden ini menjadi pengingat keras bagi seluruh rantai pasok industri kendaraan listrik tentang pentingnya kontrol kualitas yang ketat, terutama pada komponen baterai yang merupakan jantung dari kendaraan listrik. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi baterai alternatif, Anda dapat membaca artikel tentang Sodium Battery China yang mendorong pivot hardware untuk mengurangi impor lithium.

GAC Aion dan CALB kini harus menghadapi tantangan berat untuk memulihkan reputasi mereka. Dengan kerugian finansial yang diperkirakan sangat besar, terutama bagi GAC yang sudah mengalami kerugian bersih, krisis ini bisa menjadi titik balik bagi strategi bisnis kedua perusahaan. Sementara itu, konsumen yang terdampak masih menunggu realisasi dari janji perbaikan dan kompensasi yang telah diumumkan. Industri juga akan mengawasi ketat apakah regulator China akan mengambil langkah lebih lanjut, mengingat insiden ini telah menarik perhatian media nasional.

Bagi yang tertarik dengan persaingan di segmen harga terjangkau, simak ulasan tentang Jetta M6, mobil listrik pertama Volkswagen di bawah Rp 300 juta yang baru saja debut.

Implikasi dari krisis ini tidak hanya dirasakan oleh GAC Aion dan CALB, tetapi juga oleh seluruh ekosistem kendaraan listrik China. Kepercayaan terhadap teknologi LFP, yang selama ini dianggap lebih aman dibandingkan NCM, kini mulai dipertanyakan. Insiden ini menunjukkan bahwa meskipun kimia baterai lebih stabil, kualitas manufaktur dan desain sistem tetap menjadi faktor penentu utama dalam keselamatan.

Dengan jumlah kendaraan terdampak yang sangat besar, proses perbaikan dan penggantian baterai diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan. Hal ini berpotensi mengganggu operasional pemilik kendaraan yang menggunakan GAC Aion S untuk keperluan bisnis, seperti layanan ride-hailing. Subsidi yang dijanjikan untuk kendaraan yang memerlukan perbaikan lebih dari lima hari mungkin tidak cukup untuk menutupi kerugian operasional yang dialami.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.