Telset.id – Keputusan Federal Communications Commission (FCC) untuk melarang model baru robot humanoid dan perangkat canggih lainnya dari China berpotensi menghambat pertumbuhan banyak perusahaan robotika kecil di Amerika Serikat. Pasalnya, banyak perusahaan tersebut mengembangkan perangkat lunak, tetapi masih sangat bergantung pada pemasok China untuk kebutuhan perangkat kerasnya.
Investasi di startup robotika memang mencapai rekor tertinggi tahun ini, baik dari jumlah kesepakatan maupun nilai dolar yang diinvestasikan, menurut PitchBook yang melacak arus modal ventura. Namun, di balik angka positif tersebut, terdapat kerentanan besar dalam rantai pasokan yang kini mulai terungkap.
Di tengah situasi ini, sebagian bisnis justru bisa diuntungkan, termasuk Ati Robotics. Startup yang didirikan pada 2017 ini awalnya mengembangkan motor untuk mobil otonom. Beberapa tahun kemudian, perusahaan memutuskan fokus membuat robot sendiri, termasuk tugger dan pallet mover yang mengangkut material berton-ton di fasilitas besar.
Ati mengembangkan perangkat kerasnya sendiri dengan keyakinan bahwa hal itu akan menghasilkan fungsionalitas yang lebih baik. Keputusan ini sempat mendapat peringatan dari banyak penasihatnya, tetapi justru secara alami membatasi ketergantungan pada China.
Keputusan tersebut kini mulai membuahkan hasil. Ati memiliki beberapa ratus robot yang beroperasi di gudang dan pabrik, dengan lebih dari 50 pelanggan secara total, ujar Saurabh Chandra, CEO Ati Robotics. Humanoid pertama Ati yang dirancang untuk memindahkan wadah berat akan mulai beroperasi akhir tahun ini.
Chandra berbicara kepada WIRED pekan lalu tentang bagaimana Ati Robotics menghindari China sambil membangun robot yang menurutnya mampu bersaing dengan industri terbaik dalam hal harga dan performa.
Strategi Bertahan dengan Biaya Rendah
Mengembangkan perangkat keras memang mahal. Chandra menjelaskan bahwa riset dan pengembangan dilakukan di Bangalore, yang membantu menekan biaya tenaga kerja. Kebetulan, Bangalore sedang mengalami revolusi kendaraan listrik dalam kategori roda dua dan roda tiga di India.
Ternyata, jenis kendaraan yang dibuat untuk industri robotika memiliki profil daya dan karakteristik yang mirip dengan kendaraan roda dua dan roda tiga dalam industri EV. Ati mencoba memanfaatkan komponen dan rantai pasokan yang dikembangkan untuk kendaraan tersebut.
Komponen otomotif umumnya sangat andal dan diproduksi dalam volume besar, sehingga berkualitas baik dan efisien dari segi biaya. Meski harus melakukan rekayasa dengan beberapa vendor agar komponen tersebut berfungsi dalam robot, hasilnya menjadi kemenangan besar.
Tingkat Ketahanan Rantai Pasokan Berbeda
Tidak semua model robot Ati sepenuhnya bebas dari komponen China. Chandra menyebutnya sebagai “ketahanan rantai pasokan” dengan tingkat yang berbeda-beda. Dua model terlarisnya, tugger 10.000 pon dan pallet mover, menggunakan sangat sedikit komponen dari China.
Kedua robot tersebut berfungsi menarik troli, misalnya membawa bahan baku dari gudang ke lini pabrik atau dari satu titik proses ke titik lainnya. Namun, untuk humanoid yang sedang dikembangkan, lengan penuh dibuat di Bangalore dan aktuator juga dibuat di sana.
Meski demikian, Ati masih mendapatkan harmonic drive dari China dan frameless motor untuk saat ini. Sel baterai juga berasal dari China, tetapi bisa dengan mudah diganti dari Korea Selatan atau Jepang. Komponen-komponen tersebut bersifat pasif.
