📑 Daftar Isi

Wajib Tahu! Ini 8 Game Populer yang Dinyatakan Tidak Layak Edar oleh IGRS di Steam

Wajib Tahu! Ini 8 Game Populer yang Dinyatakan Tidak Layak Edar oleh IGRS di Steam

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Bayangkan Anda membuka Steam, mencari judul game yang sudah lama Anda incar, hanya untuk menemukan halamannya kosong atau tertulis “Not fit for distribution”. Itulah kenyataan yang mulai menghantui para gamer di Indonesia seiring pengetatan aturan digital pada 2026. Indonesia Game Rating System (IGRS) kini bukan sekadar rekomendasi, melainkan gerbang wajib bagi setiap publisher yang ingin produknya beredar legal di platform seperti Steam untuk wilayah Indonesia.

Sistem klasifikasi resmi pemerintah ini, yang fungsinya mirip dengan ESRB atau PEGI, menjadi penentu apakah sebuah game layak konsumsi untuk kelompok umur tertentu. Namun, dalam penerapannya yang lebih ketat, beberapa judul populer justru terganjal dan dinyatakan belum layak edar. Status “Not Fit for Distribution” ini, meski bersifat sementara, menciptakan gejolak tersendiri di kalangan komunitas. Lalu, game-game populer apa saja yang saat ini masih terhalang oleh penilaian IGRS? Mari kita telusuri satu per satu, dengan catatan bahwa daftar ini dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu seiring proses evaluasi dan penyesuaian dari pihak publisher.

Grand Theft Auto V (GTA V): Legenda yang Terlalu “Bebas” untuk Regulasi

GTA V bukan sekadar game; ia adalah fenomena budaya yang mendefinisikan genre sandbox action-adventure. Simulasi kehidupan kriminal di Los Santos yang hiper-realistis memang menjadi daya tarik utamanya. Namun, di balik kebebasan eksplorasi yang ditawarkan, terkandung akumulasi konten yang menjadi batu sandungan bagi IGRS. Konten kekerasan sadis, penggambaran penggunaan obat terlarang, dan adegan seksual eksplisit dianggap melampaui batas toleransi klasifikasi dewasa untuk distribusi retail tanpa sensor. Bahkan, fitur kasino dalam mode online-nya menyentuh ranah sensitif regulasi simulasi perjudian yang sangat ketat di Indonesia. Status “Not Fit” untuk game legendaris Rockstar Games ini kemungkinan besar akan bertahan selama tidak ada penyesuaian teknis pada elemen-elemen sensitif tersebut, sebuah langkah yang sulit dilakukan mengingat konten tersebut telah menjadi DNA dari seri GTA.

Cyberpunk 2077: Distopia Dewasa yang Terlalu Grafis

Night City, setting dari Cyberpunk 2077, adalah kota mimpi buruk yang memukau. Game Action RPG dari CD Projekt Red ini membenamkan pemain dalam dunia distopia di mana modifikasi tubuh dan dekadensi moral adalah hal biasa. Di sinilah masalahnya muncul. Fitur kustomisasi karakter yang mendetail hingga alat kelamin, ditambah banyaknya adegan dewasa yang digambarkan secara grafis, dianggap sebagai elemen inti yang sulit dipisahkan dari narasi gelap yang ingin disampaikan. Kekerasan yang ada bukan lagi sekadar aksi tembak-tembakan, tetapi sering kali disertai dengan konteks psikologis yang kompleks. Bagi IGRS, konten semacam ini memerlukan pertimbangan ekstra, menjadikannya “Not Fit for Distribution” hingga ada kejelasan lebih lanjut atau penyesuaian tertentu dari publisher.

Metaphor: ReFantazio & Persona 5 Royal: Sensitivitas Narasi di Bawah Audit

Berbeda dengan dua game sebelumnya, hambatan untuk Metaphor: ReFantazio dan Persona 5 Royal kemungkinan besar bersifat lebih administratif dan naratif. Metaphor, RPG fantasi terbaru dari Atlus, mengangkat cerita tentang krisis kepemimpinan dan pemilihan raja. Tema-tema seperti diskriminasi rasial dan kritik sistem kekuasaan di dalamnya memerlukan audit manual yang lebih mendalam dan lama oleh pihak IGRS untuk memastikan penyampaiannya tepat.

