📑 Daftar Isi

Penjualan EV Eropa Tembus 25% pada Juli 2026

Penjualan EV Eropa Tembus 25% pada Juli 2026

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Pasar mobil listrik Eropa mencatat pencapaian signifikan pada Juli 2026. Berdasarkan analisis Dataforce terhadap data registrasi kendaraan baru di Uni Eropa, Swiss, Norwegia, Islandia, dan Inggris, sebanyak 25% dari seluruh mobil yang terjual pada bulan tersebut merupakan kendaraan listrik (EV). Angka ini menunjukkan perubahan besar dalam preferensi konsumen di kawasan tersebut.

Pertumbuhan ini tidak terjadi secara instan. Pada periode Januari hingga Juli 2026, penjualan EV tercatat naik 37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadikan Eropa sebagai salah satu pasar EV dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan total 277.000 unit EV terdaftar hanya dalam satu bulan terakhir.

Alasan utama di balik perpindahan konsumen Eropa ke kendaraan bertenaga baterai adalah harga bahan bakar minyak yang tinggi. Namun, para analis juga menyebutkan bahwa semakin luasnya pilihan kendaraan listrik di pasar menjadi faktor pendorong utama. Konsumen Eropa kini memiliki katalog kendaraan listrik yang cukup besar untuk dipilih, mulai dari city car hingga SUV mewah.

Menariknya, pertumbuhan pasar EV ini tidak berdiri sendiri. Pasar otomotif secara keseluruhan juga mengalami kenaikan sebesar 4,1% pada Juli 2026. Sementara itu, pertumbuhan kumulatif dari Januari hingga Juli mencapai 5,7%. Artinya, meskipun pasar mobil secara umum tumbuh, segmen EV tumbuh jauh lebih cepat dan mengambil porsi signifikan dari total penjualan.

BEV Ungguli PHEV dan Hybrid Penuh

Salah satu temuan paling menarik dari analisis Dataforce adalah performa kendaraan listrik baterai murni (BEV) yang melampaui kendaraan plug-in hybrid (PHEV) dan hybrid penuh. Meskipun penjualan PHEV naik 15% dan hybrid penuh naik 9%, BEV tetap menjadi segmen yang paling dominan. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen Eropa semakin percaya diri untuk beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik tanpa bergantung pada mesin pembakaran internal.

Perancis dan Jerman menjadi lokomotif utama pertumbuhan ini. Di Perancis, 35% dari mobil baru yang terjual merupakan EV. Kedua negara ini secara konsisten menjadi pasar terbesar untuk kendaraan listrik di Eropa, didukung oleh kebijakan insentif dan infrastruktur pengisian daya yang semakin memadai.

Hal yang cukup mengejutkan adalah tidak adanya Tesla di posisi tiga besar penjualan EV bulanan. Skoda Elroq berhasil mengambil posisi pertama, diikuti oleh VW ID.4 di posisi kedua, dan Renault 5 E-Tech di posisi ketiga. Namun, untuk periode Januari hingga Juli 2026, Tesla Model Y tetap menjadi EV terlaris di Eropa dengan total penjualan 115.759 unit. Angka ini mencatatkan peningkatan impresif sebesar 55% dibandingkan tahun lalu.

Persaingan di pasar EV Eropa semakin ketat dengan masuknya berbagai pemain baru. Produsen asal China mulai menunjukkan kehadiran yang kuat, terutama di segmen PHEV. Segmen ini didominasi oleh pabrikan China karena kendaraan PHEV tidak dikenakan tarif impor tambahan, sehingga mereka dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan pesaing lokal. Sekitar 125.530 unit PHEV terjual di Eropa pada Juli 2026, naik 15% dibandingkan tahun lalu, dengan model China menguasai 34% pangsa pasar.

Dominasi China di segmen PHEV ini menjadi sinyal penting bagi industri otomotif Eropa. Produsen lokal harus bersaing lebih keras untuk mempertahankan pangsa pasar mereka, terutama di tengah meningkatnya tekanan dari merek-merek China yang agresif melakukan ekspansi. Beberapa pabrikan China bahkan telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk memasuki pasar Eropa dengan berbagai model baru, termasuk Geely E2 yang siap menggempur pasar Eropa.

Selain persaingan harga, faktor teknologi juga menjadi medan pertempuran baru. Produsen terus berinovasi dalam hal baterai dan efisiensi kendaraan. Geely, misalnya, dikabarkan akan membawa baterai solid-state dengan kepadatan energi tinggi ke mobil produksi massal tahun depan. Teknologi semacam ini berpotensi mengubah lanskap kompetitif pasar EV secara signifikan.

Perkembangan pasar EV Eropa juga berdampak pada strategi produksi global. Beberapa pabrikan mulai mempertimbangkan untuk memproduksi kendaraan listrik langsung di Eropa untuk menghindari tarif impor dan memperkuat posisi mereka di pasar ini. Geely, misalnya, berencana memproduksi mobil mewah di pabrik Volvo Eropa mulai 2028, sebuah langkah strategis untuk memperkuat kehadiran mereka di kawasan ini.

Namun, tidak semua pemain bertahan di pasar yang kompetitif ini. Beberapa perusahaan terpaksa menghentikan program mobil listrik mereka karena tekanan biaya dan persaingan yang ketat. Dreame menghentikan semua program mobil listrik mereka, sebuah keputusan yang mencerminkan betapa sulitnya bersaing di pasar EV global saat ini.

Data dari Dataforce ini memberikan gambaran jelas tentang arah industri otomotif Eropa. Dengan 25% pangsa pasar EV pada Juli 2026 dan pertumbuhan 37% sepanjang tahun, Eropa berada di jalur yang tepat menuju elektrifikasi massal. Peningkatan ini tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi seperti harga bahan bakar, tetapi juga oleh ketersediaan pilihan kendaraan yang semakin beragam.

Bagi konsumen, kabar ini berarti semakin banyak pilihan kendaraan listrik dengan berbagai rentang harga dan fitur. Bagi industri, ini adalah sinyal bahwa transisi ke kendaraan listrik bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah keniscayaan yang akan terus berkembang. Produsen yang mampu beradaptasi dengan cepat dan menawarkan produk yang kompetitif akan memenangkan persaingan di pasar yang sedang booming ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.