📑 Daftar Isi

Strategi BYD Ekspor 2,5 Juta Mobil ke Luar Negeri pada 2027

Strategi BYD Ekspor 2,5 Juta Mobil ke Luar Negeri pada 2027

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – BYD menetapkan target ambisius untuk menjual lebih dari 2,5 juta kendaraan di pasar luar negeri pada 2027. Target ini menjadi strategi utama perusahaan asal Shenzhen tersebut untuk keluar dari perang harga yang berkepanjangan di pasar domestik China.

Informasi tersebut terungkap dalam riset Deutsche Bank yang dirilis setelah konferensi pers pasca-laporan laba dengan manajemen BYD. Perusahaan juga merevisi target ekspor untuk 2026 menjadi antara 1,9 juta hingga 2,0 juta unit. Angka ini melonjak signifikan dari target 1,3 juta unit yang disebutkan sekitar Januari lalu, dan jauh melampaui revisi 1,5 juta unit pada Maret.

Lonjakan ambisi ekspor ini didorong oleh kondisi pasar domestik yang makin tidak menguntungkan. Sepanjang delapan bulan pertama tahun ini, penjualan domestik BYD turun 32,72% menjadi 1.505.755 kendaraan. Penurunan ini ikut menyeret total penjualan global turun 6,84% menjadi 2.668.015 unit.

Namun di luar China, performa BYD berbanding terbalik. Volume penjualan luar negeri melonjak 85,72% secara tahunan dengan total 1.162.260 pengiriman. Pada Agustus saja, registrasi kendaraan BYD di luar negeri mencapai rekor 189.466 unit, atau setara 43,03% dari total produksi bulan tersebut.

Untuk mencapai target 2026 yang baru, BYD perlu menjaga rata-rata penjualan luar negeri sekitar 184.000 hingga 209.000 unit per bulan selama empat bulan terakhir. Angka Agustus menunjukkan kapasitas produksi dan distribusi mereka sudah berjalan maksimal.

Baca Juga:

Margin Keuntungan Ekspor yang Jauh Lebih Sehat

Daya tarik utama pasar luar negeri bagi BYD adalah margin keuntungan yang jauh lebih baik dibanding pasar domestik. Di China, persaingan yang ketat memaksa harga jual turun hingga marginnya menipis. Sebaliknya, konsumen luar negeri bersedia membayar dengan harga yang pantas.

Manajemen BYD mengonfirmasi bahwa operasi luar negeri menghasilkan laba sehat sekitar RMB 20.000 (sekitar EUR 2.520) per kendaraan sepanjang paruh pertama tahun ini. Dengan bantalan keuntungan sebesar itu, keputusan BYD membeli armada kapal kargo roll-on/roll-off sendiri menjadi langkah yang masuk akal secara bisnis.

Manajemen juga mengakui bahwa kapasitas pengiriman menjadi kendala utama yang menahan pengiriman luar negeri tahun ini. Kesulitan mencari ruang dek untuk mengapalkan produk adalah masalah besar, tetapi ini termasuk masalah yang baik karena permintaan sedang tinggi.

Strategi ekspor BYD juga didukung oleh daya saing produknya. Ambil contoh BYD Seal yang menyasar segmen sedan eksekutif menengah. Seal memiliki panjang 4.800 mm, lebar 1.875 mm, dan tinggi 1.460 mm dengan jarak sumbu roda 2.920 mm. Pesaing utamanya, Tesla Model 3, justru lebih kecil dengan panjang 4.694 mm dan jarak sumbu roda 2.875 mm.

Model 3 memang lebih ringan di angka sekitar 1.830 kg dibanding Seal yang mencapai 2.055 kg, memberi Tesla keunggulan kelincahan. Namun Seal menawarkan ruang kaki belakang lebih luas dan kabin yang lebih mewah. Dengan harga Eropa sekitar EUR 44.990 untuk Seal berbanding EUR 42.990 untuk Model 3, BYD menawarkan ruang eksekutif dengan harga yang kompetitif.

Di segmen crossover keluarga, BYD Atto 3 dengan panjang 4.455 mm bersaing melawan Volkswagen ID.4 yang membentang 4.584 mm. ID.4 memang menawarkan ruang kargo lebih besar, tetapi harganya kerap menembus EUR 40.000 setelah menambah fitur yang sudah menjadi standar pada Atto 3 yang dibanderol EUR 37.990.