Sementara itu, Persona 5 Royal dengan gaya visualnya yang stylish, justru menyelipkan isu sosial yang sangat berat. Game JRPG ini tidak hanya tentang remaja dengan kekuatan super, tetapi juga membahas tindakan mengakhiri hidup, pelecehan, dan pemberontakan terhadap otoritas. Penggambaran isu-isu semacam ini, meski dalam konteks fiksi, memerlukan peninjauan yang cermat agar klasifikasi usia yang diberikan akurat dan tidak disalahartikan oleh pengguna, terutama yang lebih muda. Proses peninjauan inilah yang diduga membuat status keduanya masih tertahan.

Clair Obscur: Expedition 33 dan Rust: Menunggu Klasifikasi Dewasa yang Tepat

Clair Obscur: Expedition 33 adalah permainan yang menarik dengan visual layaknya lukisan klasik. Namun, di balik keindahannya, game turn-based RPG ini mengandung konten dewasa seperti kekerasan dan bahasa keras yang memang ditujukan untuk audiens matang. Status “Not Fit” saat ini kemungkinan besar adalah fase transisi sebelum akhirnya mendapatkan klasifikasi resmi 18+ dari IGRS setelah proses otorisasi selesai.

Nasib serupa menimpa Rust, pionir genre survival multiplayer. Fitur ketelanjangan total karakter saat pertama kali muncul di dunia game, ditambah dengan gameplay yang menekankan kekerasan dan persaingan antar pemain yang kejam, dengan jelas menempatkannya dalam kategori dewasa. Alasan masuk daftar “Not Fit” lebih pada penundaan teknis menunggu pembaruan rating menjadi 18+, asalkan tidak ada perubahan konten mendasar yang diminta.

The Witcher 3: Wild Hunt & Ready or Not: Realisme Dewasa yang Menantang Batas

The Witcher 3 telah lama dipuji sebagai masterpiece RPG fantasi. Dunianya yang kaya, cerita yang kompleks, dan pilihan moral yang abu-abu adalah keunggulannya. Namun, identitas dewasa seri Witcher, yang diwarisi dari buku aslinya, diwujudkan melalui penggambaran ketelanjangan dan adegan dewasa yang gamblang sepanjang cerita. Konten ini dianggap melekat kuat dan sulit untuk dipisahkan, sehingga berpotensi melampaui batas yang ditetapkan untuk distribusi umum, setidaknya dalam bentuk aslinya.

Di ujung spektrum yang berbeda, Ready or Not menawarkan realisme yang menggetarkan. Sebagai simulator taktis SWAT, game ini berusaha mendekatkan pemain pada tekanan dan konsekuensi nyata dari sebuah intervensi kepolisian. Sayangnya, realisme itu termasuk menyajikan skenario sensitif seperti penembakan di sekolah yang melibatkan anak di bawah umur. Konten semacam ini dianggap sangat sensitif oleh regulator Indonesia dan berpotensi melanggar batas etika distribusi konten hiburan, menjadikannya kandidat kuat untuk status “Not Fit” hingga ada penjelasan atau modifikasi tertentu.

Perlu diingat, status “Not Fit for Distribution” ini bukanlah vonis final. Seperti diungkap dalam klarifikasi Komdigi, proses rating IGRS di Steam masih terus berkembang. Status tersebut bersifat sementara dan dapat berubah menjadi klasifikasi 18+ jika publisher bersedia melakukan penyesuaian konten atau menyelesaikan proses sertifikasi secara lengkap. Bagi para gamer, situasi ini adalah pengingat bahwa lanskap digital kita sedang berubah. Kepatuhan terhadap regulasi lokal menjadi harga mati, sekalipun untuk raksasa industri game sekalipun. Sementara menunggu kejelasan status game-game favorit, selalu waspada terhadap penawaran yang mencurigakan, mengingat maraknya scam berkedok game yang bisa mengintai. Siapa tahu, mungkin suatu saat nanti kita akan melihat ponsel canggih di film Avengers digunakan untuk memainkan versi resmi game-game ini di Indonesia.