📑 Daftar Isi

Ilustrasi penurunan proyeksi adopsi EV di Amerika Serikat

Proyeksi Adopsi EV AS Anjlok, Ini Dampak Kebijakan Trump

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • BloombergNEF memangkas proyeksi pangsa pasar EV AS pada 2030 dari 47,5% menjadi 17%
  • Pencabutan dukungan regulasi federal jadi faktor utama penurunan proyeksi
  • Kredit pajak EV $7.500 dihapus dan aturan efisiensi bahan bakar diperlonggar
  • Banyak model EV dibatalkan termasuk VW ID.4, Nissan Ariya, dan Ford F-150 Lightning
  • Harga EV di AS 25% lebih mahal dibanding mobil konvensional
  • Persaingan pasar EV di AS sangat minim, berbeda dengan China

Telset.id – BloombergNEF (BNEF) kembali memangkas proyeksi adopsi kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat untuk tahun 2026 dan seterusnya. Dalam laporan Electric Vehicle Outlook 2026 yang dirilis Juni lalu, BNEF menyebutkan bahwa pencabutan total dukungan regulasi federal terhadap elektrifikasi menjadi faktor utama penurunan ini. Proyeksi pangsa pasar EV AS pada 2030 kini hanya sekitar 17%, turun drastis dari perkiraan 47,5% pada 2024.

Penurunan proyeksi ini merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut. Pada 2024, BNEF optimistis bahwa hampir separuh mobil baru di AS akan memiliki colokan listrik pada akhir dekade ini. Namun, setelah kebijakan era Presiden Trump yang kedua mulai diterapkan, angka tersebut terus direvisi ke bawah.

“Ini adalah tahun kedua berturut-turut di mana kami menurunkan prospek adopsi EV baik jangka pendek maupun jangka panjang,” tulis para peneliti BNEF. “Penarikan penuh dukungan regulasi federal untuk elektrifikasi di AS adalah faktor terbesarnya.”

Dampak Regulasi dan Pajak

Banyak pertumbuhan EV di AS sebelumnya didorong oleh kebijakan pemerintah. Kini, kebijakan-kebijakan itu telah dihilangkan atau dilemahkan secara signifikan. Tahun lalu, Kongres menghapus aturan efisiensi bahan bakar yang ada dan mengakhiri kredit pajak EV sebesar $7.500 beberapa tahun lebih awal dari jadwal.

“Kemudian awal tahun ini mereka mengeluarkan proposal untuk aturan efisiensi bahan bakar yang baru,” kata Huiling Zhou, analis kendaraan listrik di BNEF. “Intinya, di bawah aturan baru itu, hanya sedikit elektrifikasi yang diwajibkan.”

Faktor lain yang mendorong penurunan ini adalah kebijakan iklim yang dikenal sebagai California waiver. Tahun lalu, Senat mencabut kemampuan negara bagian California untuk menetapkan aturan emisi yang lebih ketat dari EPA. Aturan tersebut sebelumnya mewajibkan perusahaan otomotif meningkatkan penjualan plug-in hingga 100% pasar pada 2035.

Kini aturan itu tidak berlaku, meskipun California dan negara bagian lain yang mengadopsi kebijakan serupa masih menantang keputusan tersebut di pengadilan. Tanpa beban regulasi dan melihat permintaan EV yang lebih rendah tanpa kredit pajak, perusahaan mobil mulai mundur.

Pembatalan Model dan Harga Tinggi

Produsen mobil telah menarik sejumlah model listrik dari pasar. Beberapa di antaranya termasuk Volkswagen ID.4, Nissan Ariya, Hyundai Ioniq 6, Volvo EX30, dan Ford F-150 Lightning. Stellantis menarik semua plug-in hybrid-nya, seperti versi elektrifikasi dari Jeep Wrangler dan Chrysler Pacifica minivan.

Honda juga menunda atau membatalkan sedan dan SUV “0-Series” yang direncanakan. “Tentu saja pembatalan model besar ini mempengaruhi gambaran keseluruhan,” kata Zhou. “Perkiraan jangka pendek masih sangat bergantung pada model yang tersedia.”

Meskipun sejumlah EV baru dan impresif akan segera diluncurkan—dari BMW iX5 hingga Jeep Wagoneer extended-range EV hingga Slate pickup—efek bersihnya adalah penurunan penjualan dari waktu ke waktu. Setiap pembatalan model menghilangkan potensi penjualan.

Dari sisi harga, EV di AS saat ini sekitar 25% lebih mahal dibandingkan mobil bermesin internal. Ini adalah perbedaan tertinggi di antara kawasan yang diteliti BNEF. Harga baterai yang tinggi dan biaya R&D menjadi kontributor utama.

“Hampir tidak ada persaingan, atau sangat sedikit persaingan di AS saat ini,” jelas Zhou. “Jika Anda melihat pasar seperti China, persaingan yang sangat ketat mendorong harga turun.”

Perbandingan Global

Jika dilihat secara global, Amerika Serikat semakin tertinggal. BNEF memproyeksikan penjualan plug-in global akan mencapai 23 juta unit tahun ini, atau lebih dari 27% dari total mobil yang terjual di dunia. Pangsa EV global diperkirakan mencapai 38% pada 2030.

Sementara China, Inggris, Jerman, Australia, Prancis, dan Korea Selatan diproyeksikan melampaui rata-rata global, AS akan stuck di angka kurang dari setengahnya jika tidak ada perubahan. Dalam jangka panjang, BNEF meyakini harga EV yang lebih kompetitif dan biaya kepemilikan yang lebih rendah akan mendorong penjualan mobil plug-in lebih tinggi di Amerika.

Namun untuk saat ini, harga masih menjadi titik lemah. Dengan pencabutan dukungan regulasi dan pembatalan model, masa depan EV di AS tampak suram. Para pembuat kebijakan dan pelaku industri perlu segera mengambil langkah untuk membalikkan tren ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.