📑 Daftar Isi

Ilustrasi baterai solid-state untuk kendaraan listrik yang tengah dikembangkan pabrikan otomotif

Hyundai: Baterai Solid-State Masih Layak Dikejar Meski Mahal

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Hyundai menegaskan baterai solid-state tetap layak dikejar meski biaya material tinggi
  • Harrer meyakini kendaraan halo dengan paket solid-state muncul dalam lima tahun
  • Biaya bahan baku tetap mahal sehingga belum masuk pasar massal
  • Toyota, VW, BMW, GM, Ford, Honda, dan Nissan juga mengembangkan teknologi ini
  • Hyundai siapkan sel NMC sendiri untuk Santa Fe extended-range EV awal tahun depan

Telset.id – Hyundai Motor Group menegaskan bahwa baterai solid-state tetap layak dikejar meski biaya materialnya masih sangat tinggi. Kepala riset dan pengembangan Hyundai, Manfred Harrer, menyatakan bahwa pabrikan tidak bisa meninggalkan teknologi ini begitu saja. “Anda tidak bisa menyerah sekarang. Itu jelas,” ujarnya kepada wartawan pekan lalu. “Anda harus berada di dalam permainan.” Pernyataan ini muncul di tengah kemajuan baterai lithium-ion konvensional yang performanya kini semakin baik, termasuk teknologi terbaru Geely yang mampu mengisi daya 10-97 persen dalam waktu kurang dari sembilan menit.

Baterai yang digunakan pada kendaraan listrik saat ini memakai elektrolit cair untuk mengangkut ion lithium antara anoda dan katoda sel. Baterai solid-state menggantikan larutan tersebut dengan material padat, umumnya keramik atau polimer, yang berpotensi menghadirkan manfaat sekaligus pada aspek keamanan dan performa. Namun hingga kini belum ada pihak yang berhasil memproduksi sel solid-state dalam skala otomotif. Kondisi ini membuat teknologi tersebut masih berada di tahap pengembangan meskipun banyak pihak menaruh harapan besar.

Harrer menilai keunggulan potensial baterai solid-state sulit diabaikan. Baterai yang lebih kecil, kemampuan pengisian cepat yang lebih baik, dan jangkauan yang lebih jauh menjadi daya tarik utama. Dalam lima tahun ke depan, ia meyakini akan ada kendaraan halo dengan volume kecil di pasar yang menggunakan paket solid-state. Pandangan ini sejalan dengan timeline sejumlah pemain industri lain, misalnya QuantumScape yang memperkirakan baterainya masuk ke kendaraan berperforma tinggi pada akhir dekade ini.

Biaya Material Jadi Penghambat Utama

Meski potensinya besar, Harrer menegaskan bahwa biaya bahan baku akan tetap sangat tinggi selama bertahun-tahun seiring teknologi ini berkembang. Hal itu membuat baterai solid-state belum bisa masuk ke pasar massal. “Pada akhirnya Anda bisa menyelesaikan segalanya, tetapi itu datang dengan biaya, biaya yang luar biasa,” katanya. Pernyataan ini menjadi catatan penting bagi industri yang tengah berlomba mengembangkan teknologi tersebut.

Hyundai mengembangkan baterai solid-state secara internal dan bersama mitra seperti Solid Power. Hyundai bukan satu-satunya pabrikan yang berinvestasi di teknologi ini. Harrer menyebutnya sebagai “taruhan besar di industri saat ini.” Toyota telah mengerjakan solid-state setidaknya selama dua dekade dan menargetkan produksi dalam beberapa tahun ke depan. Volkswagen menjadi pendukung utama QuantumScape, sementara BMW bekerja sama dengan Solid Power. General Motors, Ford, Honda, dan Nissan termasuk pihak lain yang juga mengerjakannya.

Baca Juga:

Beberapa pihak telah menampilkan prototipe demonstrasi, seperti Ducati yang dipenuhi sel QuantumScape atau Mercedes dengan teknologi Factorial. Namun belum ada satu pun yang memasukkan baterai solid-state ke dalam mobil yang benar-benar bisa dibeli konsumen. Kesenjangan antara demonstrasi dan produksi massal ini menjadi gambaran nyata bahwa tantangan teknis dan ekonomis masih membentang panjang.

Strategi Hyundai dan Masa Depan Solid-State

Ketika teknologi ini matang, Harrer ingin Hyundai sudah siap dengan rantai pasok dan pengetahuan sendiri. “Kami ingin menjadi pemilik teknologi inti ini, dan itulah alasan kami juga berinvestasi dalam manufaktur baterai sendiri,” ujarnya. Hyundai melihat nilai besar dalam memahami secara mendalam apa yang dibutuhkan untuk membuat baterai dan biaya yang menyertainya. Alasannya, baterai merupakan bagian paling mahal dari sebuah EV dan juga digunakan pada kendaraan terelektrifikasi lainnya.

Hyundai berencana menanamkan sel nickel manganese cobalt buatan sendiri pada Santa Fe extended-range EV yang masuk pasar awal tahun depan. Namun untuk solid-state, waktu tunggu menuju pasar mainstream akan jauh lebih lama. Harrer menegaskan bahwa ia tidak percaya masalah biaya bahan baku bisa diselesaikan dalam lima tahun ke depan. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa adopsi massal baterai solid-state masih akan menghadapi jalan panjang meskipun investasi terus mengalir.

Kendati demikian, Harrer tetap menegaskan bahwa Hyundai tidak akan keluar dari perlombaan ini. Teknologi solid-state dianggap sebagai taruhan besar yang harus diikuti oleh pemain industri yang ingin tetap relevan. Dengan rantai pasok dan pengetahuan yang dibangun sendiri, Hyundai berharap bisa menjadi pemilik teknologi inti tersebut saat masanya tiba. Sementara itu, kemajuan baterai lithium-ion konvensional seperti yang ditunjukkan Geely menjadi pengingat bahwa kompetisi teknologi baterai tidak berjalan satu arah.

Keputusan Hyundai untuk terus mendorong solid-state sekaligus mengembangkan baterai lithium-ion menunjukkan strategi ganda dalam menghadapi transisi elektrifikasi. Di satu sisi, teknologi yang sudah matang tetap dimanfaatkan untuk kendaraan yang segera dipasarkan. Di sisi lain, investasi jangka panjang tetap dijaga untuk teknologi yang diyakini akan menjadi pembeda di masa depan. Bagi konsumen, artinya kendaraan listrik dengan baterai solid-state masih menjadi janji yang perlu ditunggu, bukan kenyataan yang bisa segera dimiliki.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.