📑 Daftar Isi

Ilustrasi mobil bensin murni yang kini hanya menguasai 49 persen pasar kendaraan baru global pada paruh pertama tahun ini

Mobil Bensin Kini di Bawah 50 Persen Pasar Global, Era Baru Dimulai

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Mobil bensin murni pertama kali di bawah 50% pasar global, tepatnya 49% pada paruh pertama tahun ini
  • Pangsa mobil bensin turun dari 73% pada 2021 akibat harga minyak tinggi dan biaya perawatan
  • Penjualan EV global capai 6,87 juta unit (naik 12%), hybrid 7,27 juta unit (naik 10%)
  • China kuasai setengah EV dunia, Eropa dan Asia Tenggara pimpin pertumbuhan
  • EV diproyeksikan lampaui 30% produksi kendaraan global pada 2030

Telset.id – Kendaraan berbahan bakar bensin murni untuk pertama kalinya menyumbang kurang dari setengah penjualan mobil baru global. Data Mobility Global yang dikutip Nikkei Asia menunjukkan mobil bensin murni hanya mencakup 49% dari seluruh penjualan kendaraan baru dunia pada paruh pertama tahun ini, tidak termasuk hybrid dan model elektrifikasi lainnya. Ini adalah kali pertama mobil bensin memiliki pangsa pasar global di bawah 50% sejak teknologi tersebut menjadi arus utama pada 1920-an.

Angka tersebut menandai pergeseran besar dari posisi mobil bensin pada 2021, ketika model bensin murni masih menguasai 73% pasar mobil baru dunia. Penurunan ini dipicu oleh harga minyak yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah, yang mendorong semakin banyak pembeli mobil meninggalkan kendaraan pembakaran tradisional dan beralih ke EV atau hybrid. Lonjakan harga bahan bakar dan biaya perawatan yang tinggi menjadi pendorong utama peralihan tersebut.

Pada paruh pertama tahun ini, produsen mobil menjual 20,25 juta unit di seluruh dunia, atau 10% lebih sedikit dibanding periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar konsumen yang meninggalkan mobil bensin beralih ke EV atau hybrid. Secara keseluruhan, penjualan EV global mencapai 6,87 juta unit, naik 12% dari periode yang sama tahun lalu, sementara hybrid naik 10% menjadi 7,27 juta unit. EV menyumbang 17% dari seluruh penjualan kendaraan baru.

China Kuasai Setengah EV Dunia, Eropa dan Asia Tenggara Melaju

China membeli setengah dari seluruh EV global, meski pasarnya turun 3% menjadi 3,44 juta unit setelah insentif dihapus pada Januari. Di Amerika Utara, penjualan EV justru turun 15%. Sebaliknya, Eropa dan Asia Tenggara memimpin dalam adopsi elektrifikasi. Konsumen Eropa membeli 1,81 juta EV sepanjang enam bulan pertama tahun ini, atau 32% lebih banyak dari tahun lalu, sementara penjualan di Asia Tenggara melonjak 81% dan mencapai 350.000 unit. Di Oceania, penjualan EV lebih dari dua kali lipat menjadi 110.000 unit.

Model terjangkau seperti Renault 5 E-Tech turut mendorong penjualan EV di Eropa. Tren ini sejalan dengan berbagai inisiatif elektrifikasi di tingkat kota, seperti yang terlihat dalam uji coba carshare EV di empat kota Boston dengan charger surya off-grid. Sementara itu, dinamika pasar otomotif di berbagai kawasan juga menunjukkan fluktuasi, termasuk penjualan Mazda AS yang mencatatkan lonjakan signifikan pada September 2026.

Baca Juga:

Yoshiaki Kawano, associate director Mobility Global, menyatakan bahwa adopsi EV sempat melambat sekitar 2024 dan hybrid tumbuh akibat pemotongan subsidi dan faktor lainnya. “Namun, harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui apresiasi terhadap biaya operasional EV yang lebih rendah, dan penjualan kini tumbuh kembali,” ujarnya. Kawano menambahkan bahwa hanya sedikit pembeli EV yang kembali ke kendaraan bensin atau hybrid, dan seiring harga yang terus turun, permintaan yang didorong kebutuhan konsumen sejati alih-alih subsidi kemungkinan akan meluas.

Proyeksi 2030: EV Lampaui 30 Persen Produksi Kendaraan

Menurut Mobility Global, pangsa EV sebesar 17% masih jauh dari mobil bensin yang berada di 49%. Namun, analis memperkirakan keadaan tidak akan bertahan lama. Pada 2030, EV diproyeksikan melampaui 30% dari total produksi kendaraan, menyalip hybrid dan kendaraan berbahan bakar pembakaran murni, termasuk diesel. Proyeksi ini menegaskan arah industri yang semakin meninggalkan ketergantungan pada bensin murni.

Sejarah mencatat, dominasi mobil bensin dimulai sejak teknologi ini menjadi arus utama pada 1920-an, didorong oleh adopsi luas Tetraethyllead, aditif yang menciptakan bensin bertimbal. Meski aditif tersebut menimbulkan bahaya kesehatan, keberadaannya meningkatkan kompresi mesin pembakaran, yang kemudian menghasilkan performa lebih tinggi dan efisiensi bahan bakar yang meningkat. Kini, setelah satu abad dominasi, mobil bensin murni harus menerima kenyataan bahwa pangsa pasarnya tak lagi mayoritas.

Dinamika pasar otomotif global juga tercermin dari langkah sejumlah produsen yang menyesuaikan strategi mereka. Volvo, misalnya, memangkas proyeksi 2026 setelah penjualan Q3 anjlok 10,7 persen. Sementara itu, kebijakan perdagangan juga ikut memengaruhi industri, termasuk usulan tarif otomotif yang berpotensi mengenakan bea impor 25% pada mobil klasik.

Pergeseran ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan global sedang memasuki babak baru. Mobil bensin murni yang selama seabad menjadi tulang punggung industri otomotif kini harus berbagi panggung dengan EV dan hybrid. Data paruh pertama tahun ini menjadi penanda penting bahwa preferensi konsumen, didorong oleh faktor ekonomi seperti harga minyak dan biaya operasional, telah berubah secara fundamental.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.