Telset.id – Ancaman keamanan bawah air modern tidak lagi hanya berasal dari satu kapal selam senyap, melainkan dari gerombolan drone murah dengan berbagai ukuran yang bisa menyasar dermaga, kabel bawah laut, hingga pipa. Menjawab tantangan ini, Ultra Maritime, perusahaan teknologi pertahanan, memadukan dua teknologi sonar yang sudah ada untuk mendeteksi Unmanned Underwater Vehicles (UUV) atau drone bawah air secara lebih andal.
Ultra Maritime menunjukkan bahwa kombinasi Sea Spear, sebuah array sonar pasif yang dapat dikerahkan, dengan AN/SSQ-125B, sonobuoy sonar aktif, mampu bekerja sama untuk melacak UUV dengan lebih baik. Sistem ini diuji dalam latihan Lanternfish 2026 Angkatan Laut AS dan berhasil mendeteksi serta mengklasifikasikan UUV dari berbagai ukuran dan tingkat kecanggihan.
Yang menarik dari pendekatan ini adalah bukan pada penemuan teknologi baru, melainkan pada integrasi cerdas dari teknologi yang sudah teruji. Array sonar pasif dan sonobuoy aktif telah digunakan selama bertahun-tahun oleh Angkatan Laut AS dan banyak negara di dunia sejak Perang Dunia II untuk mendeteksi kapal selam. Bahkan, pendekatan dasarnya—mendengarkan pasif dan memancarkan sinyal aktif—sudah ada sejak Perang Dunia I.
Nilai taktis dari integrasi ini terletak pada cara kerja keduanya yang saling melengkapi. Sonar pasif bersifat senyap dan tidak mengungkap posisi pendengar, namun hanya bisa memberikan arah dari objek yang terdeteksi. Sementara itu, sonar aktif dapat menentukan jarak dan lokasi secara akurat, tetapi bagi unit angkatan laut modern, penggunaannya seperti pisau bermata dua karena secara efektif mengumumkan kehadiran kapal di suatu wilayah.
Dengan menggabungkan keduanya, sistem ini pertama-tama menggunakan sonar pasif untuk menentukan apakah ada sesuatu yang layak dideteksi, kemudian beralih ke sonar aktif untuk menentukan lokasi spesifiknya saat diperlukan. Pendekatan ini memungkinkan deteksi yang lebih presisi tanpa harus terus-menerus mengorbankan posisi taktis.
Konsep Ocean of Things dari perusahaan ini memperluas pendekatan tersebut menjadi jaring-jaring sensor otonom yang disebar dari platform berawak maupun tanpa awak. Arsitektur terdistribusi ini menghubungkan data dari berbagai sensor ke sistem komando Angkatan Laut AS dan juga ke Seabed Sentry milik Anduril, menghasilkan pembacaan yang akurat dan dapat digunakan untuk kendaraan bawah air tanpa awak.
Baca Juga:
Timing pengumuman ini sangat tepat bagi calon pembelinya. Kontraktor pertahanan Lockheed Martin baru-baru ini sepakat untuk membeli Ultra Maritime dari pemilik ekuitas swasta Advent dengan nilai USD 3,45 miliar. Akuisisi ini akan menambah Ultra Maritime ke divisi Rotary and Mission Systems milik Lockheed Martin.

Dengan banyaknya angkatan laut yang kesulitan mengidentifikasi dan menghentikan drone bawah air yang menjadi ancaman persisten bagi operasi dan kemampuan pertahanan mereka, pendekatan dua cabang dari Ultra Maritime ini tampak seperti langkah yang menarik untuk diadopsi. Sistem ini menggabungkan infrastruktur dasar laut yang sudah ada dan dapat diskalakan dengan jaring-jaring array pendengaran murah dan pelampung pemancar sinyal yang dapat dihabiskan.
Ancaman drone bawah air ini tidak bisa dianggap remeh. Berbeda dengan kapal selam besar yang relatif mudah dilacak dengan sonar konvensional, drone kecil jauh lebih sulit dilacak secara andal. Ukurannya yang bervariasi dan biaya produksinya yang relatif murah membuatnya menjadi ancaman yang persisten dan sulit diantisipasi.
Rantai deteksi yang dibangun sistem ini bekerja dengan cara mendeteksi keberadaan aset angkatan laut musuh potensial di sekitar sensor, kemudian memberi peringatan kepada operator. Sensor-sensor yang bekerja secara tandem ini menghasilkan informasi yang lebih andal dibandingkan jika bekerja sendiri-sendiri.
Pendekatan Ultra Maritime menunjukkan bahwa solusi untuk tantangan keamanan modern tidak selalu harus berupa teknologi baru yang revolusioner. Terkadang, integrasi cerdas dari teknologi yang sudah terbukti dan dimanfaatkan secara berbeda justru bisa menjadi jawaban yang lebih praktis dan efektif.
Ke depan, kemampuan untuk mendeteksi dan melacak UUV secara andal akan menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya penggunaan drone bawah air baik oleh kekuatan militer maupun aktor non-negara. Sistem seperti yang dikembangkan Ultra Maritime ini bisa menjadi fondasi penting bagi strategi pertahanan bawah air di masa mendatang.
Bagi industri pertahanan, pendekatan ini juga menunjukkan tren yang menarik: alih-alih selalu mengembangkan platform baru, menggabungkan dan mengintegrasikan aset yang sudah ada dengan cara yang lebih cerdas bisa menghasilkan kemampuan baru yang signifikan. Ini sejalan dengan kebutuhan efisiensi anggaran pertahanan di berbagai negara.
Dengan uji coba yang berhasil dalam latihan Lanternfish 2026 dan integrasi dengan sistem Seabed Sentry Anduril, Ultra Maritime telah menunjukkan bahwa solusinya bukan sekadar konsep, melainkan teknologi yang sudah bekerja dan siap digunakan. Ini menjadi nilai jual utama di tengah meningkatnya kebutuhan akan sistem deteksi bawah air yang andal.





Komentar
Belum ada komentar.