📑 Daftar Isi

Ilustrasi truk hidrogen dan truk listrik bersaing di jalan raya China

Truk Hidrogen Kalah Saing oleh Truk Listrik di China

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Truk listrik mulai mengungguli truk hidrogen di China.
  • Laporan internal Sinopec mengakui tren ini.
  • Bobot tangki hidrogen yang berat menjadi salah satu kelemahan.
  • Sekitar 98% hidrogen masih berasal dari bahan bakar fosil.
  • Infrastruktur pengisian daya EV China yang maju menjadi kunci.
  • Rencana lima tahun China lebih fokus pada truk listrik.
  • Hidrogen hanya berpeluang di ceruk jarak sangat jauh.
  • Masa depan truk hidrogen di China tampak suram.

Telset.id – Truk berat bertenaga hidrogen mulai tersingkir oleh truk listrik murni di China, seiring kemajuan pesat teknologi baterai dan infrastruktur pengisian daya yang menggerus keunggulan hidrogen. Hal ini terungkap dalam laporan internal dari majalah Sinopec, perusahaan minyak negara China.

Selama bertahun-tahun, kendaraan fuel cell hidrogen dianggap sebagai opsi ramah lingkungan yang lebih padat energi dibandingkan kendaraan baterai listrik, terutama untuk aplikasi berat seperti truk. Namun, keunggulan tersebut mulai runtuh ketika ditelaah lebih dalam. Meskipun hidrogen memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi, molekul hidrogen yang sangat kecil dan cenderung bocor membutuhkan tangki bertekanan tinggi yang sangat berat. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa tangki pada truk hidrogen saja bisa memiliki bobot lebih dari seribu pon (sekitar 450 kilogram), yang secara signifikan mengurangi keunggulan bobot kendaraan.

Selain masalah infrastruktur dan bobot, hidrogen juga kurang bersih dibandingkan baterai listrik. Hal ini disebabkan oleh inefisiensi energi yang melekat dalam proses produksi, distribusi, dan penggunaan hidrogen. Lebih penting lagi, meskipun ada potensi untuk menghasilkan “hidrogen hijau” dari elektrolisis air menggunakan energi terbarukan, kenyataannya sekitar 98% hidrogen yang beredar saat ini berasal dari pemecahan molekul hidrokarbon, terutama metana. Artinya, sebagian besar kendaraan hidrogen masih beroperasi dengan bahan bakar fosil. Fakta inilah yang menjadi alasan mengapa perusahaan minyak besar, termasuk Sinopec sebagai perusahaan minyak terbesar kedua di dunia, menunjukkan minat besar pada teknologi hidrogen.

Kemajuan EV China yang Mematikan Hidrogen

Sinopec, melalui laporan internalnya, mengakui bahwa hidrogen telah melewati “lembah kematian” adopsi teknologi baru. Biaya peralatan hidrogen dan harga hidrogen itu sendiri terus menurun, sementara efisiensi fuel cell meningkat. Namun, kabar buruknya adalah bahwa kemajuan luar biasa China di sektor kendaraan listrik telah membuat truk listrik baterai mulai mengungguli truk hidrogen di berbagai lini.

Dulu, anggapan umum adalah bahwa kendaraan listrik akan menggantikan kendaraan bensin, sementara kendaraan hidrogen akan menggantikan kendaraan diesel. Keunggulan komparatif truk hidrogen dianggap terletak pada emisi nol dan jarak tempuh jauh. Namun, laporan Sinopec dengan jelas menyatakan, “Dengan kemajuan teknologi kendaraan listrik dan pengembangan infrastruktur pengisian daya serta penukaran baterai, terdapat tren yang berkembang di mana truk listrik berat mengambil alih skenario aplikasi tradisional kendaraan bertenaga hidrogen—yaitu, ‘beban menengah hingga berat dan jarak jauh’.”

