Telset.id – Seorang editor Tom’s Guide yang telah beralih ke MacBook Pro selama dua setengah tahun akhirnya kembali menggunakan Windows setelah mencoba Dell XPS 13 (2026). Laptop dengan harga US$699 ini dinilai mampu mengubah persepsi tentang platform Windows yang sebelumnya dianggap stagnan, sekaligus membuktikan bahwa dengan perangkat keras yang tepat, Windows layak untuk kembali digunakan.
Arif Bacchus, lab tester di Future Media (perusahaan induk Tom’s Guide), mengakui bahwa dirinya sempat meninggalkan Windows karena merasa sistem operasi tersebut tidak berkembang. Namun, setelah seminggu menggunakan Dell XPS 13 (2026), ia menemukan bahwa Microsoft telah banyak memperbaiki berbagai kekurangan yang selama ini dikeluhkan pengguna, mulai dari Start Menu yang lebih customizable hingga File Explorer yang jauh lebih cepat.
Dell XPS 13 (2026) hadir dengan layar sentuh 13,4 inci InfinityEdge 2.5K, prosesor Intel Core Series 3 “Wildcat Lake”, RAM 8GB, dan penyimpanan SSD 512GB. Laptop ini dibalut desain aluminium dengan ketebalan hanya 0,5 inci dan bobot 2,2 pon, menjadikannya salah satu ultraportable paling ringkas di kelasnya.

Portabilitas yang Mengubah Kebiasaan Kerja
Perbedaan paling mencolok yang dirasakan Arif adalah portabilitas. MacBook Pro 16 inci miliknya berbobot 4,8 pon dan terasa berat saat dibawa bolak-balik ke kantor. Sebaliknya, Dell XPS 13 dengan bobot 2,2 pon dan ketebalan 0,5 inci muat dengan sempurna di tas kulit selempangnya. Arif bahkan mengaku “hampir tidak menyadari” laptop tersebut ada di dalam tasnya.
Portabilitas ini juga terasa saat digunakan di rumah. Ketika merakit set Lego, XPS 13 bisa diletakkan dengan nyaman di atas meja, dan layar sentuhnya memudahkan navigasi instruksi. Layar sentuh juga membuat pengalaman bermain game melalui Xbox Game Pass menjadi lebih menyenangkan.
Arif sempat membandingkan XPS 13 dengan MacBook Air 13 inci dari lab Tom’s Guide. Meskipun MacBook Air telah mengubah ekspektasi banyak orang terhadap laptop tipis dan ringan, XPS 13 tetap unggul dalam beberapa aspek. Profilnya lebih ramping, bobotnya lebih ringan, keyboardnya nyaman, dan tentu saja memiliki layar sentuh. Fitur Windows Hello juga disebutnya lebih praktis dibandingkan Touch ID di MacBook yang mengharuskan menyentuh tombol daya setiap kali login.
RAM 8GB Cukup untuk Kebutuhan Sehari-hari
Salah satu kekhawatiran terbesar pengguna adalah RAM 8GB yang mungkin dianggap terlalu kecil. Namun, Arif yang sebelumnya menggunakan MacBook Pro dengan RAM 36GB mengaku jarang merasa terbatas dengan 8GB. Kunci utamanya ada pada manajemen memori browser modern yang jauh lebih efisien.
Google Chrome dan Microsoft Edge kini memiliki fitur penghemat memori yang secara otomatis menidurkan tab yang tidak digunakan. Fitur ini secara signifikan meningkatkan performa dan mengurangi beban pada RAM. Untuk pekerjaan sehari-hari seperti menggunakan Chrome, Slack, Teams, WhatsApp, Google Docs, dan pengeditan foto ringan, Arif mengaku hampir tidak bisa membedakan performanya dengan MacBook Pro miliknya.

Daya tahan baterainya juga melampaui ekspektasi. Setelah digunakan selama satu hari kerja penuh dengan kecerahan layar 32%, baterai XPS 13 masih tersisa sekitar 44% saat Arif tiba di rumah. Ia bahkan masih bisa menonton YouTube dan berbelanja online di Amazon sebelum baterainya habis. Meskipun belum bisa menandingi MacBook Pro yang hanya perlu diisi dua kali seminggu, baterai XPS 13 dinilai cukup untuk kebutuhan satu hari kerja penuh.
Bagi pengguna yang hanya membutuhkan laptop untuk produktivitas dan pekerjaan berbasis web, RAM 8GB pada XPS 13 terbukti memadai. Namun, bagi mereka yang berencana melakukan pengeditan video atau pekerjaan berat lainnya, kapasitas RAM yang lebih besar mungkin tetap diperlukan.
Baca Juga:
Windows yang Jauh Lebih Matang
Setelah menggunakan XPS 13 selama seminggu, Arif menyadari bahwa Windows bukan lagi sistem operasi yang ia tinggalkan dua tahun lalu. Microsoft telah melakukan banyak perubahan untuk mengoptimalkan sistem operasi andalannya, dengan mengalihkan fokus dari penambahan fitur AI ke penyelesaian keluhan pengguna.
Start Menu kini jauh lebih dapat dikustomisasi. Pengguna bisa melihat daftar lengkap aplikasi yang diurutkan berdasarkan daftar atau kategori, sehingga lebih mudah menemukan aplikasi tanpa harus mengandalkan fitur pencarian. Start Menu juga kini memiliki area Phone Link untuk memantau pesan teks dan hal lain dari iPhone, mirip dengan integrasi iOS di macOS yang biasa digunakan Arif.
Microsoft juga sedang menguji kemampuan memindahkan posisi Taskbar melalui fitur beta, sebuah fitur yang mengingatkan Arif pada Windows 7. Ada juga opsi untuk menghapus integrasi MSN yang tidak diperlukan dari widget, sehingga pengalaman memeriksa cuaca dan skor olahraga menjadi lebih bersih.

Selain perubahan besar tersebut, ada banyak perbaikan kecil yang terasa setiap hari. File Explorer jauh lebih cepat, Windows Update lebih kecil dan cepat terpasang, serta hasil pencarian lebih natural dan akurat. Semua perubahan ini, jika digunakan bersama-sama pada XPS 13, membuat Windows terasa jauh lebih halus dibandingkan versi yang ditinggalkan Arif dua tahun lalu.
Arif mengakui bahwa tidak ada satu perubahan pun yang cukup meyakinkan untuk membuatnya pindah kembali ke Windows. Namun, kombinasi semua perbaikan tersebut pada perangkat keras XPS 13 yang tepat membuat platform ini layak untuk kembali digunakan. Portabilitas, performa, dan desain XPS 13 yang halus membuatnya ingin menggunakan laptop tersebut setiap hari.
Bagi pengguna yang pernah merasa frustrasi dengan Windows atau telah pindah ke platform lain dan ingin kembali, Dell XPS 13 (2026) bisa menjadi pilihan yang tepat. Laptop ini membuktikan bahwa dengan perangkat keras yang tepat, Windows akhirnya layak untuk kembali digunakan.
Menariknya, kehadiran XPS 13 ini juga menjadi alternatif menarik di tengah krisis chip global yang menghambat pasokan MacBook Air. Bagi pengguna yang kesulitan mendapatkan MacBook Air akibat krisis ini, Dell XPS 13 bisa menjadi pilihan pengganti yang patut dipertimbangkan. Terlebih, krisis memori RAM yang menghantam MacBook Air juga membuat pengiriman mundur hingga September.





Komentar
Belum ada komentar.