📑 Daftar Isi

Ilustrasi survei Electrek tentang harga bensin dan peralihan ke kendaraan listrik

Harga Bensin AS Tembus Rp118 Ribu, Anti-EV Tetap Tak Bergeming

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Electrek terhadap 2.800+ pembaca soal harga bensin pemicu peralihan ke EV
  • Hampir separuh responden yakin tak ada harga yang cukup untuk mengubah anti-EV
  • Harga bensin BP Ultimate 93 oktan di Chicago capai US$7,19 per galon (26 Sep 2026)
  • Faktor penentu: ekspektasi harga, biaya mobil baru, dan persepsi teknologi
  • Kemampuan produksi listrik sendiri jadi keunggulan EV yang sering diabaikan

Telset.id – Survei Electrek terhadap lebih dari 2.800 pembaca mengungkap temuan yang tidak biasa: hampir separuh responden menilai tidak ada harga bensin yang cukup tinggi untuk memaksa pengendara anti-EV beralih ke kendaraan listrik. Temuan ini muncul kembali ke permukaan setelah harga satu galon bensin BP Ultimate 93 oktan di Chicago menyentuh angka US$7,19 atau setara Rp118 ribu per galon pada 26 September 2026.

Angka tersebut bukan lagi skenario ekstrem yang jauh dari kenyataan. Pada April 2026, saat survei pertama kali dijalankan, harga US$7 per galon masih diposisikan sebagai pilihan tertinggi dan paling “di luar nalar” dalam daftar opsi survei. Kala itu, lebih dari separuh responden menyatakan bahwa pengendara Amerika tidak akan pernah mau beralih. Kini, ketika harga itu benar-benar terjadi, pertanyaan yang sama kembali diajukan.

Survei berlangsung selama tujuh hari dan mengumpulkan lebih dari 2.800 respons. Pertanyaan yang diajukan sederhana: seberapa mahal harga satu galon bensin atau diesel agar pengendara anti-EV paling keras kepala yang Anda kenal mau beralih? Hasilnya menunjukkan bahwa pembaca Electrek tidak menaruh banyak kepercayaan pada tetangga mereka yang masih setia pada mesin pembakaran internal, meski ada nuansa yang lebih rumit di baliknya.

Alasan Ekonomi dan Ekspektasi Harga

Temuan paling mengejutkan adalah hampir separuh responden meyakini tidak ada harga yang cukup tinggi untuk menjangkau sebagian pengendara. Mereka dianggap sudah terlalu dalam terikat pada kendaraan berbahan bakar fosil, bahkan ketika biaya bahan bakar melampaui US$10 per galon. Yang menarik, dasar argumen ini bukan teori, melainkan pengalaman nyata dari negara yang harga bensinnya sudah di atas US$11 per galon.

Salah satu pembaca, Jos Hoogerwaard, memaparkan hitungan dari Belanda. Harga E10 per liter saat ini adalah €2,56, dengan kurs 1,17 dolar AS per euro dan satu galon setara 3,78541 liter. Itu berarti harga bensin di Belanda mencapai US$11,34 per galon. Di sisi lain, harga listriknya sekitar US$0,30 per kWh, atau nyaris nol ketika diproduksi dengan panel surya. Dengan konsumsi sekitar 50 mil per galon pada plug-in hybrid atau 3,2 mil per kWh, ia membutuhkan sekitar 16 kWh untuk menyamai satu galon. Artinya biaya listrik sekitar US$4,8 dibanding US$11,34 untuk bensin.

Meski demikian, ia menyimpulkan bahwa titik balik di Eropa sudah terjadi sekitar lima tahun lalu, dan para pengendara tetap tidak beralih. Menurutnya, mereka tidak akan pernah pindah kecuali dipaksa oleh pemerintah.

Pembaca lain, Jacob Nelson, mengangkat alasan ekonomi yang lebih berkaitan dengan harga kendaraan baru ketimbang rasa sakit di pompa bensin. Ia mengaku menyukai EV, tetapi selama mobilnya yang sudah lunas masih berfungsi, ia akan terus menggunakannya. Bahkan jika biaya bahan bakarnya naik dari US$90 menjadi US$200 per bulan, tetap lebih murah mempertahankan mobil lama daripada membeli EV baru maupun bekas. Perhitungan baru berubah ketika mobilnya tidak lagi andal.

Pembaca bernama Erik menambahkan dimensi lain: peralihan tidak semata ditentukan oleh harga bensin yang tinggi, tetapi oleh keyakinan bahwa harga itu akan bertahan tinggi. Ia menilai lonjakan harga saat ini dianggap sementara, sementara mobil bisa bertahan hingga 20 tahun. Ia juga menyoroti bahwa tarif listrik naik jauh lebih cepat daripada harga bensin.

