📑 Daftar Isi

Porsche Gandeng XPeng demi Selamatkan Mesin Bensin

Porsche Gandeng XPeng demi Selamatkan Mesin Bensin

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Porsche secara resmi memutuskan untuk berpisah dari kelompok emisi Volkswagen dan menjalin kerja sama dengan produsen mobil listrik asal China, XPeng. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan lini kendaraan bermesin bensin di tengah tekanan regulasi emisi Uni Eropa yang semakin ketat.

Keputusan ini muncul setelah Uni Eropa memberlakukan aturan yang mewajibkan produsen mobil menjaga rata-rata emisi armada kendaraan baru di bawah 93,6 g/km. Jika melampaui ambang batas tersebut, Uni Eropa akan mengenakan denda sebesar €95 per gram kelebihan emisi, dikalikan dengan setiap kendaraan yang terdaftar di kawasan Eropa selama periode evaluasi tiga tahun dari 2025 hingga 2027.

Bagi Volkswagen Group yang menjual jutaan mobil penumpang setiap tahunnya, aturan ini menjadi masalah besar. CFO Volkswagen Group, Arno Antlitz, mengungkapkan bahwa perusahaan menghadapi denda tahunan sekitar €400 juta hingga €500 juta. Dalam skenario terburuk, akumulasi denda bisa mencapai €1,5 miliar.

Porsche justru menjadi beban terbesar bagi Volkswagen dalam hal emisi. Meskipun memiliki model listrik seperti Taycan dan Macan Electric, mayoritas penjualan Porsche masih didominasi kendaraan bermesin bensin. V8 Cayenne, Panamera twin-turbo, dan GT3 dengan putaran mesin 9.000 RPM membuat rata-rata emisi Porsche mencapai angka yang sangat tinggi, sekitar 130,2 g/km.

Strategi Pooling Emisi Porsche dan XPeng

Untuk mengatasi masalah ini, Porsche memanfaatkan celah regulasi yang mengizinkan produsen mobil membentuk “open pools” dengan merek lain. Dalam skema ini, emisi gabungan dari semua merek dalam pool tersebut akan dihitung sebagai satu kesatuan. Dengan bergabung bersama XPeng yang memproduksi mobil listrik murni, Porsche bisa menurunkan rata-rata emisi secara signifikan.

XPeng sendiri diuntungkan besar dari kerja sama ini. Sepanjang tahun lalu, XPeng berhasil menjual sekitar 19.000 unit mobil listrik di Eropa Barat, dan tahun ini ditargetkan mendekati 50.000 unit. Dengan volume penjualan tersebut, XPeng memiliki surplus kredit emisi nol yang sangat besar dan bisa dijual kepada Porsche.

Model bisnis semacam ini sebenarnya sudah dikenal luas di industri otomotif. Tesla, misalnya, membangun kerajaan bisnis miliaran dolar dari penjualan kredit karbon kepada produsen mobil tradisional yang kesulitan memenuhi target emisi. Kini giliran produsen mobil listrik China yang mengambil alih peran serupa.

Untuk tahun 2026 dan 2027, Porsche dan XPeng akan membentuk open pool bersama. Porsche mendapatkan ruang regulasi untuk terus menjual mobil bermesin bensin, sementara XPeng menerima suntikan dana segar dengan margin tinggi. Volkswagen Group juga diuntungkan karena tidak lagi harus menanggung beban emisi Porsche dalam perhitungan rata-rata gabungan.

Perbandingan Harga dan Dampak bagi Porsche

Ironi dari kerja sama ini terlihat jelas ketika membandingkan produk unggulan kedua merek. Porsche Macan Electric dengan dimensi panjang 4.784 mm, lebar 1.938 mm, dan tinggi 1.624 mm dibanderol mulai dari €84.600. Sementara itu, XPeng G9 SUV dengan panjang 4.891 mm, lebar 1.937 mm, dan tinggi 1.670 mm serta dukungan pengisian cepat 800V dibanderol mulai dari €59.600.

XPeng juga tengah menyiapkan model G9L yang lebih terjangkau dan sudah dalam perjalanan menuju pasar Eropa. Dengan harga yang lebih rendah puluhan ribu euro, XPeng menawarkan kemewahan yang sebanding dengan Porsche.

Bagi Volkswagen, melepas Porsche dari kelompok emisi hanyalah langkah awal dari operasi penyelamatan yang lebih besar. Volkswagen sangat membutuhkan portofolio mobil listrik massal yang kompetitif. Dua model baru yang diandalkan adalah ID. Polo dan ID. Cross, yang menjadi tulang punggung volume penjualan dealer sekaligus penyelamat matematis target emisi.

Jika Volkswagen tidak mampu menjual ratusan ribu hatchback listrik dan crossover kecil yang terjangkau kepada konsumen Eropa, target emisi Uni Eropa sebesar 49,5 g/km pada 2030 akan mustahil dicapai. Perusahaan juga tengah mengembangkan berbagai inovasi lain, termasuk eBike dengan kamera belakang dan radar blind-spot sebagai bagian dari strategi elektrifikasi.

Kemitraan dengan XPeng memberikan ruang bernapas bagi Porsche untuk mempertahankan mesin bensin dan plug-in hybrid. Para penggemar masih bisa menikmati suara khas flat-six di jalan raya, sementara pembeli kaya yang khawatir akan depresiasi mobil listrik tetap memiliki opsi kendaraan konvensional.

Keputusan Porsche ini menunjukkan bagaimana regulasi emisi Eropa justru menciptakan situasi yang tidak terduga. Alih-alih memaksa produsen besar mempercepat transisi elektrifikasi, regulasi tersebut malah mendorong Porsche membayar mahal kepada pesaing asal China agar bisa terus menjual mobil bermesin bensin. Produsen China lainnya juga terus memperkuat posisi mereka di pasar Eropa dengan berbagai model listrik baru.

Transisi menuju kendaraan listrik memang tidak akan berhenti, tetapi strategi Porsche membuktikan bahwa selalu ada jalan pintas bagi mereka yang memiliki sumber daya finansial cukup. Selama celah regulasi masih terbuka, produsen mobil besar akan terus memanfaatkannya demi mempertahankan lini produk yang menguntungkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.