📑 Daftar Isi

Galaxy S26: Beda Chipset, Beda Drastis Daya Tahan Baterai

Galaxy S26: Beda Chipset, Beda Drastis Daya Tahan Baterai

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:30 Maret 2026
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Bayangkan membeli dua unit smartphone flagship dengan model dan spesifikasi yang persis sama, namun satu bertahan hampir 3 jam lebih lama dari yang lain. Itulah realitas mengejutkan yang dihadapi calon pengguna Samsung Galaxy S26 dan S26+ di berbagai belahan dunia, di mana pilihan chipset ternyata masih menjadi penentu utama seberapa lama Anda bisa lepas dari colokan.

Harapan sempat membumbung tinggi. Samsung, dengan Exynos 2600-nya, akhirnya beralih ke proses fabrikasi 2nm, selangkah lebih maju dari Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang masih bertahan di node 3nm TSMC. Secara teori, langkah ini menjanjikan efisiensi daya yang jauh lebih baik, menutup celah performa yang kerap dikeluhkan pada generasi sebelumnya. Banyak yang berharap, duel antara varian Exynos dan Snapdragon di lini Galaxy S26 ini akan berakhir imbang, atau setidaknya, sangat berdekatan.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Uji baterai terkini, termasuk salah satunya dari kanal YouTube AndroidAddicts, justru mengungkap jurang yang dalam. Dalam simulasi pemakaian sehari-hari—yang mencakup panggilan telepon, merekam video, navigasi Google Maps, panggilan video, menonton YouTube, dan berselancar di media sosial—hasilnya cukup mencengangkan. Varian Galaxy S26 dengan Exynos 2600 hanya bertahan selama 6 jam 48 menit. Sementara itu, saudara kembarnya yang ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5 sanggup bertahan hingga 9 jam 26 menit. Selisih hampir 40% ini terjadi pada dua perangkat yang, ingat, hampir semua komponennya identik kecuali chipsetnya.

Ini bukan kali pertama Exynos 2600 menunjukkan tanda-tanda haus daya. Dalam uji sebelumnya, Galaxy S26 (Exynos) dilaporkan mengonsumsi daya 40% lebih besar dibandingkan OnePlus 15 yang menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5, meski baterai OnePlus 15 lebih besar. Namun, perbandingan dengan OnePlus 15 bisa dianggap kurang apple-to-apples karena perbedaan tuning performa dan optimasi software oleh masing-masing vendor. Justru, perbandingan antar varian Galaxy S26 inilah yang paling gamblang dan memilukan, karena menghilangkan semua variabel lain kecuali jantung prosesornya.

Lantas, di mana letak masalahnya? Migrasi ke proses 2nm seharusnya menjadi senjata pamungkas Samsung. Node yang lebih kecil secara umum memungkinkan transistor yang lebih rapat dan efisien, mengurangi kebocoran daya dan panas. Namun, tampaknya keunggulan arsitektur atau optimasi pada level desain chip Snapdragon masih belum bisa ditandingi. Bisa jadi, Qualcomm masih unggul dalam mengelola cluster inti prosesor, atau efisiensi GPU-nya jauh lebih baik dalam tugas-tugas grafis yang umum di aplikasi modern. Hasil ini menjadi tamparan keras, terutama bagi konsumen di luar Amerika Serikat dan China yang mayoritas akan mendapatkan varian Exynos.

Implikasi bagi Pengguna dan Pasar

Fakta ini tentu memengaruhi persepsi nilai. Membayar harga flagship yang sama—seperti yang tercantum dalam harga resmi di Indonesia—tetapi mendapatkan pengalaman baterai yang jauh berbeda, adalah pil pahit yang sulit ditelan. Bagi pengguna berat, selisih 2,5 jam lebih itu bisa berarti perbedaan antara smartphone yang bertahan hingga pulang kerja atau yang mati di tengah perjalanan. Ini juga memunculkan pertanyaan tentang keadilan dalam segmentasi pasar global.

Di sisi lain, Samsung mungkin berargumen bahwa performa peak atau fitur AI tertentu pada Exynos 2600 lebih unggul. Memang, fitur unggulan Galaxy AI tetap hadir di kedua varian. Namun, untuk kebanyakan orang, daya tahan baterai adalah metrik nyata yang langsung terasa setiap hari. Fitur canggih seperti Privacy Display atau kemampuan menerima file dari AirDrop menjadi kurang berguna jika perangkat kerap kehabisan daya.

Uji dari AndroidAddicts ini juga mengonfirmasi bahwa benchmark sintetis sering kali tidak merefleksikan kondisi pemakaian sesungguhnya. Chipset mungkin mencetak angka tinggi di lab, tetapi ketika dihadapkan pada kombinasi tugas yang berubah-ubah dan koneksi jaringan yang fluktuatif, efisiensi energilah yang menjadi penentu. Keputusan Samsung untuk tetap mempertahankan dual-chipset strategy-nya kini dihadapkan pada bukti yang semakin sulit dibantah oleh komunitas pengguna internasional.

Menatap Ke Depan: Apakah Masih Ada Harapan?

Pertanyaan besarnya adalah: apakah ini akhir dari cerita? Tidak selalu. Perangkat lunak memiliki peran krusial. Ada kemungkinan Samsung dapat merilis pembaruan optimasi yang meningkatkan efisiensi Exynos 2600 melalui penyesuaian pengelolaan frekuensi CPU/GPU atau manajemen thermal yang lebih agresif. Namun, memperkecil jarak sebesar 40% hanya melalui update OTA tampaknya merupakan tugas yang sangat berat, mendekati mustahil. Perbaikan mendasar mungkin baru benar-benar terlihat pada generasi chipset berikutnya.

Bagi Anda yang berada di wilayah yang mendapatkan varian Snapdragon, berbahagialah. Anda mendapatkan paket lengkap: performa tangguh ditambah daya tahan baterai yang melegakan. Namun, bagi yang terjebak dengan varian Exynos, persiapan ekstra seperti power bank atau kebiasaan mengisi daya di sela-sela aktivitas mungkin menjadi keniscayaan. Keputusan untuk membeli Galaxy S26 atau S26+ kini tidak lagi sekadar memilih warna atau kapasitas penyimpanan, tetapi juga menyangkut pilihan mendasar tentang seberapa sering Anda ingin berinteraksi dengan stopkontak.

Pada akhirnya, temuan ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia smartphone, angka nanometer yang lebih kecil tidak selalu langsung diterjemahkan menjadi efisiensi yang lebih baik. Ini adalah permainan rumit antara arsitektur, desain, dan optimasi perangkat lunak. Samsung telah mengambil lompatan berani dengan 2nm, tetapi lompatan itu belum mendarat dengan sempurna. Konsumen, sekali lagi, dihadapkan pada realitas bahwa di balik kemiripan fisik yang sempurna, bisa tersembunyi perbedaan pengalaman yang sangat mendasar.