Yang menarik, Ati menggunakan motor induksi sehingga magnet dalam motor pun tidak berasal dari China. Ini merupakan pilihan yang sangat berbeda dari banyak pelaku industri robotika lainnya.
Robot Paling Bebas China
Tugger 10.000 pon menjadi robot yang paling sedikit menggunakan komponen China. Robot ini benar-benar bebas China. Sementara pallet mover memiliki kurang dari 5 persen komponen China. Satu-satunya bagian tugger yang masih membutuhkan China hanyalah sel baterai.
Untuk pallet mover, Ati menggunakan satu sensor lidar solid-state yang sangat baik yang tidak memiliki alternatif di luar China. Sementara untuk tugger, Ati menggunakan Ouster, sensor lidar buatan Amerika Serikat.
Keputusan ini membutuhkan trade-off. Ati menggunakan motor induksi yang sedikit kurang efisien dibandingkan motor brushless buatan China yang memiliki magnet. Namun, efisiensi yang sedikit berkurang bisa dikompensasi dengan baterai yang lebih besar.
Rantai Pasokan Bukan Bagian Utama Pemasaran
Menariknya, rantai pasokan bukan bagian besar dari strategi pemasaran Ati. Meski demikian, perusahaan tetap memberi tahu pelanggannya. Banyak pelanggan mengaku bahwa hal ini memengaruhi keputusan pembelian mereka, meski bukan menjadi kriteria pembelian yang eksplisit.
Untuk humanoid baru, Ati belum mengoptimalkan rantai pasokan dari awal. Gear saat ini berasal dari China, tetapi gear serupa juga diproduksi di Jerman, Taiwan, dan Jepang. Harganya memang lebih mahal, tetapi alternatifnya tersedia.
Menanggapi larangan baru FCC, Chandra menilai regulasi tersebut tidak melarang penggunaan semua komponen dari China. Namun, banyak pihak akan terdampak. Sebagian besar robot justru diciptakan di AS, tetapi tidak diproduksi di sana.
Chandra berharap lebih banyak pihak akan terdorong membuat robot secara lokal. Saat ini, semua robot Ati diproduksi di Bangalore, tetapi perusahaan sedang menyiapkan fasilitas di Madison Heights dekat Detroit, Michigan, untuk perakitan di masa depan.
Reaksi pelaku industri robotika terhadap larangan baru ini masih dalam tahap penolakan. Beberapa bulan lalu, Chandra bertemu orang-orang di sebuah konferensi yang aktif melobi di Washington DC untuk mencegah kebijakan ini terjadi, tetapi upaya mereka tampaknya tidak berhasil.
Pihak yang Diuntungkan
Chandra meyakini semua pihak yang mencoba membuat robot di luar China akan diuntungkan dari kebijakan ini, termasuk perusahaan robotika di AS dan Eropa. Ati sendiri mengaku sebagai penerima manfaat yang tidak disengaja.
Tesla dengan Optimus jelas menjadi penerima manfaat utama. Figure, startup robotika yang memproduksi di AS, juga akan diuntungkan. Chandra berharap lebih banyak orang terinspirasi, karena menurutnya apa yang dilakukan Ati bukanlah sesuatu yang ajaib.
Kebijakan FCC ini menandai perubahan signifikan dalam lanskap industri robotika global. Perusahaan yang sejak awal membangun kemandirian rantai pasokan kini memiliki posisi lebih kuat. Sementara perusahaan yang terlalu bergantung pada China harus segera mencari alternatif.
Keputusan Ati untuk mengembangkan perangkat keras sendiri, yang awalnya dianggap sebagai langkah berisiko, kini terbukti menjadi keunggulan kompetitif. Perusahaan membuktikan bahwa robot berkualitas dapat diproduksi dengan ketergantungan minimal pada China tanpa mengorbankan harga dan performa.
Bagi industri robotika AS secara keseluruhan, kebijakan ini menjadi momentum untuk membangun ekosistem manufaktur lokal. Meski banyak pihak masih dalam tahap penolakan, realitas baru ini akan memaksa industri beradaptasi dan mencari solusi jangka panjang.





Komentar
Belum ada komentar.