Argumen soal kenaikan biaya listrik ini mendapat sanggahan. Salah satu keunggulan terbesar listrik dibanding bahan bakar fosil adalah kemampuan memproduksinya sendiri. Keunggulan itu tidak hanya menjadi pelindung dari kenaikan tarif utilitas, tetapi juga bisa menyelamatkan pengguna ketika terjebak di luar jaringan listrik dalam waktu lama, seperti yang dialami seorang pengendara Tesla yang terdampar di gurun Atacama.

Jim Reilly dari GM Energy menggambarkan pengalaman serupa. Ia menyebut kehidupan dengan panel surya rumah, baterai rumah, dan EV sebagai “Energy Dominance”. Menurutnya, ia memiliki kilang dan sistem pengirimannya sendiri. Saat dunia bereaksi terhadap harga di pompa bensin, biayanya tetap datar. Ia lantas bertanya apakah solar dan EV dilihat sebagai pengeluaran, atau sebagai cara mengunci biaya energi untuk beberapa dekade ke depan.

Persepsi dan Jarak Teknologi

Komentar teratas dalam survei ini datang dari pembaca bernama neilw, yang disukai 39 orang. Ia mengaku sering ditanya soal berbagai EV yang dimilikinya. Dari tatapan mata orang-orang, ia melihat tidak ada kesadaran bahwa EV adalah hal praktis yang bisa mereka miliki. Kendaraan listrik dianggap seperti hobi aneh atau kebiasaan diet orang lain, sesuatu yang hanya untuk orang lain. Termasuk mereka yang mengeluh soal mahalnya biaya mengisi mobil boros bahan bakar.

Pola respons semacam ini sejalan dengan temuan survei perangkat keras yang menunjukkan bagaimana adopsi teknologi sering tertinggal dari ketersediaan teknologinya sendiri. Survei juga menjadi alat yang makin lazim digunakan untuk membaca perilaku konsumen, sebagaimana yang dilakukan platform survei digital dalam berbagai riset pasar.

Dari sisi lain, survei ini memperlihatkan bahwa kendala utama bukan semata harga. Ada lapisan ekspektasi, kebiasaan, dan cara pandang yang membuat sebagian pengendara menutup diri dari opsi kendaraan listrik. Sebagian responden bahkan menilai bahwa kenaikan biaya listrik di masa depan akan menggerus keunggulan EV, meskipun kemampuan memproduksi listrik sendiri secara langsung membantah asumsi tersebut.

Electrek sendiri menyebut bahwa sentimen yang berlaku adalah sebagian orang tidak akan pernah menyerahkan kunci kendaraan berbahan bakar internal mereka. Tidak dengan sukarela, setidaknya. Dan cara mayoritas pengguna lain menyikapi keengganan itu dianggap layak menjadi topik survei berikutnya.

Bagi pembaca yang mempertimbangkan beralih ke energi surya, Electrek menyarankan untuk membandingkan penawaran dari beberapa pemasang. Layanan seperti EnergySage disebut memudahkan proses tersebut dengan ratusan pemasang yang sudah tersaring dan dapat menghemat 20-30 persen dibandingkan mencari sendiri. Layanan itu gratis digunakan, dan pengguna tidak akan menerima panggilan penjualan sampai memilih pemasang dan membagikan nomor telepon.

Electrek juga mengingatkan bahwa mereka menggunakan tautan afiliasi yang menghasilkan pendapatan. Pembaca dapat mengikuti pembaruan terbaru melalui Google News, serta mengikuti Electrek di Twitter, Facebook, dan LinkedIn. Untuk yang baru memulai, tersedia kanal YouTube dengan ulasan terbaru.

Yang jelas, data survei ini menunjukkan satu hal: harga bensin yang tinggi tidak otomatis menjadi pemicu peralihan. Ada faktor ekspektasi harga, biaya kendaraan baru, dan persepsi yang sama-sama menentukan. Selama tiga faktor itu belum berubah, lonjakan harga di pompa bensin hanya akan menjadi angka di papan reklame stasiun pengisian bahan bakar.

BP station in Chicago, IL showing $7 gasoline September, 2026

[IMAGE_ALT]
Stasiun BP di Chicago menampilkan harga bensin 7 dolar per galon pada September 2026

[IMAGE_CAPTION]
Harga satu galon bensin BP Ultimate 93 oktan di Chicago menyentuh US$7,19 pada 26 September 2026.

[IMAGE_DESCRIPTION]
Sebuah stasiun pengisian bahan bakar BP di pusat kota Chicago, Illinois, Amerika Serikat, menampilkan harga bensin US$7,19 per galon pada September 2026, menggambarkan lonjakan harga bahan bakar yang menjadi konteks survei pembaca Electrek tentang peralihan ke kendaraan listrik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.