Drone bomber reusable Pentagon dalam Program Drone Dominance

Pentagon Cari Drone Bomber Reusable untuk Program Drone Dominance

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pentagon memperluas Program Drone Dominance dengan mencari drone bomber reusable yang dapat membawa muatan lebih dari 8 kg
  • Drone harus beroperasi pada jarak 15-30 km dari posisi peluncuran dan berat kotor maksimal 55 lb (sekitar 25 kg)
  • Sistem harus tahan terhadap jamming elektronik dan cuaca buruk, serta memiliki fungsi otonom dan pengenalan target otomatis
  • Drone reusable diharapkan lebih andal daripada FPV drone manual dan sistem serangan satu arah
  • Kompetisi Gauntlet dijadwalkan Oktober untuk evaluasi sistem operasional lengkap
  • Kontrak prototipe awal sekitar $32 juta untuk hingga 1.200 sistem drone dengan paket logistik
  • Prototipe dikirim dalam 5 bulan, setengah sistem harus tiba dalam 2,5 bulan
  • Target mencakup personel musuh, kendaraan lapis baja, kapal permukaan, dan aset medan perang lainnya

Telset.id – Pentagon memperluas Program Drone Dominance dengan mencari drone bomber yang dapat digunakan kembali (reusable) untuk membawa bom, bukan hanya berfungsi sebagai sistem serangan satu arah. Departemen Pertahanan AS ini menginginkan pesawat nirawak yang mampu membawa muatan melebihi 8 kg, yang menempatkan pesawat ini dalam kategori yang sangat berbeda dari bomber strategis jarak jauh seperti B-52.

Menurut Request for Solutions terbaru, Pentagon mencari drone yang dapat dibawa personel (man-packable) atau diangkut kendaraan tempur ringan, dengan kemampuan beroperasi antara 15 km hingga 30 km dari posisi peluncuran. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi militer AS yang mulai beralih dari drone serangan satu arah menuju platform yang dapat digunakan berulang kali.

An Air Force B-52 Stratofortress takes off from RAF Fairford on March 19, 2026, in Fairford, England.

## Spesifikasi Drone Bomber Reusable

Pejabat militer memperkirakan sebagian besar sistem kandidat akan memiliki berat tidak lebih dari 55 lb (sekitar 25 kg) pada berat kotor saat lepas landas, tidak termasuk muatan. Ukuran ini membuat drone tersebut jauh lebih kecil dibandingkan bomber militer konvensional. Muatan yang dibutuhkan melebihi 8 kg dan harus dapat menampung mortir atau amunisi serupa yang sudah tersedia dalam inventaris militer yang ada.

Berbeda dengan pesawat yang hanya melepaskan satu senjata sebelum kembali, pesawat nirawak ini diharapkan dapat membawa beberapa hulu ledak yang mampu mengenai sasaran bergerak maupun diam. Target potensial mencakup personel musuh, kendaraan lapis baja ringan, lapis baja berat, kapal permukaan maritim, kapal pendarat, serta aset medan perang lainnya yang membutuhkan keterlibatan presisi.

Pentagon juga mensyaratkan sistem ini tetap beroperasi dalam cuaca buruk, kondisi pencahayaan bervariasi, dan saat ada upaya mengganggu komunikasi atau navigasi satelit melalui jamming elektronik. Pejabat juga menginginkan otomatisasi canggih terintegrasi ke dalam pesawat, termasuk fungsi otonom dan pengenalan target otomatis yang dimaksudkan untuk mengurangi beban kerja operator selama misi tempur.

“Vendors shall demonstrate targeting capabilities designed to improve engagement effectiveness, increase delivery accuracy, and reduce operation cognitive workload during target prosecution,” demikian bunyi permintaan tersebut.

## Keunggulan Drone Reusable

Pentagon memperkirakan drone bomber yang dapat digunakan kembali akan memberikan keandalan lebih besar dibandingkan pesawat first-person view (FPV) yang dikemudikan manual. Drone ini dirancang untuk operasi tempur berulang, bukan serangan sekali pakai.

“Systems with advanced features are expected to achieve better results than simple first-person view (FPV) drones that are manual and rely on continuous operator input,” tambah permintaan tersebut.

Departemen juga menyatakan platform yang dapat digunakan kembali harus memberikan keandalan dan kapabilitas lebih tinggi daripada sistem serangan satu arah karena diharapkan dapat bertahan dalam beberapa misi.

## Kompetisi Prototipe dan Kontrak Masa Depan

Produsen yang menyelesaikan tahap kualifikasi awal akan maju ke evaluasi kompetitif yang dikenal sebagai Gauntlet, dijadwalkan pada Oktober. Dalam tahap ini, personel militer akan menilai sistem operasional lengkap. Evaluator akan memeriksa kinerja pesawat bersama mekanisme pelepasan muatan, peralatan kontrol darat, dan perangkat keras pendukung sebelum menentukan perusahaan mana yang menerima penghargaan prototipe.

Setelah penilaian tersebut, Pentagon merencanakan kontrak prototipe awal sekitar $32 juta yang mencakup hingga 1.200 sistem drone beserta paket logistik terkait. Prototipe akan dikirim dalam waktu lima bulan setelah menerima pesanan, sementara setengah dari sistem yang diminta harus tiba dalam dua setengah bulan.

Pengujian akan mencakup keterlibatan dengan drone diam dan bergerak, serta sasaran diam dan bergerak, di berbagai ketinggian operasi. Inisiatif ini sejalan dengan upaya Pentagon sebelumnya dalam mengembangkan drone murah untuk menggantikan MQ-9 Reaper yang harganya mencapai $30 juta per unit. Kebutuhan akan drone yang lebih ekonomis dan dapat digunakan kembali semakin mendesak setelah AS kehilangan puluhan drone dalam konflik di Iran yang menelan biaya miliaran dolar bagi pembayar pajak.

Dengan pendekatan baru ini, Pentagon tampaknya belajar dari pengalaman operasional terkini bahwa drone serangan satu arah memiliki keterbatasan dalam hal biaya dan efektivitas jangka panjang. Drone bomber reusable diharapkan menjadi solusi yang lebih efisien untuk operasi tempur berkelanjutan tanpa harus bergantung pada aset strategis besar yang mahal.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.