Telset.id – Valve, perusahaan di balik platform distribusi game digital Steam, mencatatkan pendapatan fantastis sebesar 11,1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp 180 triliun sepanjang paruh pertama tahun 2026. Angka ini menjadikannya periode setengah tahun paling menguntungkan dalam sejarah Valve, menandai dominasi toko digital yang semakin tak terbantahkan di industri game global.
Data yang dirilis oleh firma riset Alinea Analytics melalui unggahan di Substack menunjukkan bahwa pendapatan Steam pada H1 2026 melonjak 14,5% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025. Lebih mencengangkan lagi, pendapatan ini juga 8% lebih tinggi dibandingkan semester kedua tahun 2025 yang mencakup musim liburan dengan penjualan terbesar. Pada H2 2025, Steam “hanya” menghasilkan 10,3 miliar dolar AS.
Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa transisi ke toko digital telah menjadi norma baru. Sebelumnya, Sony baru saja mengumumkan akan menghentikan produksi cakram fisik PlayStation pada tahun 2028 dan sepenuhnya beralih ke distribusi digital. Steam sendiri telah menunjukkan tren pertumbuhan konsisten selama satu dekade terakhir, dengan rekor pendapatan hampir setiap tahun. Data menunjukkan bahwa meskipun pernah mengalami penurunan, Valve tidak pernah mencatatkan dua tahun buruk secara beruntun; resesi selalu diikuti oleh ledakan.
Alinea Analytics mengidentifikasi lima faktor utama yang mendorong pertumbuhan pesat Steam. Pertama, lonjakan jumlah pemain asal China. Kedua, harga game yang semakin tinggi. Ketiga, kehadiran game kooperatif yang viral. Keempat, kategori katalog belakang yang lebih cerdas dari penerbit besar. Kelima, ironisnya, adalah kembalinya penerbit pihak ketiga ke Steam setelah toko milik mereka sendiri gagal bersaing. Beberapa perusahaan seperti Activision memang masih menyisipkan peluncur milik mereka di antara Steam dan game seperti Call of Duty, namun situasi secara umum telah membaik.
Jika dibandingkan satu dekade lalu, pertumbuhan Steam sungguh luar biasa. Pada paruh pertama tahun 2017, platform ini hanya menghasilkan kurang dari 2,5 miliar dolar AS. Artinya, pendapatan H1 2026 hampir lima kali lipat lebih tinggi. Bahkan, pendapatan enam bulan pertama tahun 2026 ini melampaui total pendapatan Steam sepanjang tahun 2020, saat pandemi memaksa banyak orang menghabiskan waktu di rumah.

Alinea menyebut Forza Horizon 6, Resident Evil Requiem, dan Crimson Desert sebagai tiga game teratas yang mendorong ledakan pendapatan Steam pada H1 2026. Masing-masing game tersebut hampir mencapai pendapatan 200 juta dolar AS. Menariknya, game dari tahun-tahun sebelumnya memainkan peran lebih besar. Rilisan tahun 2026 hanya menyumbang 21% dari total 11,1 miliar dolar AS, sementara pada H1 2025, rilisan tahun tersebut menyumbang 27%, dan pada H1 2024 angkanya mencapai 29%.
Data ini mengungkap tren yang jelas: para pemain kini lebih menghargai game lama di perpustakaan mereka dibandingkan sebelumnya. Sementara itu, rilisan baru tetap berdampak signifikan jika mendapatkan pujian universal. Kehadiran GTA VI yang sangat dinanti-nantikan (tanpa tanggal rilis PC saat ini) diperkirakan akan mengubah angka-angka ini lebih lanjut.
Baca Juga:
Meskipun menuai kesuksesan, Valve juga menghadapi tantangan. Beberapa pihak mengkritik potongan 30% yang diterapkan Steam sebagai bentuk praktik monopoli. Namun, argumen ini dibantah dengan fakta bahwa Epic Games Store dan Microsoft Store hanya memotong 12%, bahkan Epic memberikan potongan 0% untuk satu juta dolar pertama. Alasan mengapa pengembang tetap memilih Steam adalah karena basis pengguna yang masif, fitur komunitas, workshop, ulasan, dan acara penjualan yang tidak dimiliki kompetitor.
Valve sendiri terus berinovasi. Perusahaan ini baru saja merilis driver Windows resmi untuk perangkat keras mereka, termasuk driver Windows resmi untuk Steam Deck dan Steam Machine. Langkah ini memungkinkan pengguna menjalankan sistem operasi Windows di perangkat tersebut secara lebih optimal. Selain itu, rumor tentang kehadiran Steam Machines generasi baru juga semakin santer terdengar.
Di sisi lain, persaingan di pasar PC gaming semakin ketat. Hadirnya alternatif seperti alternatif Steam Machine dari merek lain menunjukkan bahwa ekosistem game PC terus berkembang. Meskipun demikian, dominasi Steam sebagai platform distribusi game digital utama tampaknya belum tergoyahkan dalam waktu dekat.
Dengan tren pertumbuhan yang konsisten dan basis pengguna yang terus bertambah, Steam diprediksi akan terus memecahkan rekornya sendiri di masa mendatang. Apalagi dengan semakin banyaknya penerbit yang kembali ke platform ini setelah toko mereka sendiri gagal, posisi Steam sebagai raja distribusi game digital semakin kokoh.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.