Telset.id – Mazda resmi memperbarui CX-6e dengan unit LiDAR atap di China, menghadirkan kemampuan Navigation-on-Autopilot (NOA) untuk skenario jalan tol dan perkotaan. SUV listrik midsize ini menjadi model baru energi (NEV) kedua di jajaran Mazda China, tempat ia dipasarkan dengan nama EZ-60, setelah model pertama berupa sedan 6e atau EZ-6. Pembaruan ini menandai langkah Mazda masuk lebih dalam ke persaingan sistem bantuan mengemudi di pasar otomotif terbesar dunia itu, dengan harga yang agresif namun spesifikasi yang bersaing.
Varian CX-6e ber-LiDAR dibanderol mulai 145.900 yuan atau sekitar 21.700 USD, dengan opsi powertrain listrik murni (EV) maupun range extender (EREV). Harga tersebut lebih tinggi dari lini yang ada saat ini, dengan markup 12.000 yuan atau sekitar 1.800 USD pada opsi EV maupun EREV. Varian EV juga meminta premium 6.000 yuan atau sekitar 900 USD di atas model EREV. SUV ini diposisikan agresif di China, dengan harga awal hampir tiga kali lebih murah dibanding pasar Eropa. CX-6e dijadwalkan debut di pasar luar negeri dalam waktu dekat, dengan harga di Inggris misalnya mulai 42.990 GBP atau sekitar 57.000 USD. Dibandingkan dengan penawaran Tesla di China, CX-6e memangkas harga Model Y hampir setengahnya. Model Y dibanderol mulai 263.500 yuan atau sekitar 39.300 USD, sementara trim EV termurah CX-6e dijual 139.900 yuan atau sekitar 20.800 USD, meski tanpa LiDAR.
Pembaruan ini menambahkan kemampuan mengemudi terpandu “advanced L2” yang menurut Mazda mencakup lebih dari 200 skenario mengemudi terpandu. Sistem ini dipasangkan dengan paket sensor yang terdiri dari tiga radar mmWave, 12 radar ultrasonik, dan 11 kamera. Kombinasi ini memberi persepsi “full-domain” untuk navigasi jalan tol maupun perkotaan, yang dapat merespons mobil, sepeda, dan pejalan kaki bahkan saat visibilitas tidak sempurna. Seluruh data tersebut dialirkan ke komputer onboard kendaraan, memberi sistem informasi yang cukup untuk mengambil keputusan yang menurut Mazda terasa lebih natural dibanding sistem lain. Mazda menegaskan pembaruan EZ-60 Laser Edition bukan sekadar menumpuk sensor, melainkan menggunakannya untuk membuat keputusan berkendara yang lebih baik ketimbang yang mungkin dilakukan kamera saja.
Baca Juga:
Di skenario jalan tol, sistem menawarkan fungsi seperti bantuan pindah jalur, bantuan menghindari rintangan, bantuan masuk dan keluar ramp, serta bantuan masuk dan keluar area istirahat di seluruh rentang kecepatan 0-130 km/jam. Sistem dapat mengambil keputusan berkendara secara otonom berdasarkan navigasi, memastikan waktu pindah jalur yang wajar dan penggabungan ramp yang mulus. Di skenario perkotaan, dengan mengandalkan navigasi tingkat jalur Tencent dan arsitektur teknis end-to-end, sistem dapat menangani kondisi jalan kompleks seperti kendaraan menyelip, pengalihan akibat konstruksi, dan jalur sempit. Mobil baru ini juga akan dilengkapi fungsi “follow-up tour” eksklusif di kelasnya melalui OTA, sehingga pengemudi tidak perlu khawatir tersesat saat berkendara dalam kelompok. Menurut Mazda, sistem bantuan mengemudi L2 baru ini telah melewati serangkaian uji keselamatan resmi pemerintah, termasuk 11 skenario berisiko tinggi dunia nyata mulai dari jalan pegunungan sempit hingga berkendara malam di jalan tol saat hujan. EZ-60 Laser Edition menyelesaikan tantangan tersebut dan menerima sertifikat TOP Intelligence Intelligent Safety Challenge dari CATARC.
Pada sistem pengereman aktif AEB, mobil baru ini fokus pada skenario risiko frekuensi tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Sistem dapat berhenti pada kecepatan hingga 110 km/jam untuk objek diam di depan, berhenti pada kecepatan hingga 90 km/jam untuk pejalan kaki di arah longitudinal, mengerem tepat waktu untuk pejalan kaki dan pesepeda yang menyeberang jalan dalam radius 60 km/jam, serta menangani “ghost pedestrians” dan kendaraan yang menyeberang jalan dalam radius 50 km/jam. Sistem ini juga mencapai “AEB & AES braking and yielding in one” — jika tidak bisa berhenti, sistem akan sekaligus membantu pengemudi membelokkan setir dan menghindari rintangan. Di jalan perkotaan, sistem bantuan mengemudi CX-6e dapat menangani persimpangan dan bundaran tanpa input pengguna, serta melakukan U-turn sendiri. Sistem juga dapat berkendara di antara jalan utama paralel dan jalan akses samping, serta melakukan pindah jalur darurat untuk menghindari rintangan. Mazda menyebut sistem bantuan LiDAR baru ini mencakup kecepatan 0 hingga 130 km/jam di jalan tol, dan 0 hingga 80 km/jam di skenario perkotaan. Sistem juga memungkinkan CX-6e melakukan manuver parkir jarak jauh, otomatis, dan path-following.
