Telset.id – iPhone Ultra diprediksi akan dibanderol dengan harga mulai US$2.000 hingga US$2.500 atau setara Rp32 jutaan sampai Rp40 jutaan, menjadikannya salah satu ponsel lipat termahal di pasaran. Bocoran harga ini memunculkan kekhawatiran bahwa Apple akan mengulangi kesalahan yang sama seperti Apple Vision Pro, yang dianggap gagal menarik pasar massal karena banderolnya yang selangit.
Menjelang acara “surprise and shine” yang akan digelar kurang dari dua pekan lagi, rumor seputar perangkat lipat pertama Apple ini semakin memanas. Analis memperkirakan iPhone Ultra akan bersaing langsung dengan Galaxy Z Fold 8 Ultra yang dibanderol US$2.099 dan Pixel 11 Pro Fold dengan harga mulai US$1.899.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal spesifikasi atau desain, melainkan apakah Apple berani mematok harga yang kompetitif atau justru masuk ke kategori ultra-luxury yang berisiko. Sejarah menunjukkan bahwa harga menjadi faktor penentu kesuksesan perangkat foldable di pasar.
Perbandingan Harga iPhone Ultra dengan Kompetitor
Berdasarkan estimasi yang beredar, iPhone Ultra akan hadir dalam tiga varian penyimpanan dengan rentang harga yang cukup lebar. Pada estimasi terendah, varian 256GB diprediksi dibanderol sekitar US$2.100, sementara estimasi tertinggi bisa mencapai US$2.500 untuk varian dasar dan US$2.900 untuk kapasitas 1TB.

Jika dibandingkan dengan kompetitor utamanya, selisih harga ini cukup signifikan. Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra dijual mulai US$2.099 untuk varian 256GB, sedangkan Google Pixel 11 Pro Fold lebih agresif dengan harga US$1.899 di tier yang sama. Motorola bahkan hadir lebih murah dengan Razr Fold di angka US$1.899.
Menariknya, struktur harga iPhone Ultra kemungkinan mengikuti pola yang sama seperti iPhone 17 Pro Max, di mana setiap tier penyimpanan dipisahkan oleh selisih sekitar US$200. Pola ini membuat konsumen bisa memperkirakan kisaran harga untuk setiap kapasitas penyimpanan.
Baca Juga:
Beberapa analis meyakini angka US$2.300 menjadi titik paling realistis untuk harga dasar iPhone Ultra. Angka ini dianggap tidak terlalu ekstrem sehingga masih bisa menarik pembeli yang terbiasa membayar di atas US$1.000 untuk flagship biasa, namun tetap memberi ruang bagi Apple untuk menetapkan posisi premium.
Alasan di Balik Harga Tinggi iPhone Ultra
Ada beberapa faktor teknis yang menjelaskan mengapa iPhone Ultra bisa dibanderol sangat tinggi. Salah satu pendorong terbesar adalah teknologi lipatan layar yang hampir tidak terlihat. Apple dikabarkan telah mengembangkan teknologi yang membuat lipatan bagian dalam tampak mulus, sesuatu yang belum berhasil dihilangkan sepenuhnya oleh produsen lain.

Meskipun Samsung telah melakukan pekerjaan impresif dalam meminimalkan lipatan pada Galaxy Z Fold 8 series melalui teknologi Flex Titanium, Apple tetap perlu mengeluarkan biaya manufaktur tambahan untuk menghilangkan kompromi estetika ini sepenuhnya.
Dari sisi performa, iPhone Ultra dikabarkan akan menggunakan chip A20 Pro yang memanfaatkan proses fabrikasi 2nm. Peningkatan silikon ini, ditambah dengan kenaikan biaya komponen di seluruh rantai pasokan, berpotensi mendongkrak biaya produksi secara substansial. Tekanan biaya ini juga dialami Google dan Samsung yang menaikkan harga foldable terbaru mereka sebesar US$100 dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun, pembenaran paling kuat untuk harga tinggi ini mungkin datang dari pengalaman perangkat lunak di iOS 27. Selain fitur Siri AI dan Apple Intelligence, pembeda utamanya adalah optimasi tingkat sistem untuk penskalaan aplikasi dinamis dan transisi yang mulus antara layar dalam dan luar.
Partner hardware Android masih bergulat dengan masalah konsistensi multi-window layout. Jika Apple berhasil menciptakan transisi mulus di kedua layar dalam orientasi portrait maupun landscape, pengalaman perangkat lunak yang halus ini bisa menjadi alasan kuat di balik harga premium tersebut.

Apple sendiri disebut-sebut memprediksi akan ada sekitar 10 juta orang yang bersedia membeli iPhone Ultra dengan harga US$2.500. Angka ini menunjukkan keyakinan Apple bahwa pasar foldable premium memiliki pangsa yang cukup besar, meski risikonya juga tidak kecil.
Perlu dicatat bahwa iPhone Ultra juga diprediksi akan mendukung MagSafe, meskipun bocoran desain awal tidak menampilkan fitur tersebut secara eksplisit. Ini menjadi nilai tambah yang bisa memperkuat ekosistem aksesori Apple yang sudah ada.
Keputusan Apple untuk masuk ke pasar foldable di tahun 2026 ini memang tergolong terlambat dibandingkan para pesaingnya. Namun, dengan segala keunggulan teknis yang dibawa, Apple tampaknya ingin menebus ketertinggalan tersebut dengan menghadirkan produk yang benar-benar berbeda dari yang sudah ada di pasar.
Yang jelas, iPhone Ultra bukan sekadar ponsel lipat biasa. Dengan harga yang diprediksi menyentuh US$2.900 untuk varian tertinggi, Apple menempatkan perangkat ini di segmen yang sangat eksklusif. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah strategi harga ini akan berhasil atau justru menjadi bumerang seperti yang terjadi pada Apple Vision Pro.





Komentar
Belum ada komentar.