Ilustrasi ponsel Huawei Mate 80 Pro dengan desain premium

Huawei Ponsel China Paling Diinginkan di AS, Ini Alasannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Huawei memimpin jajak pendapat PhoneArena sebagai merek ponsel China paling diinginkan di AS dengan 31% suara
  • Oppo di posisi kedua (26%), disusul Xiaomi (22,68%), Vivo (9,65%), iQOO (6,76%), dan Realme (3,98%)
  • Huawei pernah menjual Mate 10 Pro di AS pada 2018 sebelum terkena sanksi perdagangan AS
  • Huawei mengembangkan chip Kirin dengan teknik Logic Folding untuk mengatasi larangan akses teknologi
  • Vivo X300 Ultra dan Oppo Find X9 Ultra disebut sebagai ponsel inovatif yang tidak dijual resmi di AS

Telset.id – Inovasi ponsel pintar kini didominasi pabrikan China, namun konsumen di Amerika Serikat kesulitan mendapatkannya. Sebuah jajak pendapat terbaru mengungkapkan bahwa Huawei menjadi merek China yang paling diinginkan untuk dijual resmi di AS, dengan 31% suara.

Jajak pendapat yang dilakukan PhoneArena ini melibatkan pembaca setia mereka. Hasilnya, Huawei unggul tipis atas Oppo yang meraih hampir 26% suara. Posisi ketiga ditempati Xiaomi dengan 22,68%, disusul Vivo (9,65%), iQOO (6,76%), dan Realme (3,98%).

Dominasi Huawei ini menarik karena merek tersebut memiliki sejarah panjang di pasar AS. Pada 2015, Huawei pernah menjadi mitra Google untuk memproduksi Nexus 6P. Ponsel terakhir bermerek Huawei yang dijual resmi di AS adalah Mate 10 Pro pada 2018, yang dijual tanpa ikatan operator karena AT&T membatalkan kerja sama di menit terakhir.

Situasi memburuk pada 2019 ketika Huawei masuk daftar hitam Departemen Perdagangan AS (Entity List). Puncaknya pada 2020, AS menerapkan Foreign Direct Product Rule (FDPR) yang memblokir akses Huawei ke chip canggih. Akibatnya, konsumen AS hanya bisa mengimpor ponsel Huawei, dengan keterbatasan dukungan jaringan seperti T-Mobile.

Meski terhambat, Huawei terus berinovasi. Perusahaan mengembangkan Tau Scaling Law, pendekatan baru dalam manufaktur chip yang berfokus pada kecepatan transmisi data, bukan sekadar mengecilkan ukuran transistor. Mulai Mate 90 akhir tahun ini, Huawei akan menggunakan prosesor Kirin buatan sendiri dengan teknik bernama Logic Folding.

Teknik ini mengurangi kabel internal dalam chip Kirin dengan menumpuk lapisan chip aktif secara vertikal. Huawei mengklaim pada 2031, Logic Folding dapat memproduksi Kirin dengan kepadatan transistor setara chip 1.4nm. Ini adalah terobosan signifikan di tengah larangan AS membeli mesin litografi canggih.

Selain Huawei, jajak pendapat juga menyoroti merek China lain yang diminati. Oppo Find X9 Ultra misalnya, dibekali dua sensor kamera 200MP dan optical zoom 10x asli tanpa cropping digital. Vivo X300 Ultra juga menjadi primadona dengan kamera utama 200MP Sony LYTIA 901, periskop 200MP 3.7x optical zoom, ultra-wide 50MP, dan kamera depan 50MP.

Sayangnya, ponsel-ponsel inovatif ini tidak dijual resmi di AS. Konsumen yang ingin memilikinya harus mengimpor, disarankan memilih varian Global ROM agar mendukung Android Auto. Ini membuktikan bahwa semua inovasi hardware smartphone kini berpusat di China, seperti yang ditulis penulis PhoneArena Alan Friedman bertahun-tahun lalu.

Fakta bahwa Huawei memimpin jajak pendapat menunjukkan kerinduan konsumen AS pada inovasi ponsel China. Di sisi lain, situasi ini juga mencerminkan betapa politik perdagangan telah membatasi pilihan konsumen. Alan Friedman, jurnalis senior PhoneArena, mengungkapkan keinginannya untuk bisa membeli Oppo Find X9 Ultra varian AS dengan dukungan semua pita 5G tanpa harus melalui importir.

Ia juga menyoroti bahwa banyak merek China juga unggul di segmen foldable. Huawei menjadi yang pertama merilis tri-fold pada 2024 dengan Mate XT. Oppo juga berhasil membuat lipatan pada layar Find N6 hampir tidak terlihat dengan teknologi “Zero-Feel Crease.”

Meskipun kemungkinan melihat ponsel China dijual resmi di AS dalam waktu dekat sangat kecil, jajak pendapat ini menjadi indikator kuat bahwa konsumen di negara tersebut menginginkan akses yang lebih mudah ke inovasi dari China. Hal ini sejalan dengan tren global di mana ponsel China terus mendorong batas-batas teknologi.

Bagi penggemar teknologi di Indonesia, situasi ini justru menguntungkan. Berbagai merek China seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Realme sudah resmi masuk pasar Indonesia dengan harga bersaing. Konsumen Indonesia bisa menikmati inovasi seperti pengisian daya 240W SuperVOOC dari Realme yang bisa mengisi penuh baterai dalam waktu kurang dari 10 menit.

Sementara itu, perkembangan chip Kirin buatan Huawei dengan teknik Logic Folding patut dicermati. Jika berhasil, ini bisa mengubah peta persaingan industri chip global. Keberhasilan Huawei memproduksi chip setara 1.4nm pada 2031 akan menjadi pencapaian luar biasa mengingat keterbatasan akses teknologi.

Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan terkini dunia teknologi, kami sarankan untuk menyimak artikel tentang Fitur Terbaru dari Facebook. Jangan lewatkan juga informasi tentang Cara Mengatasi bug brightness di iPhone terbaru.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.