Spesifikasi dan Posisi CX-6e di Jajaran Mazda
CX-6e saat ini dijual pada kisaran 113.900 hingga 166.900 yuan atau sekitar 20.800 hingga 24.500 USD di China, dengan trim EV dan LiDAR meminta premium di atas opsi EREV dan non-LiDAR. Trim EV mengusung paket LFP 77,94 kWh dari CALB, dengan jarak tempuh CLTC 585 km (474 km WLTP) hingga 600 km (486 km WLTP). Baterai ini menggerakkan motor tunggal 190 kW (255 hp) di belakang dan mencapai kecepatan maksimum 185 km/jam. Pengisian cepat 3C tersedia, memungkinkan pengisian 30-80% dalam 15 menit. Trim EREV menempatkan range extender 1,5 liter naturally aspirated 72 kW (97 hp) di depan, mencapai kecepatan puncak yang sama dengan motor belakang 190 kW (255 hp) yang sama. Paket LFP lebih kecil 31,73 kWh dari CATL memungkinkan jarak tempuh CLTC 200 km (162 km WLTP).
Mazda menyatakan sangat fokus pada efisiensi aerodinamis, memberikan CX-6e sembilan saluran udara di sekitar kap mesin, bumper, dan panel sail untuk mengurangi hambatan. Koefisien hambatan (Cd) turun ke 0,258, sebanding dengan rival seperti Xiaomi YU7 (0,245 Cd) dan Xpeng G9 (0,272 Cd). Di dalam, CX-6e menyimpang dari desain kabin Mazda yang minim layar dan kaya tombol, dengan tampilan minimal tombol dan layar infotainment 5K berukuran 26,45 inci yang membentang dari tengah ke sisi penumpang. Pengemudi mendapat head-up display (HUD) 50 inci, dengan HUD 100 inci sebagai opsi tambahan. Sebagai referensi, CX-6e berukuran 4.850/1.935/1.620 mm dengan wheelbase 2.902 mm. Berat kosong berkisar 2.048 hingga 2.180 kg, tergantung trim dan powertrain. Suspensi menggunakan McPherson strut di depan dan multi-link di belakang, dengan peredaman yang dapat disesuaikan pada trim yang lebih tinggi. Menurut China EV DataTracker, Mazda mengirimkan 4.532 unit CX-6e pada Agustus 2026. SUV NEV ini terbukti menjadi hit relatif bagi pabrikan, menyumbang 45% dari total penjualan merek di China. Pembaruan LiDAR akan membantu CX-6e menyamakan kedudukan melawan rival NEV lokal China.
CX-6e sendiri merupakan EV kedua yang keluar dari kemitraan Mazda dengan merek domestik China, Changan Auto. CX-6e adalah produk “global” pertama dari joint venture tersebut, yang telah diluncurkan di pasar Asia, Eropa, dan lainnya awal tahun ini. Model ini menawarkan motor listrik yang dipasang di belakang, dengan tenaga 190 kW (258 hp) dan torsi 214 lb-ft untuk dinamika berkendara zoom-zoom yang sudah menjadi ekspektasi pelanggan Mazda, baterai lithium-iron-phosphate (LFP) 77,94 kWh yang diklaim mampu menempuh jarak hingga 600 km (sekitar 375 mil), serta rangkaian sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS). CX-6e berbasis platform EPA1 milik Changan dan berkerabat dekat dengan Deepal S07. Platform-mate CX-6e, Deepal S07, menawarkan sistem bantuan mengemudi “Qiankun” ber-LiDAR dari Huawei pada trim teratasnya. Mazda belum mengungkap apakah sedan 6e juga akan mendapatkan sistem tersebut.
Perlu dicatat, keterangan mengenai harga dan spesifikasi CX-6e berbeda-beda antar sumber. Sebagian menyebut tenaga 190 kW setara 258 hp, sebagian lain menyebut 255 hp. Rentang jarak tempuh juga bervariasi antara klaim hingga 600 km dan angka CLTC 585-600 km. Untuk pasar Eropa, harga CX-6e hampir tiga kali lebih mahal dibanding China, dengan harga Inggris mulai 42.990 GBP. Sementara di China, trim EV termurah tanpa LiDAR dijual 139.900 yuan. Bagi Mazda, langkah ini menjadi upaya menyamakan kedudukan dengan rival lokal seperti BYD Qin L PHEV yang agresif di segmen NEV. Di sisi lain, Mazda juga tengah bersiap mengelektrifikasi lini ikoniknya, sebagaimana terlihat dari langkah MX-5 Next yang mengutamakan bobot ringan. Sementara di Inggris, Mazda bahkan hentikan mesin 2.0 liter MX-5 dan menggantinya dengan 1.5 liter.
Dengan pembaruan LiDAR ini, CX-6e menempatkan diri sebagai SUV listrik yang tidak hanya mengandalkan dinamika berkendara khas Mazda, tetapi juga kecerdasan buatan untuk navigasi otonom. Kombinasi harga agresif di China dan spesifikasi yang kompetitif menjadi taruhan Mazda di pasar NEV yang semakin padat. Apakah strategi ini mampu mendongkrak pangsa pasar Mazda di segmen NEV China, waktu yang akan menjawab.





Komentar
Belum ada komentar.