Ilustrasi mode baru Vanguard On-Demand yang hanya aktif saat game Riot dimainkan

Riot Hentikan Vanguard Boot-Time, Kini Muat Sesuai Permintaan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Riot Games mengumumkan mode Vanguard On-Demand yang menghentikan boot-time driver
  • Driver hanya aktif saat game Riot diluncurkan, dibongkar saat game ditutup
  • Fitur ini memanfaatkan Runtime Driver Attestation Report dari Microsoft di Windows 11 25H2
  • Persyaratan: UEFI Secure Boot, TPM 2.0, VBS, HVCI, dan IOMMU harus aktif
  • Sekitar 35% pemain sudah memenuhi persyaratan, 3% tidak kompatibel
  • Vanguard Pre-Check adalah daftar kualifikasi untuk mode baru ini
  • Riot tidak memaksa perubahan, pemain bisa tetap menggunakan mode lama
  • Respons terhadap kritik Vanguard yang dianggap membebani sistem dan privasi

Telset.id – Riot Games akhirnya mengubah kebijakan anti-cheat Vanguard yang kontroversial. Perusahaan mengumumkan akan menghentikan perilaku Vanguard yang selalu aktif saat Windows melakukan booting, dan menggantinya dengan mode baru bernama Vanguard On-Demand yang hanya memuat driver saat game Riot dijalankan.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Riot Games pada 24 Juni 2026. Mode baru ini memungkinkan pemain untuk tidak lagi memiliki driver Vanguard yang berjalan di latar belakang sejak komputer dinyalakan, sebuah fitur yang telah menjadi sumber kritik sejak kernel driver tersebut diperkenalkan pada tahun 2020.

Dengan mode Vanguard On-Demand, driver anti-cheat hanya akan dimuat saat pemain meluncurkan game seperti Valorant atau League of Legends, dan akan otomatis dibongkar saat game ditutup. Perubahan ini dimungkinkan berkat fitur baru di Windows 11 25H2 yang mencatat aktivitas driver bahkan saat Vanguard tidak aktif.

Riot Games Vanguard
Ilustrasi Vanguard On-Demand yang hanya aktif saat game dimainkan.

Namun, fitur ini memiliki sejumlah persyaratan teknis yang ketat. Mode Vanguard On-Demand hanya akan berfungsi pada PC yang memiliki UEFI Secure Boot, TPM 2.0, Virtualization-Based Security (VBS), Hypervisor-Protected Code Integrity (HVCI), dan IOMMU yang diaktifkan.

Kepala tim anti-cheat Riot, Phillip Koskinas, mengungkapkan bahwa sekitar 35% pemain sudah memenuhi persyaratan tersebut. Sementara itu, sekitar 3% pemain lainnya menggunakan perangkat keras yang tidak kompatibel sama sekali. Riot menyebut daftar kualifikasi ini sebagai Vanguard Pre-Check.

Banyak PC rakitan dan laptop yang dijual dalam beberapa tahun terakhir sudah mengaktifkan fitur-fitur keamanan ini secara bawaan. Koskinas memperkirakan pangsa mesin yang sepenuhnya aman mencapai 34,33% dan terus meningkat satu hingga dua poin persentase setiap bulan. Bagi pengguna lainnya, mereka harus mengaktifkan pengaturan ini secara manual, yang sebagian besar merupakan opsi UEFI yang tidak bisa diubah oleh Vanguard, sehingga memerlukan akses ke BIOS.

Fitur baru ini memanfaatkan Runtime Driver Attestation Report dari Microsoft, yang dikembangkan bersama tim Xbox OS Security. Fitur ini baru tersedia di Windows 11 25H2 dan mencatat setiap driver yang dimuat sejak booting sebagai hash berjalan yang disimpan di TPM. Metode ini mirip dengan measured-boot yang sudah digunakan Windows Boot Manager untuk driver boot-start.

Dengan mekanisme ini, Vanguard dapat memverifikasi saat diluncurkan bahwa tidak ada driver rentan yang masuk selama ia tidak aktif. Hal ini menutup celah keamanan yang sebelumnya memaksa desain selalu aktif. Sayangnya, rilis Windows yang lebih lama tidak memiliki laporan tersebut, sehingga Windows 11 25H2 menjadi persyaratan dasar.

Riot Games telah bertahun-tahun mendorong tumpukan keamanan yang sama sebagai penghalang untuk bermain. Perusahaan mulai menerapkan TPM 2.0 dan Secure Boot di Windows 11 pada tahun 2020. Langkah ini menuai kritik ketika diterapkan ke League of Legends pada tahun 2024, dan pada Desember lalu, perusahaan menandai celah keamanan motherboard pra-boot di berbagai merek seperti Asus, Gigabyte, MSI, dan ASRock.

