📑 Daftar Isi

Ilustrasi Assassin's Creed Shadows, seri game andalan Ubisoft yang tengah dilanda krisis PHK

Ubisoft PHK 380 Karyawan dan Tutup Dua Studio

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Ubisoft melakukan PHK terhadap 380 karyawan dan menutup dua studio permanen
  • Studio yang ditutup: Ubisoft Belgrade (Serbia) dan Ubisoft Winnipeg (Kanada)
  • Ubisoft Barcelona dan Markas Global San Francisco juga mengalami pemangkasan staf
  • Lebih dari 150 karyawan di Ubisoft Montreal direposisi ke proyek lain
  • Total karyawan Ubisoft diperkirakan tersisa 15.000 orang dari sebelumnya 20.000
  • Krisis berkepanjangan: PHK, penutupan studio, dan pembatalan game terus terjadi

Telset.id – Ubisoft, raksasa game asal Prancis, kembali melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran. Gelombang PHK terbaru ini berdampak pada 380 karyawan dan berujung pada penutupan permanen dua studio pengembangan game mereka.

Keputusan ini diambil hanya beberapa bulan setelah perusahaan mem-PHK 55 karyawan di Swedia dan menutup studio game mobile Ubisoft Halifax di Kanada pada awal Januari 2026 lalu. Berdasarkan memo internal yang bocor ke publik, restrukturisasi ini menyasar studio-studio Ubisoft yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, dan Serbia.

Rincian Dampak PHK Ubisoft

Berikut adalah rincian dampak badai PHK terbaru dari Ubisoft:

1. Studio yang Ditutup dan Dipangkas

Ubisoft memastikan akan menutup dua studionya secara permanen, sementara dua markas lainnya mengalami pemangkasan staf secara signifikan:

  • Ubisoft Belgrade (Serbia): Ditutup total, mengakibatkan hilangnya 100 lapangan pekerjaan.
  • Ubisoft Winnipeg (Kanada): Ditutup total, berdampak pada 65 karyawan.
  • Ubisoft Barcelona (Spanyol): Mengalami perampingan dengan pemangkasan 51 posisi.
  • Markas Global San Francisco (AS): Sejumlah karyawan dirumahkan, namun angkanya tidak diungkap secara spesifik ke publik.

Ubisoft Belgrade yang didirikan pada tahun 2016 telah berkontribusi besar pada sejumlah game populer seperti The Crew 2, Tom Clancy’s Rainbow Six, Riders Republic, dan Skull & Bones. Sementara itu, Ubisoft Winnipeg yang dibuka pada 2018 berfokus pada pengembangan teknologi untuk mesin game andalan perusahaan, yakni Anvil dan Snowdrop.

2. Reposisi Ratusan Karyawan di Montreal

Selain memecat ratusan pegawainya, Ubisoft juga merombak susunan tim di studio terbesarnya, Ubisoft Montreal. Lebih dari 150 karyawan yang sebelumnya ditugaskan untuk menggarap Rainbow Six Siege, Rainbow Six Siege Mobile, serta satu proyek rahasia, kini ditarik dan dipindahkan ke proyek lain.

Pihak manajemen Ubisoft beralasan bahwa serangkaian langkah pahit ini terpaksa diambil demi menyederhanakan sistem operasional, menekan biaya pengeluaran (overhead), dan memperkuat fondasi organisasi dalam jangka panjang.

3. Masa Kelam Kreator ‘Assassin’s Creed’

Kondisi Ubisoft belakangan ini memang jauh dari kata ideal. Perusahaan yang dikenal lewat franchise raksasa Assassin’s Creed, Prince of Persia, dan seri Tom Clancy’s ini terus menerus didera krisis, mulai dari gelombang PHK, penutupan studio, hingga pembatalan banyak judul game.

Sejumlah proyek menjanjikan terpaksa disuntik mati sebagai bagian dari upaya pemotongan biaya. Beberapa di antaranya adalah Tom Clancy’s The Division Heartland yang diumumkan batal pada 2024, Immortals Fenyx Rising 2, serta beberapa judul rahasia lainnya.

Langkah efisiensi berturut-turut ini membuat postur perusahaan menyusut drastis. Jika pada masa kejayaannya Ubisoft sempat mempekerjakan lebih dari 20.000 orang secara global, angka tersebut kini merosot tajam. Tercatat, lebih dari 5.000 posisi telah dipangkas dalam beberapa tahun terakhir.

Menyusul gelombang PHK terbaru ini, jumlah total karyawan Ubisoft diperkirakan kini hanya tersisa di kisaran 15.000 orang, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (15/6/2026).

Badai PHK yang melanda raksasa game ini menunjukkan betapa kerasnya industri hiburan digital saat ini. Ubisoft bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan perampingan besar-besaran, namun skala pemangkasan yang mencapai ribuan karyawan dalam beberapa tahun terakhir patut menjadi perhatian serius bagi para pelaku industri.

Dengan ditutupnya dua studio dan dipangkasnya ratusan posisi, masa depan proyek-proyek game andalan Ubisoft seperti Assassin’s Creed dan Tom Clancy’s masih menjadi tanda tanya. Para penggemar game kini menanti langkah selanjutnya dari perusahaan yang pernah menjadi salah satu penerbit game terbesar di dunia ini.

Komentar

Belum ada komentar.