Telset.id – Transport & Environment (T&E) mengusulkan pembatasan kapasitas tangki bahan bakar pada mobil plug-in hybrid (PHEV) menjadi maksimal 15 liter atau sekitar empat galon AS. Usulan ini muncul karena data menunjukkan PHEV yang terdaftar di Eropa pada 2024 menghasilkan emisi CO₂ hampir enam kali lipat dari angka resminya. Organisasi advokasi transportasi bersih Eropa itu menilai tangki lebih kecil akan mendorong pemilik PHEV lebih sering mengisi daya dan mengandalkan tenaga listrik.
Angka tersebut naik dibandingkan model 2023 yang berada di level lima kali lipat. Berdasarkan analisis T&E atas data European Environment Agency, emisi dunia nyata PHEV hanya 14 persen lebih rendah dibanding mobil pembakaran dan hybrid konvensional, padahal angka resmi menjanjikan pengurangan hingga 83 persen. Penggerak listrik murni hanya mencakup 27 persen dari total jarak tempuh. Mesin bensin menyala selama 32 persen kilometer yang seharusnya mengandalkan baterai.
Kondisi ini menjelaskan mengapa PHEV dianggap gagal memenuhi janji awalnya. Mobil plug-in hybrid dijanjikan bisa melaju listrik murni di hari kerja dan bebas jarak jauh dengan bensin saat akhir pekan. Namun karena tetap bisa memakai bensin, banyak pengemudi malas mencolokkan kabel pengisian. Akibatnya, manfaat penghematan bahan bakar dan penurunan emisi berkurang atau bahkan hilang sama sekali.
Kriteria PHEV yang Dianggap Masuk Akal
Dalam laporannya, T&E merekomendasikan sejumlah kriteria agar listrik menjadi daya tarik utama dan bensin benar-benar berfungsi sebagai cadangan. Pertama, jangkauan listrik dunia nyata minimal 200 kilometer pada 2030. Kedua, daya pengisian DC di atas 100 kilowatt. Ketiga, motor listrik dengan tenaga minimal tiga kali lipat mesin pembakaran.
Mobil dengan spesifikasi seperti itu sebenarnya sudah ada. Lynk & Co 08 disebut memiliki baterai 39,6 kWh dengan klaim jangkauan listrik WLTP 200 kilometer. Dalam pengujian, mobil ini sebagian besar berperilaku seperti kendaraan listrik murni meski mesin bensinnya juga bisa menggerakkan roda secara langsung. Konsepnya mirip dengan extended-range EV yang menuju pasar Amerika Serikat, tetapi dengan tangki bensin lebih kecil untuk memberi alasan tambahan bagi pemilik agar rajin mengisi daya.
T&E juga menemukan bahwa PHEV dengan motor listrik lebih kuat relatif terhadap mesin pembakarannya cenderung memiliki emisi dunia nyata lebih rendah. Jangkauan listrik yang lebih panjang membantu, tetapi motor juga perlu cukup bertenaga untuk menggerakkan mobil tanpa sering meminta bantuan mesin. Pada Lynk & Co 08, saat kecepatan highway tinggi dan pengemudi menekan pedal untuk mengakses seluruh performa, mesin bensin terpaksa menyala. Jika motor listrik menyediakan sebagian besar tenaga yang bisa dipakai, mesin akan lebih jarang terbangun.
Baca Juga:
Biaya Operasional dan Tekanan Regulasi
Dampak finansialnya juga nyata. T&E menemukan bahwa PHEV yang sebagian besar dijalankan dengan bahan bakar membuat biaya operasional tahunan membengkak. Dengan asumsi harga bahan bakar 2026, T&E memperkirakan biaya pengoperasian tahunan €1.810 untuk PHEV 2024, versus €1.130 yang disiratkan angka konsumsi resmi. Artinya ada selisih €680 per tahun.
Regulasi emisi Uni Eropa yang lebih ketat disebut T&E mulai mendorong pabrikan memperbesar jangkauan listrik PHEV. Contohnya Volkswagen Tiguan eHybrid generasi baru yang diluncurkan 2024, menawarkan 119 kilometer versus 55 kilometer pada pendahulunya. Tambahan jangkauan itu membantu menjaga angka emisi resminya nyaris tidak berubah meski perhitungannya lebih ketat. Namun pabrikan Jerman ingin membekukan putaran koreksi berikutnya. T&E memperingatkan langkah itu akan meremehkan emisi dunia nyata sebesar 56 persen.
Insentif juga masih tidak merata di seluruh benua. Perusahaan membeli 71 persen PHEV di Uni Eropa pada awal 2026, meski 24 negara anggota menyediakan perlakuan pajak preferensial atau program insentif tertentu. Tangki empat galon dipastikan menarik perhatian pemilik dan membuat mereka lebih memikirkan penggerak listrik. Apakah langkah ini justru membuat kendaraan kurang menarik, itu topik lain.
Ide pembatasan tangki masuk akal jika mobil mampu menangani sebagian besar perjalanan dengan listrik dan menyisakan bensin untuk kondisi darurat. Jika tidak, tangki lebih kecil hanya berarti pemilik akan lebih akrab dengan stasiun bahan bakar lokal dan mengunjunginya lebih sering. Sebagai konteks industri, pendekatan plug-in juga tengah berkembang di sektor lain, seperti solar plug-in dan dampak asuransi yang menunjukkan adopsi teknologi plug-in butuh dukungan kebijakan dan perhitungan biaya yang jelas.





Komentar
Belum ada komentar.