Bulan lalu, pembaruan Vanguard bahkan merusak perangkat keras cheat DMA, yang kemungkinan terkait dengan penerapan IOMMU yang lebih ketat. VBS dan HVCI diperkirakan akan menjadi titik perdebatan bagi pengguna yang paling menginginkan opsi untuk mematikan Vanguard. Keduanya menjalankan bagian kernel di dalam enklave yang diisolasi perangkat keras, dan benchmark telah lama menunjukkan penurunan kecil namun terasa pada frame rate, itulah sebabnya banyak gamer mematikannya.

Mengaktifkan VBS juga akan mengaktifkan daftar blokir driver rentan Microsoft, yang dapat menonaktifkan driver periferal yang lebih lama. Sebagai alternatif, pemain dapat membiarkan Vanguard tetap seperti semula. Riot menyatakan tidak memaksa siapa pun untuk mengubah apa pun dan bersedia menunggu hingga ekosistemnya matang.

Keputusan Riot untuk menghadirkan mode Vanguard On-Demand ini merupakan respons terhadap kritik yang telah berlangsung lama. Sejak diperkenalkan, Vanguard sering dituding sebagai bloatware yang membebani sistem dan mengurangi privasi pengguna. Dengan perubahan ini, Riot berusaha menyeimbangkan kebutuhan keamanan dengan kenyamanan pemain.

Perubahan ini juga menandai pergeseran strategi Riot dalam menangani anti-cheat. Alih-alih memaksakan kehadiran konstan di sistem, mereka kini mengandalkan infrastruktur keamanan Windows yang lebih canggih. Ini adalah langkah yang lebih elegan dan lebih ramah bagi pengguna yang peduli dengan performa dan privasi.

Namun, persyaratan perangkat keras yang ketat tetap menjadi hambatan. Tidak semua pemain memiliki perangkat yang mendukung VBS, HVCI, atau IOMMU. Bagi mereka yang menggunakan perangkat keras lama, opsi untuk menggunakan Vanguard On-Demand mungkin tidak tersedia, dan mereka harus tetap menggunakan mode lama atau meningkatkan perangkat keras mereka.

Riot juga telah mengonfirmasi bahwa mode baru ini mulai tersedia mulai hari ini, 24 Juni 2026, untuk pemain di Windows 11. Pemain yang memenuhi persyaratan dapat mengaktifkannya dan menikmati pengalaman bermain yang lebih ringan tanpa Vanguard yang selalu berjalan di latar belakang.

Bagi para penggemar Valorant, perubahan ini adalah kabar baik. Mereka tidak perlu lagi khawatir tentang Vanguard yang menghabiskan sumber daya sistem saat tidak bermain. Ini juga mengurangi potensi konflik dengan aplikasi lain yang mungkin terhambat oleh driver Vanguard yang selalu aktif.

Dari sisi keamanan, Riot meyakinkan bahwa mode baru ini tidak akan mengurangi efektivitas anti-cheat. Dengan memanfaatkan Runtime Driver Attestation Report dari Microsoft, Vanguard tetap dapat mendeteksi kecurangan dengan andal, bahkan saat tidak aktif. Sistem ini memastikan bahwa tidak ada driver berbahaya yang dapat menyusup selama Vanguard tidak berjalan.

Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam industri anti-cheat. Riot Games menunjukkan bahwa mereka mendengarkan masukan komunitas dan bersedia beradaptasi. Meskipun persyaratan teknisnya ketat, langkah ini disambut positif oleh banyak pemain yang selama ini mengeluhkan Vanguard.

Untuk informasi lebih lanjut, pemain dapat mengunjungi situs resmi Riot Games atau forum komunitas. Riot juga akan terus memperbarui informasi tentang kompatibilitas dan persyaratan teknis untuk mode Vanguard On-Demand.

Dengan perubahan ini, Riot Games berharap dapat memberikan pengalaman bermain yang lebih baik tanpa mengorbankan keamanan. Mode Vanguard On-Demand adalah solusi yang menyeimbangkan kebutuhan akan anti-cheat yang ketat dengan keinginan pemain untuk memiliki kendali lebih atas sistem mereka.

Ini adalah perkembangan yang patut diapresiasi, dan kami akan terus memantau bagaimana perubahan ini memengaruhi komunitas Valorant dan League of Legends ke depannya.

Bagi Anda yang penasaran dengan Fitur Terbaru lainnya dari Riot, pastikan untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru. Dan jangan lupa, Riot juga telah mengambil langkah untuk Pantau Voice Chat untuk menjaga lingkungan bermain yang sehat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.