Telset.id – Penggunaan layar sentuh yang semakin masif di kabin mobil ternyata berdampak buruk bagi keselamatan berkendara. Sebuah studi terbaru dari Vi Bilägare mengungkapkan bahwa gangguan layar sentuh di mobil justru semakin parah, di mana pengemudi kini membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas sederhana seperti mengatur AC atau mengganti stasiun radio.
Studi yang dilakukan pada 2026 ini merupakan kelanjutan dari penelitian serupa pada 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata jarak tempuh kendaraan saat pengemudi menyelesaikan tugas-tugas tertentu meningkat dari 756 meter pada 2022 menjadi 813 meter pada 2026. Artinya, pengemudi membutuhkan tambahan dua detik lebih lama untuk menyelesaikan tugas yang sama dalam kondisi yang identik empat tahun kemudian.
Metodologi dan Temuan Utama Studi
Metodologi yang digunakan dalam studi ini dirancang untuk mereplikasi pengalaman pengemudi sesungguhnya. Para partisipan diminta untuk mengatur suhu AC, mengganti stasiun radio, dan mengubah kecerahan layar saat melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi di area bandara tertutup. Sebelum pengujian, para pengemudi diminta membiasakan diri dengan pengaturan spesifik mobil untuk meniru pengalaman pemilik kendaraan yang sebenarnya.
Hasil pengukuran dilakukan berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap tugas serta jarak tempuh kendaraan selama penyesuaian pengaturan tersebut. Angka 813 meter pada 2026 menjadi indikator bahwa kompleksitas antarmuka layar sentuh di mobil modern justru meningkat, bukan menurun.
Untuk memberikan konteks yang lebih jelas, pada 2005 lalu, Volvo V70 sempat dikritik karena memiliki tombol kontrol media yang rumit dan kontrol dashboard yang berantakan. Namun, rata-rata waktu untuk menyelesaikan tugas serupa hanya membutuhkan jarak tempuh 288 meter. Perbandingan ini menunjukkan bahwa masalah gangguan layar sentuh saat ini jauh lebih serius dibandingkan era sebelum layar sentuh mendominasi kabin mobil.
Baca Juga:
Mazda Terburuk, Volvo Terbaik
Studi ini juga mengungkapkan perbedaan signifikan antar merek mobil. Mazda tercatat sebagai merek dengan performa terburuk, di mana CX-60 membutuhkan jarak 1.137 meter untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan. Temuan ini cukup menarik mengingat Mazda kerap mengiklankan keamanan dan kemudahan penggunaan sistem infotainment-nya.
Di sisi lain, Volvo berada di spektrum yang berlawanan dengan skor 485 meter dalam pengujian yang sama. Audi juga disebutkan tengah menanggapi masalah ini dengan serius dan berencana menghadirkan kembali kontrol hardware untuk fitur-fitur yang paling sering digunakan.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa salah satu cara efektif untuk mengurangi waktu gangguan adalah dengan memindahkan layar infotainment lebih tinggi di dashboard. Posisi layar yang lebih tinggi terbukti dapat mengurangi waktu distraksi bagi pengemudi.
Hasil studi ini menjadi peringatan penting bagi industri otomotif yang semakin mengandalkan layar sentuh. Meskipun tren teknologi di dalam mobil terus berkembang, keselamatan pengemudi tetap harus menjadi prioritas utama. Beberapa merek seperti Audi mulai menyadari pentingnya keseimbangan antara teknologi dan fungsionalitas dengan mengembalikan tombol fisik untuk kontrol yang esensial.
Kesimpulannya, data dari studi Vi Bilägare menunjukkan bahwa industri otomotif perlu mengevaluasi ulang pendekatan mereka terhadap desain antarmuka kendaraan. Peningkatan jarak tempuh dari 756 meter menjadi 813 meter dalam empat tahun adalah bukti bahwa masalah ini tidak boleh diabaikan. Pengemudi membutuhkan solusi yang mengutamakan keselamatan tanpa mengorbankan fungsionalitas teknologi modern.
Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan pembelian mobil baru, hasil studi ini bisa menjadi pertimbangan penting. Memilih kendaraan dengan kontrol fisik yang memadai atau sistem infotainment yang dirancang dengan baik dapat membuat perbedaan signifikan dalam hal keselamatan berkendara sehari-hari.





Komentar
Belum ada komentar.