📑 Daftar Isi

US Air Force mencari drone target yang mampu meniru jet tempur siluman untuk pengujian pertahanan

US Air Force Cari Drone Target Tiru Jet Tempur Siluman

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • US Air Force mengeluarkan Request for Information untuk drone target dengan tenggat 28 September 2026
  • Drone harus mampu meniru ancaman dari drone hobi murah hingga jet tempur siluman generasi kelima
  • Spesifikasi mencakup kecepatan Mach 1.6 di ketinggian 40.000 kaki untuk simulasi pesawat supersonik
  • Platform besar harus beroperasi di ketinggian 50.000 kaki, menengah di Mach 0.5-0.8, kecil di bawah 150 knot
  • Pendekatan baru menekankan biaya murah dan sistem expendable, tidak hanya kontraktor pertahanan tradisional
  • AS kehilangan 45 drone MQ-9 Reaper (25% armada) senilai $1,3 miliar di Iran, mendorong fokus pada solusi murah
  • Program ini mengikuti sejarah panjang pesawat target sejak Tiger Moth tahun 1930-an dan BQM-167A sejak 2007

Telset.id – Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) tengah mencari proposal industri untuk mengembangkan drone target yang mampu meniru berbagai ancaman udara, mulai dari pesawat nirawak komersial murah hingga jet tempur siluman generasi kelima. Permintaan Informasi (Request for Information) yang baru dirilis menetapkan batas waktu 28 September 2026 bagi perusahaan untuk menyerahkan konsep mereka.

Seri drone yang diminta ini dirancang untuk mencakup hampir semua kategori ancaman udara, dari platform kecil bergaya hobi hingga pesawat pengebom berat. Langkah ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan pergeseran strategi militer AS dalam menghadapi ancaman drone modern yang semakin beragam dan murah.

Spesifikasi Drone Target untuk Berbagai Ancaman

Dalam permintaan tersebut, US Air Force mendeskripsikan platform yang harus mampu menggantikan drone hobi murah di satu sisi, dan pesawat tempur canggih atau pesawat multi-mesin besar di sisi lain. Untuk simulasi pesawat tempur supersonik, drone target harus mampu terbang dengan kecepatan melebihi Mach 1.6 di ketinggian sekitar 40.000 kaki, dikombinasikan dengan manuver high-G yang tajam.

Selain itu, sistem ini juga harus memiliki tanda radar yang dikontrol ketat serta emisi inframerah dan frekuensi radio berlapis yang menyerupai pesawat tempur asli. Sistem yang dirancang untuk menggantikan drone besar harus beroperasi di ketinggian mendekati 50.000 kaki, sesuai dengan ketinggian terbang aktual pesawat tersebut.

Platform berukuran menengah harus mampu terbang dengan kecepatan antara Mach 0.5 hingga 0.8 sambil melakukan manuver tajam dan kuat seperti pesawat tempur asli. Sementara itu, sistem yang lebih kecil untuk menggantikan drone pengintai kelas kompak akan terbang di bawah 150 knot dan mendukung perilaku swarm yang terkoordinasi.

Untuk pesawat seukuran C-130, para insinyur lebih fokus pada pencocokan skala fisik, penanganan subsonik, dan perilaku propulsi daripada performa mentah. Akurasi ini memungkinkan para insinyur menguji seberapa baik sistem pemandu rudal dan hulu ledak akan bekerja melawan pesawat berukuran realistis.

Biaya dan Sejarah Membentuk Pendekatan Baru

Layanan militer ini secara eksplisit menyatakan bahwa keterjangkauan sama pentingnya dengan realisme. Mereka mendeskripsikan preferensi untuk sistem yang cukup murah dan sederhana sehingga bisa diperlakukan sebagai barang habis pakai saat pengujian membutuhkannya.

Daripada hanya mengandalkan kontraktor pertahanan tradisional, US Air Force mengundang proposal komersial, komersial yang dimodifikasi, dan dual-use yang mungkin bisa menekan biaya dan kompleksitas program lama. Pendekatan ini mengikuti hampir satu abad sejarah pesawat target yang dikendalikan jarak jauh, dimulai dari pesawat latih Tiger Moth konversi Inggris yang diterbangkan pada tahun 1930-an.

Sejak 2007, US Air Force telah mengandalkan BQM-167A, sebuah drone subsonik subskala dengan panjang sekitar 20 kaki, jauh lebih kecil dari pesawat tempur J-20 China atau pengebom H-6. Layanan ini juga mengoperasikan QF-16, sebuah F-16 pensiun yang dikonversi untuk berdiri sebagai pesawat tempur ancaman generasi keempat skala penuh. Meskipun tidak bisa secara meyakinkan mereplikasi pesawat siluman modern, QF-16 masih terlalu mahal untuk dihabiskan dalam jumlah besar.

F-35 fighter jet

Setelah keterlibatan militernya di Iran, AS memiliki alasan kuat untuk menekankan aspek “murah” daripada “performa”. Dalam perang tersebut, AS kehilangan sekitar 45 drone MQ-9 Reaper — sekitar 25 persen dari armadanya — dengan biaya lebih dari $1,3 miliar, akibat serangan drone dan rudal Iran yang relatif murah.

Dengan demikian, meskipun AS mungkin atau mungkin tidak memenangkan perang fisik, mereka jelas tidak senang dengan implikasi finansial dari kemenangan atau kekalahan tersebut. Pertanyaan apakah industri komersial benar-benar dapat mengirimkan drone siluman berkecepatan tinggi yang dapat dihabiskan dengan harga yang diinginkan US Air Force masih menjadi pertanyaan terbuka.

Pendekatan ini menunjukkan pembelajaran penting dari konflik modern: efektivitas militer tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari keberlanjutan ekonomi. Dengan meningkatnya penggunaan drone murah oleh lawan, strategi pertahanan harus beradaptasi untuk menghadapi ancaman yang beragam tanpa menguras anggaran.

Ke depannya, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kemampuan industri untuk berinovasi dalam hal biaya produksi dan teknologi. Jika berhasil, program drone target ini bisa menjadi model baru bagi pengadaan militer yang lebih efisien dan responsif terhadap ancaman nyata di lapangan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.