Telset.id – Nvidia dikabarkan telah menyiapkan GPU RTX 5000 Super, namun peluncurannya ditunda karena harga modul VRAM GDDR7 3GB yang melonjak tiga kali lipat. Kondisi ini berpotensi membuat harga jual kartu grafis tersebut membengkak hingga ratusan dolar AS, menjadi kabar buruk bagi para gamer yang menantikan peningkatan performa.
Informasi ini berasal dari laporan VideoCardz yang mengutip sumber dari salah satu mitra papan sirkuit (board partner) Nvidia. Sumber tersebut mengonfirmasi bahwa perusahaannya telah menerima chip GPU untuk seri RTX 5000 Super dari Nvidia. Namun, Nvidia kemudian memerintahkan untuk menunda produksi massal alias ‘on hold’.
Penyebab penundaan ini bukanlah masalah teknis pada arsitektur GPU, melainkan meroketnya harga komponen memori. Seri Super membutuhkan modul GDDR7 3GB terbaru yang harganya sekitar tiga kali lebih mahal dibandingkan modul 2GB yang digunakan pada seri RTX 5000 standar. Biaya material yang tinggi ini membuat Nvidia harus mengkaji ulang strategi harga.
Dampak kenaikan harga VRAM ini sangat signifikan. Berdasarkan perhitungan kasar, untuk RTX 5070 Super yang digadang-gadang akan memiliki VRAM 18GB, biaya modul memorinya saja diperkirakan mencapai $360. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan biaya VRAM RTX 5070 standar (12GB) yang hanya sekitar $120. Artinya, ada tambahan biaya sekitar $240 hanya dari sisi memori.
Kenaikan biaya produksi ini jelas akan dibebankan kepada konsumen. Jika RTX 5070 Super sudah memiliki harga yang mahal, tambahan premium sebesar itu bisa membuatnya menjadi sangat tidak terjangkau. Hal yang sama juga berlaku untuk RTX 5080 Super dan RTX 5070 Ti Super yang kabarnya akan dibekali VRAM sebesar 24GB.
Baca Juga:

Meskipun tertunda, kabar baiknya adalah seri RTX 5000 Super tetap akan dirilis. Rumor sebelumnya bahkan menyebutkan bahwa peluncuran bisa terjadi pada tahun 2026 ini. Namun, waktu peluncuran yang pasti masih belum jelas karena Nvidia harus menyelesaikan masalah penetapan harga yang kompetitif.
Kehadiran RTX 5070 Super dengan RAM 18GB tentu menjadi angin segar bagi gamer yang mengeluhkan kapasitas memori 12GB pada model standar. Namun, jika harganya melambung terlalu tinggi, daya tarik tersebut bisa luntur. Para calon pembeli harus bersiap dengan banderol harga yang lebih tinggi dari perkiraan awal.
Krisis harga VRAM ini bukanlah fenomena baru. Sebelumnya, Nvidia juga dilaporkan menghidupkan kembali GPU lawas seperti RTX 3060 untuk mengatasi kelangkaan kartu grafis di segmen entry-level. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pada rantai pasokan memori masih berlangsung dan berdampak pada seluruh lini produk.
Dalam situasi seperti ini, Nvidia membangun pabrik AI di Jepang untuk meningkatkan pasokan chip. Namun, langkah tersebut mungkin belum cukup untuk menekan biaya VRAM dalam waktu dekat.
Perlu diingat bahwa semua informasi ini masih sebatas rumor dan belum ada konfirmasi resmi dari Nvidia. Meski demikian, konsistensi bocoran dari berbagai sumber menunjukkan bahwa ada fondasi yang kuat di balik kabar ini. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.





Komentar
Belum ada komentar.