Telset.id – Xiaomi 18 Fold resmi meluncur di China dengan membawa prosesor Xring O3 yang mengintegrasikan GPU Arm Mali G2-Ultra NX. Ini menjadi debut pertama teknologi neural graphics dari Arm yang diklaim mampu menghadirkan fitur serupa DLSS dari Nvidia ke perangkat mobile. GPU ini menjanjikan peningkatan performa hingga 85 persen dibanding GPU yang digunakan Xiaomi sebelumnya.
Kehadiran Arm Mali G2-Ultra NX menandai perubahan signifikan dalam cara game mobile dibuat dan dimainkan. Setelah lima tahun pengembangan, Arm kini memiliki akselerator grafis gaming berbasis AI di dalam GPU-nya. Teknologi ini mengikuti jejak Nvidia dengan menghadirkan teknik-teknik seperti AI upscaling, frame generation, dan ray reconstruction ke perangkat berbasis Arm.
Chris Bergey, EVP of Edge AI Arm, menyatakan dalam wawancara dengan The Verge bahwa teknologi ini tidak hanya terbatas pada pasar China. “Kamu akan bisa membelinya; kamu akan bisa mendapatkannya di ponsel tahun depan, kamu akan bisa mendapatkannya di perangkat layar besar lainnya, baik itu tablet atau Chromebook,” ujarnya.
Neural Graphics: Teknologi AI dalam GPU Mobile
Arm menyebut rangkaian teknik grafis baru ini sebagai “neural graphics”. Berbeda dengan penggunaan istilah yang sama oleh Nvidia, neural graphics versi Arm saat ini lebih fokus pada kecepatan daripada peningkatan visual wajah atau pencahayaan. Teknik-teknik tersebut mencakup Neural Super Sampling, Neural Frame Rate Upscaling, dan Neural Denoising.
Ketika ketiga teknik ini diterapkan secara bersamaan, Arm mengklaim framerate bisa meningkat hingga empat kali lipat. Sistem bekerja lebih ringan karena AI mengisi sebagian besar proses rendering piksel dan frame. Namun perlu dicatat, game mungkin tidak akan terasa empat kali lebih cepat meski secara visual terlihat demikian, karena setengah dari peningkatan berasal dari frame generation yang bisa menambah latensi.
Bergey menjelaskan bahwa teknik-teknik ini tidak akan hadir sekaligus. “Judul pertama sebagian besar akan menggunakan super sampling,” katanya. Frame generation baru akan hadir pada awal 2027, sementara denoising menyusul “segera setelah itu”.
Performa dan Efisiensi Daya
Dengan kombinasi teknik neural graphics tersebut, Arm mengklaim ponsel kini bisa memainkan demo teknologi Neural Dawn tanpa menguras baterai dengan cepat. “Mungkin seperti, hei, kamu sekarang bisa bermain 1080p, 60 frame per detik selama tiga jam,” kata Bergey. “Di masa lalu, hanya 30 menit.”
Xiaomi Pad 9 Pro Max yang menggunakan chip Xring O3 yang sama bahkan diklaim mampu menampilkan resolusi 3.2K pada 120 frame per detik. Bergey menyebut bahwa seluruh ponsel dengan chip ini mengonsumsi tidak lebih dari 2.5 watt, dengan alokasi 1.5 watt untuk GPU. “Itu pada dasarnya yang kamu inginkan untuk gaming berkelanjutan yang nyata di mana ponsel tidak panas, kamu tidak seperti ‘Oh, di mana pengisi dayaku’,” jelasnya.
Teknologi ini tidak hanya untuk ponsel gaming premium. Arm menyatakan neural graphics juga akan tersedia di konfigurasi Premium dan Pro, menjangkau segmen dan tingkatan perangkat mobile yang lebih luas. “Ini bukan overclocking, ini mainstream,” tegas Bergey. “Ini tentang AI menggantikan rendering tradisional; di mana pun kamu bisa menggunakannya, kamu akan menggunakannya.”
Baca Juga:
Kompetisi dan Dukungan Game
Arm bukan satu-satunya pihak yang mencoba membawa teknologi percepatan PC ke ranah mobile. Pengembang Stellar Blade baru-baru ini mengungkapkan mereka membuat game tersebut berjalan pada 60fps di Nintendo Switch 2 dengan menggunakan DLSS dari Nvidia dan teknik frame generation versi AMD. Switch 2 juga menggunakan chip mobile berbasis Arm, namun dengan GPU Nvidia khusus.
Game developer perlu mengintegrasikan fitur Arm ke dalam game mereka, meskipun engine game seperti Unreal Engine dan Unity dapat membantu proses tersebut. Bergey menilai ini bukan saklar yang bisa diaktifkan gamer untuk semua game yang mereka suka.
Tiga game pertama yang dikonfirmasi memanfaatkan akselerator grafis baru Arm adalah Where Winds Meet, Infinity Nikki, dan Arena Breakout: Infinite. Bergey menyebut lebih banyak game akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang, namun ia belum diizinkan mengungkapkannya.
Ketersediaan dan Dampak ke Depan
Bergey mengisyaratkan bahwa sebagian perangkat Googlebooks yang akan datang mungkin menggunakan teknologi grafis ini, meski ia tidak bisa menyebutkan perangkat lain yang akan memuat Mali G2-Ultra NX. “Kami pikir ini akan menjadi besar,” ujarnya.
Dengan kehadiran teknologi ini, efek tepi bergerigi (jagged edges) yang sering terlihat di versi mobile game populer mungkin mulai berkurang. Kemajuan ini diprediksi akan mengubah pengalaman bermain game mobile ke depannya, dengan perangkat yang mampu menjalankan game pada resolusi lebih tinggi dan teknik pencahayaan lebih canggih tanpa konsumsi daya berlebih.
Arm menyebut peningkatan performa GPU ini mencapai 85 persen dibanding GPU yang digunakan Xiaomi sebelumnya, serta 14 persen lebih tinggi dibanding GPU flagship Arm sebelumnya dalam “non-AI gaming”. Perangkat dengan GPU ini juga bisa dijalankan pada watt lebih rendah untuk memperpanjang daya tahan baterai, memberikan fleksibilitas bagi pembuat perangkat dan chipset.





Komentar
Belum ada komentar.