Telset.id – Perusahaan tambang asal Swedia, LKAB, resmi mengoperasikan dua truk listrik Scania dengan bobot kotor kendaraan (GVW) mencapai 130 ton di tambang bijih besi Malmberget. Lokasi tambang ini berada lebih dari 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer di bawah permukaan bumi, menjadikannya salah satu operasi penambangan bawah tanah terdalam yang menggunakan kendaraan listrik berat.
Dua truk angkut bertenaga baterai ini memiliki kapasitas muatan lebih dari 150.000 pon atau sekitar 68 ton per unitnya. Dalam satu hari operasional penuh, kedua truk listrik tersebut mampu memindahkan lebih dari 3.200 ton bijih besi dari kedalaman tambang menuju permukaan.

Spesifikasi Teknis Truk Listrik Scania
Truk listrik bawah tanah ini merupakan prime mover ultra heavy-duty dengan konfigurasi penggerak 6×4. Ditenagai baterai lithium-ion berkapasitas 624 kWh, truk ini dijanjikan mampu beroperasi selama tujuh jam penuh dalam kondisi terisi penuh saat membawa muatan maksimal.
Menariknya, kondisi bawah tanah justru menjadi lingkungan yang ideal untuk pengoperasian kendaraan listrik. Pär Sundqvist, Engineer Electrification di LKAB, menjelaskan bahwa lingkungan tambang yang gelap ternyata sangat cocok untuk kendaraan listrik.
“Lingkungannya gelap, tetapi ini ideal untuk kendaraan listrik,” ujar Sundqvist. “Kami memiliki jalan yang bagus dan suhu konstan sekitar 12 hingga 15 derajat Celsius, yang sempurna untuk baterai.”
Proses pengisian daya dilakukan menggunakan konektor CCS dengan kecepatan hingga 375 kW. Menurut Scania, dibutuhkan waktu sekitar 80 menit untuk mengisi penuh baterai yang cukup untuk satu shift kerja penuh.
Arsitektur Kelistrikan yang Berbeda
Hal menarik dari truk listrik tambang LKAB ini adalah arsitektur kelistrikannya yang tidak menggunakan e-axle seperti yang umum ditemui pada truk listrik jalan raya dari Mercedes-Benz atau Tesla. Sebaliknya, arsitektur BEV vocational berat Scania ini menggunakan mesin listrik sentral yang dikombinasikan dengan gearbox otomatis dan as roda penggerak konvensional.
Kombinasi ini menghasilkan torsi yang lebih besar dibandingkan truk jalan raya Scania R45 yang memiliki tenaga 450 kW (sekitar 610 hp) dan torsi 3.500 Nm (sekitar 2.580 lb-ft). Sistem gear down pada truk tambang ini memberikan torsi tambahan yang dibutuhkan untuk operasional berat di lingkungan bawah tanah.
Peter Gustavsson, Project Manager Electrification of Mobile Machines di LKAB, menekankan tingkat kustomisasi yang tinggi pada truk-truk ini. “Truk-truk ini disesuaikan untuk kebutuhan spesifik kami,” kata Gustavsson. “Kami bekerja sama erat dengan Scania untuk mengadaptasinya untuk penggunaan bawah tanah. Ini merupakan kemitraan yang hebat.”
Target Elektrifikasi Armada LKAB
Truk listrik bawah tanah LKAB ini bahkan tidak memiliki nama resmi, hanya disebut sebagai truk bawah tanah bertenaga baterai milik LKAB. Namun, Scania dikabarkan sedang mengembangkan truk yang lebih besar lagi, yakni truk 8×4 dengan kapasitas 80 ton yang diberi nama “Sleipner”.
LKAB menargetkan elektrifikasi 30 persen armada tambangnya pada tahun 2027. Dengan pengoperasian truk listrik Scania ini, perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tersebut. Keberhasilan ini membuktikan bahwa transportasi berat bertenaga listrik dapat mendukung operasional yang lebih aman, lebih senyap, dan lebih berkelanjutan.
Baca Juga:

Dampak bagi Industri Kendaraan Listrik Berat
Pengoperasian truk listrik Scania di tambang LKAB ini menjadi bukti nyata bahwa elektrifikasi tidak hanya terbatas pada kendaraan penumpang atau truk distribusi perkotaan. Sektor pertambangan yang selama ini identik dengan mesin diesel besar dan emisi tinggi, kini mulai beralih ke solusi listrik.
Kondisi tambang bawah tanah dengan suhu konstan 12-15 derajat Celsius terbukti menjadi lingkungan yang menguntungkan bagi performa baterai. Hal ini menjadi data penting bagi industri pertambangan lain yang ingin melakukan transisi serupa.
Keberhasilan LKAB mengoperasikan truk listrik 130 ton ini juga menunjukkan bahwa teknologi baterai modern sudah cukup matang untuk menangani aplikasi heavy-duty yang paling menantang sekalipun. Dengan kapasitas baterai 624 kWh dan kemampuan pengisian daya cepat 375 kW, truk ini mampu menggantikan peran truk diesel konvensional di lingkungan tambang.
Baca Juga:
Masa Depan Kendaraan Listrik di Sektor Pertambangan
Dengan target elektrifikasi 30 persen armada pada 2027, LKAB menunjukkan komitmen serius terhadap keberlanjutan operasional. Pengalaman LKAB dalam mengoperasikan truk listrik bawah tanah ini akan menjadi referensi berharga bagi perusahaan tambang lain di seluruh dunia.
Scania sendiri terus mengembangkan lini kendaraan listrik heavy-duty-nya, termasuk rencana peluncuran truk “Sleipner” dengan kapasitas 80 ton. Hal ini menandakan bahwa pasar untuk kendaraan listrik berat di sektor pertambangan dan konstruksi akan semakin berkembang.
Keberadaan truk listrik yang lebih senyap juga memberikan keuntungan tambahan bagi pekerja tambang. Lingkungan kerja yang lebih tenang dan bebas emisi gas buang tentu meningkatkan kualitas keselamatan dan kesehatan kerja di area tambang bawah tanah.
Pengoperasian dua truk listrik Scania di tambang Malmberget ini menjadi tonggak penting dalam sejarah elektrifikasi kendaraan berat. Kombinasi antara kapasitas baterai besar, infrastruktur pengisian daya cepat, dan lingkungan operasional yang mendukung membuktikan bahwa truk listrik heavy-duty bukan lagi sekadar konsep, melainkan solusi nyata yang sudah beroperasi hari ini.





Komentar
Belum ada komentar.