China telah dengan cepat menerapkan EV di aplikasi konsumen, termasuk pengisi daya ultra-cepat 1,5 MW yang beberapa kali lebih cepat dari yang tersedia di Amerika Serikat. Bahkan, pengisi daya 1,5 MW untuk mobil ringan ini lebih cepat daripada beberapa pengisi daya truk berat tercepat di AS. Sementara elektrifikasi truk berat di China sempat tertinggal dari kendaraan konsumen, truk listrik kini mulai melonjak dan pemerintah telah mengalihkan fokusnya ke arah tersebut.

Dalam rencana lima tahun baru pemerintah China, dokumen yang mengendalikan prioritas nasional, truk listrik baterai disebutkan sebagai teknologi yang sudah berjalan, sementara hidrogen masih diperlakukan sebagai teknologi yang masih dalam tahap penelitian untuk masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu dari keduanya memiliki momentum yang jauh lebih besar.

Keunggulan efisiensi energi, perkembangan infrastruktur yang sudah matang, dan kemampuan untuk berbagi infrastruktur dengan kendaraan konsumen (seperti manufaktur baterai, pengembangan pengisian daya, dan potensi penukaran baterai) membuat hidrogen semakin sulit mendapatkan pijakan di sektor truk berat.

Masa Depan Hidrogen di Sektor Transportasi

Sinopec memang masih menyisakan secercah harapan untuk hidrogen. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa hidrogen masih memiliki peluang untuk menemukan ceruk pasar di aplikasi jarak sangat jauh, mengingat potensi jarak tempuh dan kapasitas muatan yang lebih tinggi. Namun, menemukan ceruk tersebut di dunia dengan penetrasi pasar EV yang tinggi akan menjadi tantangan yang sangat berat.

Laporan ini menjadi indikator kuat bahwa persaingan antara truk listrik dan truk hidrogen telah memasuki babak baru. Dengan dukungan kebijakan pemerintah China yang jelas lebih condong ke truk baterai listrik, serta infrastruktur yang terus berkembang, masa depan truk hidrogen di China tampak semakin suram. Meskipun hidrogen masih dianggap sebagai solusi potensial untuk beberapa aplikasi khusus, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa baterai listrik telah memenangkan pertempuran awal di sektor transportasi berat.

Fenomena ini juga membuka diskusi lebih luas tentang masa depan energi bersih. Apakah hidrogen akan tetap menjadi “teknologi masa depan” selamanya, atau akankah ia menemukan peran yang lebih konkret di luar sektor transportasi? Yang jelas, untuk saat ini, truk listrik telah membuktikan diri sebagai pemenang di China, dan tren ini kemungkinan akan diikuti oleh negara-negara lain.

Bagi pengamat industri, perkembangan ini menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur pengisian daya dan teknologi baterai memberikan dampak yang lebih langsung dan signifikan dalam mempercepat transisi energi di sektor transportasi, dibandingkan dengan pengembangan teknologi hidrogen yang masih menghadapi banyak hambatan.

Dengan segala tantangan yang ada, tidak mengherankan jika banyak pihak mulai mempertanyakan kembali kelayakan investasi besar-besaran di truk hidrogen. Data dari China, yang merupakan pasar otomotif terbesar di dunia, memberikan bukti empiris yang kuat bahwa masa depan transportasi berat mungkin akan lebih didominasi oleh baterai listrik daripada fuel cell hidrogen.

Kesimpulannya, laporan internal Sinopec ini bukan hanya sekadar catatan tentang persaingan teknologi, tetapi juga merupakan pengakuan dari salah satu pemain minyak terbesar di dunia bahwa era hidrogen di sektor transportasi mungkin tidak akan pernah benar-benar tiba, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Fokus kini beralih ke bagaimana industri dapat beradaptasi dengan realitas baru di mana baterai listrik menjadi tulang punggung elektrifikasi transportasi, termasuk untuk kendaraan berat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.