Tampilan layar dari game Psychonauts 2 yang memperlihatkan tujuh karakter sedang menatap ke arah kanan atas.

Double Fine PHK 23 Karyawan di Tengah Pisah dari Xbox

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Double Fine melakukan PHK terhadap 23 dari sekitar 90 karyawannya atau hampir sepertiga dari total staf.
  • PHK dilakukan di tengah proses studio untuk berpisah dari Xbox Game Studios dan kembali menjadi independen.
  • Pendiri Double Fine, Tim Schafer, menyatakan keputusan ini diambil demi kelangsungan hidup studio.
  • Studio baru saja merilis game Keeper (2025) dan Kiln (2026) yang mendapat sambutan positif.
  • PHK ini merupakan bagian dari efek domino gelombang PHK massal di Xbox dan Microsoft pada musim panas 2026.

Telset.id – Industri game kembali diguncang kabar kurang menyenangkan. Double Fine, studio indie ternama di balik seri Psychonauts, harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir sepertiga dari total karyawannya. Langkah berat ini diambil di tengah proses studio tersebut untuk berpisah dari naungan Xbox.

Berdasarkan laporan awal dari Kotaku yang kemudian dikonfirmasi langsung oleh perusahaan melalui akun Bluesky mereka, sebanyak 23 dari sekitar 90 karyawan Double Fine terkena dampak PHK. Pendiri studio, Tim Schafer, menyampaikan pesan penuh penyesalan terkait keputusan sulit ini.

“Hanya demi kelangsungan hidup studio kami yang membuat kami mempertimbangkan tindakan menyakitkan seperti ini,” tulis Tim Schafer dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari unggahan Double Fine di platform Bluesky.

Screenshot from Psychonauts 2 showing seven of the characters staring toward the upper right.

Keputusan PHK ini menjadi babak baru yang kelam bagi Double Fine. Studio yang dikenal dengan portofolio game-game berkualitas dan penuh pesona seperti Psychonauts 2, Grim Fandango, dan Costume Quest ini sebelumnya tengah dalam performa produktif. Mereka baru saja merilis game platformer meditatif berjudul Keeper pada tahun 2025 dan game pertarungan tembikar multipemain bernama Kiln di awal tahun 2026. Kedua game tersebut mendapat sambutan positif dari para pemain dan kritikus.

Namun, produktivitas dan kualitas karya rupanya belum cukup untuk melindungi Double Fine dari gelombang PHK besar-besaran yang melanda Xbox dan Microsoft pada musim panas tahun ini. Sejak awal musim panas 2026, rumor beredar bahwa Double Fine akan menjadi salah satu studio yang terkena imbas dari pemotongan ribuan karyawan di lingkungan Microsoft.

Pengumuman PHK ini datang hanya beberapa minggu setelah Double Fine mengumumkan niatnya untuk kembali menjadi studio independen. Pada 6 Juli 2026 lalu, Double Fine mengumumkan bahwa mereka akan berpisah dari Xbox Game Studios, menandai akhir dari sebuah babak yang dimulai sejak studio tersebut resmi bergabung pada tahun 2019.

Proses transisi menuju kemandirian ini seharusnya menjadi langkah positif bagi Double Fine. Dengan menjadi independen, studio memiliki kendali lebih besar atas proyek-proyek mereka dan masa depan kreatif mereka. Namun, kenyataan pahit menunjukkan bahwa jalan menuju kemerdekaan tersebut harus dibayar mahal dengan pengurangan tenaga kerja yang signifikan.

PHK di Double Fine bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Langkah ini merupakan bagian dari efek domino yang lebih besar dari kebijakan PHK massal di Xbox dan Microsoft. Banyak perusahaan game lain yang juga harus mengambil keputusan sulit serupa akibat dari “pertumpahan darah” di lingkungan Microsoft. Sayangnya, tampaknya ini bukanlah akhir dari rangkaian peristiwa menyedihkan ini.

Keputusan Double Fine untuk melakukan PHK di saat mereka bersiap untuk mandiri menunjukkan betapa beratnya tekanan finansial dan operasional yang dihadapi studio game saat ini. Meskipun memiliki reputasi yang sangat baik dan basis penggemar yang setia, kelangsungan hidup sebuah studio game tetap menjadi prioritas utama yang terkadang mengharuskan pengambilan keputusan yang sangat sulit.

Bagi para penggemar Double Fine, kabar ini tentu sangat memilukan. Studio yang terkenal dengan budaya kerja yang kreatif dan penuh semangat ini harus kehilangan banyak talenta berbakat. Ke depannya, semua mata akan tertuju pada bagaimana Double Fine akan bangkit kembali sebagai studio independen dan game-game apa yang akan mereka hasilkan di masa mendatang. Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa di balik industri game yang penuh gemerlap, terdapat realitas bisnis yang keras dan penuh ketidakpastian.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.