Produksi Lokal dan Infrastruktur Pengisian Daya

Mengandalkan pengiriman mobil jadi dari China memiliki risiko, terutama karena tarif impor yang diberlakukan regulator Eropa. Karena itu, BYD mulai memindahkan produksi ke luar negeri. Fasilitas produksi di Indonesia sudah beroperasi, pabrik di Bahia, Brasil sedang ditingkatkan menuju kapasitas tahunan 300.000 kendaraan, dan pabrik di Szeged, Hongaria akan memulai perakitan sekitar November atau Desember.

Manajemen BYD juga sedang menjajaki lokasi produksi tambahan di luar negeri untuk memperdalam akar manufaktur lokal mereka. Langkah ini penting untuk mengantisipasi hambatan tarif dan memperpendek rantai pasok.

Perjalanan BYD menuju posisi sekarang tidak singkat. Pada pertengahan 1990-an, pendiri Wang Chuanfu menjalankan bisnis baterai isi ulang untuk ponsel. Saat membeli produsen mobil milik negara yang bangkrut bernama Qinchuan pada 2003 demi lisensi manufaktur otomotif, para investor justru lari dan harga saham perusahaan jatuh.

Mobil awal BYD memang kasar dengan kemudi longgar dan interior murah. Namun Wang terus menginvestasikan kembali keuntungannya, terutama pada kimia baterai. Hasilnya adalah generasi pertama Blade Battery, paket baterai lithium iron phosphate struktural yang mampu bertahan dari uji tusuk paku tanpa terbakar, serta drivetrain hybrid plug-in DM-i yang sangat irit bahan bakar.

Meski fokus ke ekspor, BYD tidak meninggalkan pasar domestik. Perusahaan tetap menargetkan sekitar 25% pangsa pasar otomotif China secara total. Serangan domestik mereka mengandalkan peluncuran teknologi flash charging ultra-cepat dan Blade Battery generasi kedua.

Namun antusiasme pasar domestik telah melampaui pasokan komponen. Tunggakan pesanan kendaraan yang kompatibel dengan flash charging mencapai sekitar 250.000 unit. Kendala baterai memperlambat pengiriman, meski BYD memperkirakan keterbatasan pasokan Blade Battery baru akan selesai sepenuhnya pada kuartal pertama 2027.

Teknologi pengisian cepat tidak berguna tanpa infrastruktur pendukung. Karena itu BYD gencar membangun jaringan pengisian dayanya sendiri. Di China, mereka menargetkan 20.000 stasiun flash charging pada akhir 2026, menambah 30.000 pada 2027, dan 40.000 lagi pada 2028, membentuk backbone pengisian 90.000 hub.

Di luar negeri, rencananya lebih sederhana: 6.000 stasiun flash charging secara global pada akhir Maret 2027, terdiri dari 3.000 di Eropa, 2.000 di Amerika, dan 1.000 di kawasan Asia-Pasifik. Ekspansi infrastruktur ini menjadi kunci untuk meyakinkan konsumen luar negeri bahwa membeli EV BYD tidak akan menyulitkan mereka dalam hal pengisian daya.

Bidang terakhir yang perlu diyakinkan BYD adalah perangkat lunak. Platform mekanis dan elektronika daya mereka sudah solid, tetapi sistem infotainment dan bantuan pengemudi tingkat lanjut sebelumnya belum sepolos produk dari Silicon Valley atau startup China seperti XPeng. Investasi riset dan pengembangan kini diarahkan ke sana.

BYD menjanjikan lompatan besar dalam kemampuan mengemudi otonom proprietary untuk 2027, dengan peluncuran yang disinkronkan menyambut kerangka regulasi Level 3 China yang akan datang. Pemasok teknologi eksternal diharapkan membantu BYD bersaing melawan tim rekayasa internal, dalam upaya meniru integrasi vertikal yang membuat divisi baterainya begitu dominan.

Strategi ekspansi tiga benua ini menjadi sinyal kuat bagi para pemain otomotif Barat. Saat pabrikan Barat justru mengurangi ekspansi, BYD memperluas operasi di tiga benua sekaligus. Dengan pabrik lokal yang beroperasi, armada kapal kargo yang berjalan lancar, dan jaringan pengisian daya milik sendiri, BYD sedang bertransformasi menjadi kekuatan otomotif global yang sulit dihentikan.

Perkembangan ekspor BYD ini sejalan dengan tren yang pernah kami bahas sebelumnya. Pendapatan dari luar negeri kini menjadi penopang utama bisnis BYD. Sementara itu, kompetisi di pasar global juga makin ketat dengan kehadiran pemain baru seperti Toyota bZ5 2027 yang menawarkan harga agresif. BYD juga terus memperbarui lini produknya dengan model-model baru seperti BYD Great Seagull yang dijadwalkan meluncur akhir 2026.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.