📑 Daftar Isi

Raksasa teknologi Microsoft akan memangkas 650 karyawan di divisi game Xbox dalam gelombang PHK terbaru

PHK Xbox: 1.000 Karyawan Terancam, Krisis Hardware

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Divisi Xbox Microsoft akan melakukan PHK besar-besaran bulan depan, berdampak pada 1.000 karyawan
  • CEO Xbox Asha Sharma dan Matt Booty mengirim memo internal peringatan fase "Reset Xbox" 100 hari
  • Pendapatan Xbox anjlok hampir setengah miliar dolar dalam 5 tahun meski investasi USD 20 miliar
  • Biaya komponen hardware diprediksi naik lebih dari 5 kali lipat untuk musim liburan 2027
  • Xbox buka peluang konsol pihak ketiga dengan chip AMD dan model bisnis baru
  • Game Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution jadi eksklusif penuh konsol Xbox

Telset.id – Divisi Xbox milik Microsoft kembali diterpa badai PHK besar-besaran. Rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akan diumumkan bulan depan ini diprediksi akan berdampak pada 1.000 karyawan, menyusul krisis pendapatan dan lonjakan biaya komponen hardware yang ekstrem.

Kabar ini pertama kali mencuat melalui laporan Bloomberg yang kemudian diperkuat oleh memo internal dari CEO Xbox, Asha Sharma, dan Chief Content Officer Xbox, Matt Booty. Dalam memo tersebut, kedua petinggi Xbox secara blak-blakan mengungkapkan kondisi keuangan divisi game Microsoft yang sedang terpuruk.

Menurut memo yang dikirimkan kepada para staf, fase “Reset Xbox” akan berlangsung selama 100 hari ke depan. Pemangkasan ini diprediksi tidak hanya menyasar tenaga kerja, tetapi juga anggaran pemasaran, operasional bisnis, hingga potensi penutupan sejumlah studio game. Langkah ini merupakan salah satu keputusan paling drastis sejak Asha Sharma memimpin divisi Xbox.

Krisis yang melanda Xbox bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Industri teknologi global memang tengah menghadapi gelombang efisiensi besar-besaran. Sebagai contoh, Meta pindahkan 7.000 karyawan ke divisi AI sambil merumahkan 8.000 orang lainnya. Sementara itu, badai PHK eBay juga merumahkan 800 karyawan di tengah strategi akuisisi yang kontroversial.

Krisis Pendapatan dan Biaya Hardware

Memo internal yang ditandatangani Asha Sharma dan Matt Booty memberikan gambaran nyata mengenai kondisi keuangan Xbox. “Di luar (akuisisi) Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir kami telah menghabiskan lebih dari USD 20 miliar untuk investasi berkelanjutan pada konten, platform, dan subsidi perangkat keras kami. Namun, pendapatan tahunan kami justru anjlok hampir setengah miliar dolar selama rentang waktu tersebut,” tulis Sharma dan Booty seperti dikutip dari The Verge.

Selain masalah pendapatan, Xbox juga dihadapkan pada ancaman krisis komponen perangkat keras. Pihak manajemen memprediksi bahwa biaya komponen untuk musim liburan tahun 2027 mendatang akan melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan harga dua tahun lalu. Lonjakan serupa juga terjadi pada komponen memori. Kondisi ini memaksa Xbox untuk mencari model bisnis dan kemitraan baru di sektor hardware.

Dalam memo yang sama, Sharma dan Booty menegaskan, “Ke depannya, tren seperti ini tidak boleh terus berlanjut.” Peringatan keras ini menjadi sinyal bahwa Xbox akan melakukan perubahan fundamental dalam strategi bisnisnya.

Peluang Konsol Pihak Ketiga

Salah satu wacana yang mencuat dari krisis ini adalah kemungkinan Xbox membuka pintu bagi pabrikan PC (OEM) pihak ketiga untuk memproduksi perangkat bermerek Xbox menggunakan chip terbaru dari AMD. Isyarat ini muncul dari pernyataan Asha Sharma dan Chief Strategy Xbox, Matthew Ball, yang belakangan ini menyebut akan adanya model bisnis konsol yang “sangat berbeda”.

Bagi Sharma dan Booty, infrastruktur platform Xbox yang ada saat ini dianggap sudah usang dan “tidak dibangun untuk pertempuran di masa depan.” Oleh karena itu, perusahaan bersiap untuk merombak total sistem mereka. Xbox juga akan menjajaki potensi Mergers & Acquisitions (M&A) untuk memperkuat posisi di ranah hardware, PC, mobile, hingga layanan streaming.

Di tengah rentetan perombakan strategis ini, Asha Sharma telah mengambil sejumlah keputusan krusial sejak memimpin. Salah satunya adalah menetapkan game andalan seperti Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution sebagai judul eksklusif penuh untuk konsol Xbox. Keputusan ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi krisis, Xbox tetap berkomitmen pada konten eksklusif sebagai daya tarik utama platform mereka.

Langkah efisiensi besar yang dilakukan Xbox juga mengingatkan pada tren serupa di industri teknologi. Fenomena TikTok AS pulih pasca badai salju dan drama Oracle menunjukkan bahwa pemulihan pasca-krisis membutuhkan strategi yang tepat dan adaptasi pasar yang cepat.

Krisis hardware yang dihadapi Xbox juga menjadi pengingat akan pentingnya inovasi dalam rantai pasok. Inovasi seperti yang dilakukan iQOO 15 Ultra dengan 29 antena pintar menunjukkan bahwa optimasi hardware bisa menjadi solusi di tengah tekanan biaya produksi.

Dengan rencana PHK yang akan diumumkan bulan depan dan fase “Reset Xbox” yang berlangsung 100 hari, para pengamat industri akan mencermati langkah selanjutnya dari Microsoft. Keputusan untuk membuka peluang konsol pihak ketiga atau melakukan akuisisi baru akan menjadi penentu arah masa depan divisi game yang telah berinvestasi lebih dari USD 20 miliar dalam lima tahun terakhir.

Bagi para gamer dan pelaku industri, krisis ini menjadi pengingat bahwa bahkan raksasa teknologi sekalipun tidak kebal terhadap tekanan pasar. Era konsol game yang mahal dengan margin tipis mungkin akan segera berakhir, digantikan oleh model bisnis yang lebih fleksibel dan berorientasi pada layanan.

Komentar

Belum ada komentar.