📑 Daftar Isi

Jensen Huang dan Håkan Samuelsson dalam pengumuman kemitraan Volvo dan Nvidia untuk setir otonom

Volvo Pakai Teknologi Nvidia untuk Setir Otonom 2030

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Volvo integrasikan platform Hyperion Nvidia untuk setir otonom hands-free point-to-point pada model 2030
  • Sistem Level 2++ tangani lampu lalu lintas, rambu stop, dan unprotected left turns tanpa intervensi pengemudi
  • Adopsi software stack Alpamayo berbasis reasoning untuk interpretasi kondisi jalan kompleks
  • Setup awal tanpa lidar, namun platform dapat mengakomodasi penambahan lidar
  • Fitur eyes-off and mind-off dijanjikan, tapi timeline dan model penerima belum diungkap
  • Taruhan besar di tengah tekanan penjualan Q3 yang anjlok 10,7 persen dan krisis produksi EX60

Telset.id – Volvo akan mengintegrasikan platform Hyperion dari Nvidia untuk menghadirkan kemampuan menyetir tanpa tangan (hands-free) secara point-to-point pada model generasi terbarunya yang dijadwalkan debut paling lambat akhir 2030. Sistem ini diklaim mampu menangani lingkungan perkotaan kompleks tanpa intervensi eksplisit dari pengemudi, sebuah langkah besar bagi pabrikan asal Swedia tersebut.

Langkah ini menandai upaya Volvo merombak sistem bantuan pengemudi yang sudah menua. Perusahaan yang berbasis di Swedia namun dimiliki oleh entitas China itu menyatakan sistem baru ini akan berfungsi serupa dengan fitur Full Self-Driving (Supervised) milik Tesla dan Universal Hands-Free milik Rivian. Sistem tersebut menggunakan kamera dan berbagai sensor untuk mendeteksi marka jalan serta kendaraan lain, namun tidak bergantung pada area yang sudah dipetakan sebelumnya untuk mengambil keputusan.

Dalam jangka panjang, Volvo mengklaim sistem bantuan pengemudi berbasis AI ini akan menghadirkan kemampuan “eyes-off and mind-off driving”. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi soal timeline peluncuran fitur tersebut. Mobil mana yang akan mendapatkannya lebih dulu juga masih belum diketahui.

Hyperion dan Level 2++

Dengan menggunakan platform Hyperion dari Nvidia, yang mencakup chip berdaya tinggi khusus serta rangkaian sensor lengkap yang dipasang di sekeliling kendaraan, Volvo menyebut sistem point-to-point barunya akan menawarkan fungsionalitas Level 2++. Terlepas dari namanya yang membingungkan dan tidak ditemukan dalam bagan Levels of Driving Automation milik Society of Automotive Engineers, pabrikan mengklaim sistem bantuan pengemudi ini mampu menangani lingkungan perkotaan kompleks tanpa campur tangan pengemudi secara eksplisit.

Kemampuan tersebut mencakup rambu stop, lampu lalu lintas, hingga belokan kiri tanpa perlindungan (unprotected left turns), menurut Ali Kani, VP and general manager of the automotive team di Nvidia, seperti dikutip The Verge. Selain mengandalkan rangkaian perangkat keras Nvidia, Volvo juga akan mengadopsi software stack Alpamayo dari pembuat chip tersebut, yang menggunakan model “reasoning” untuk menginterpretasikan kondisi jalan kompleks dan memutuskan kapan harus mengerem, mempercepat, atau menyetir.

Setup awal sistem ini tidak menyertakan lidar, namun platform bantuan pengemudi tersebut dapat mengakomodasi lidar jika pabrikan memutuskan untuk menambahkannya di kemudian hari. “Reasoning-based driving improves safety because the vehicle can work through rare situations it was never explicitly trained on, and the reasoning trace makes each decision transparent and auditable for safety validation,” ujar Nvidia di situs webnya.

Sistem bantuan pengemudi Volvo saat ini, Pilot Assist, hanya bekerja di jalan dengan marka yang jelas dan menggabungkan adaptive cruise control, bantuan setir, bantuan pindah jalur, serta bantuan kecepatan tikungan. Dengan mengintegrasikan sistem baru yang dapat beradaptasi aktif terhadap kondisi jalan sekaligus menawarkan kemampuan menyetir tanpa tangan sesungguhnya, Volvo mempertaruhkan reputasinya di bidang keselamatan.

Jika berhasil, langkah ini dipastikan akan menarik lebih banyak pelanggan, sesuatu yang sangat dibutuhkan Volvo saat ini. Namun jika gagal, citra perusahaan Swedia tersebut sebagai merek yang dapat dipercaya harus kembali menanggung risikonya. Tekanan ini terlihat dari kondisi bisnis Volvo yang tengah menghadapi tantangan, seperti yang tergambar dalam laporan proyeksi 2026 yang dipangkas menyusul anjloknya penjualan kuartal ketiga hingga 10,7 persen.

Selain itu, Volvo juga dilaporkan tengah menghadapi kendala produksi pada model EX60, di mana pasar Eropa mendapat prioritas utama. Situasi ini menunjukkan bahwa di tengah upaya mengembangkan teknologi otonom canggih, Volvo masih harus membenahi fundamental operasionalnya di pasar global.

Taruhan Besar di Tengah Tekanan Pasar

Integrasi Hyperion dan Alpamayo bukan sekadar pembaruan fitur biasa. Ini adalah perjudian strategis yang menempatkan Volvo berhadapan langsung dengan pemain seperti Tesla dan Rivian yang lebih dulu mengumumkan kemampuan serupa. Volvo harus membuktikan bahwa sistem Level 2++ ini bukan sekadar klaim pemasaran, melainkan kemampuan nyata yang siap diandalkan di jalan raya.

Pasalnya, fitur menyetir tanpa tangan kini menjadi salah satu fitur mobil yang paling diminati pasar. Volvo tidak bisa hanya mengandalkan warisan reputasi keselamatan tanpa menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan konsumen modern. Kegagalan dalam mengeksekusi sistem ini berpotensi memperparah posisi Volvo yang sudah tertekan, sebagaimana tercermin dari krisis produksi yang melanda model EX60 dan prioritas pasar Eropa yang harus diambil.

Di sisi lain, langkah Volvo mengadopsi software stack berbasis reasoning dari Nvidia menunjukkan arah industri yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan untuk menangani skenario jalan yang jarang terjadi. Pendekatan ini berbeda dari sistem berbasis peta yang selama ini menjadi standar, dan berpotensi menjadi pembeda jika berhasil diimplementasikan dengan baik.

Namun, tanpa timeline yang jelas untuk fitur eyes-off and mind-off, serta ketidakjelasan model mana yang akan mendapatkannya lebih dulu, Volvo masih menyisakan banyak pertanyaan bagi konsumen dan investor. Kejelasan strategi dan eksekusi tepat waktu akan menjadi kunci apakah taruhan teknologi ini akan membuahkan hasil atau justru menambah beban bagi perusahaan yang tengah berjuang mempertahankan pangsa pasarnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.