Telset.id – Jerman bersiap memperketat regulasi skuter listrik bersama dengan mengusulkan undang-undang yang membuat operator penyewaan seperti Lime dan Bolt bertanggung jawab langsung atas kerusakan akibat kendaraan mereka. RUU ini dirancang untuk menutup celah hukum yang dinilai sering membuat korban kecelakaan tidak mendapat kompensasi.
Di bawah sistem saat ini, pihak yang dirugikan umumnya harus membuktikan bahwa pengendara bersalah. Hal itu hampir mustahil dilakukan ketika pengendara meninggalkan lokasi atau tidak dapat diidentifikasi. Aturan baru akan memberlakukan tanggung jawab mutlak pada operator rental sebagai pemilik terdaftar skuter tersebut. Pengendara juga akan dianggap bersalah kecuali mereka bisa membuktikan sebaliknya.
Usulan ini bahkan mencakup insiden akibat skuter yang diparkir sembarangan hingga memblokir trotoar dan membahayakan pejalan kaki. Menurut Kementerian Federal untuk Kehakiman dan Perlindungan Konsumen Jerman, perubahan ini mencerminkan prinsip sederhana: perusahaan yang mendapat untung dari layanan mobilitas bersama juga harus menanggung risiko yang ditimbulkan oleh layanan tersebut.
Aturan yang diusulkan akan berlaku untuk skuter listrik sewaan dan kendaraan self-balancing tertentu, namun khususnya tidak termasuk sepeda listrik. Langkah ini muncul saat penggunaan skuter listrik melonjak di Jerman. Jumlah skuter listrik yang diasuransikan tumbuh dari sekitar 180.000 unit pada 2020 menjadi hampir satu juta unit pada 2023, menurut media lokal.
Pada saat yang sama, klaim kerusakan pihak ketiga melonjak dari sekitar 1.150 menjadi 5.000 per tahun. Meskipun skuter sewaan hanya mencakup sekitar 20% dari skuter yang diasuransikan pada 2023, mereka terlibat dalam sekitar 40% klaim asuransi, menunjukkan peran mereka yang tidak proporsional dalam statistik kecelakaan.
Konteks Regulasi Skuter Listrik di Eropa
Jerman tidak sendirian dalam memikirkan ulang skuter bersama. Beberapa kota Eropa telah mengambil tindakan lebih tegas. Paris memilih untuk menghilangkan skuter listrik sewaan pada 2023, Madrid mencabut izin operator pada 2024, Praha menghapus skuter bersama awal tahun ini, dan Brussel akan melakukan hal yang sama pada 2027.
Meskipun skuter listrik bersama terus menawarkan pilihan transportasi yang nyaman bagi banyak pengendara, usulan Jerman menandakan ekspektasi yang berkembang bahwa operator harus berbagi tanggung jawab lebih besar atas dampak keselamatan armada mereka. Regulasi ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kesadaran akan keselamatan mobilitas urban.
Menariknya, kebijakan serupa juga pernah diterapkan di sektor lain. Misalnya, Sekolah di Jerman sebelumnya juga melarang penggunaan Microsoft Office 365 karena masalah privasi data. Hal ini menunjukkan tren regulasi yang lebih ketat di Jerman terhadap teknologi dan layanan digital.
Baca Juga:
Data menunjukkan bahwa dampak skuter sewaan terhadap klaim asuransi sangat signifikan. Dari total skuter yang diasuransikan, hanya 20% yang merupakan unit sewaan, namun mereka bertanggung jawab atas 40% klaim. Ini menjadi dasar kuat bagi pemerintah Jerman untuk merevisi aturan yang ada.
Usulan undang-undang ini juga menyoroti bagaimana perusahaan teknologi harus bertanggung jawab atas dampak operasional mereka. Dalam konteks yang lebih luas, risiko robot tiruan dalam bisnis manufaktur juga menjadi perhatian serupa terkait tanggung jawab dan keselamatan.
Bagi pengguna skuter listrik, aturan baru ini berarti mereka harus lebih berhati-hati saat berkendara. Presumsi bersalah akan membebani pengendara untuk membuktikan diri tidak bersalah jika terjadi kecelakaan. Ini berbeda dengan sistem saat ini yang lebih melindungi pengendara.
Operator seperti Lime dan Bolt akan menghadapi beban tanggung jawab yang lebih besar. Mereka harus memastikan armada mereka aman digunakan dan diparkir dengan benar. Jika tidak, mereka bisa menghadapi tuntutan hukum yang mahal dari korban kecelakaan.
Langkah Jerman ini bisa menjadi preseden bagi negara lain di Eropa dan dunia. Dengan meningkatnya popularitas skuter listrik, regulasi yang lebih ketat mungkin akan menyusul di berbagai negara untuk melindungi keselamatan publik.
Bagi pejalan kaki, aturan ini membawa angin segar. Skuter yang diparkir sembarangan selama ini menjadi masalah di banyak kota. Dengan tanggung jawab hukum yang jelas, operator akan lebih termotivasi untuk mengelola parkir armada mereka dengan lebih baik.
Dari sisi industri, regulasi ini bisa mendorong inovasi dalam desain skuter dan sistem manajemen armada. Operator mungkin perlu mengembangkan teknologi yang lebih baik untuk mencegah parkir sembarangan atau memantau perilaku pengendara secara real-time.
Meskipun demikian, aturan ini tidak berlaku untuk sepeda listrik, yang menunjukkan bahwa pemerintah Jerman membedakan risiko antara berbagai jenis kendaraan mikro. Sepeda listrik dianggap memiliki profil risiko yang berbeda sehingga tidak termasuk dalam regulasi ini.
Keputusan Paris, Madrid, Praha, dan Brussel untuk melarang atau membatasi skuter sewaan menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi di Jerman. Banyak kota besar di Eropa menghadapi dilema antara menyediakan transportasi alternatif dan menjaga ketertiban serta keselamatan publik.
Bagi pengguna yang ingin tetap aman saat menggunakan perangkat digital, penting untuk memperhatikan tips membaca di smartphone agar mata tidak rusak, terutama jika sering menggunakan aplikasi penyewaan skuter.
Dengan semakin ketatnya regulasi, masa depan skuter listrik sewaan di Eropa masih belum pasti. Namun satu hal yang jelas: operator harus siap menghadapi tanggung jawab yang lebih besar atas dampak bisnis mereka terhadap keselamatan publik.
Usulan undang-undang Jerman ini menjadi sinyal kuat bahwa era regulasi longgar untuk skuter listrik bersama akan segera berakhir. Perusahaan yang ingin bertahan harus beradaptasi dengan standar keselamatan dan tanggung jawab yang lebih tinggi.





Komentar
Belum ada komentar.