Drone Molniya Rusia dengan modifikasi kompas magnetik untuk navigasi alternatif

Pasukan Rusia Pasang Kompas Rp30 Ribu pada Drone Molniya Lawan GPS Jamming

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pasukan Rusia di Ukraina memasang kompas magnetik seharga $2 (Rp30 ribu) pada drone Molniya untuk mengatasi GPS jamming.
  • Kompas dipasang secara kasar di bawah kamera FPV dengan lima sekrup Philips, menunjukkan modifikasi lapangan.
  • Drone Molniya adalah drone jarak menengah murah dengan sistem kontrol radio ExpressLRS dan jangkauan hingga 100 km.
  • Beberapa varian Molniya juga menggunakan koneksi Starlink atau kabel fiber optik untuk melawan jamming.
  • Modifikasi ini dianggap efektif dan mematikan meskipun terlihat primitif, mirip praktik Perang Dunia II.

Telset.id – Pasukan Rusia di garis depan Ukraina mulai memasang kompas murah seharga $2 atau sekitar Rp30 ribu pada drone Molniya untuk mengatasi gangguan GPS atau GPS jamming yang masif di medan perang. Modifikasi lapangan ini menjadi bukti bahwa inovasi perang tidak selalu membutuhkan teknologi mahal.

Laporan dari Defence Blog mengungkapkan bahwa unit-unit Rusia di garis depan menghadapi masalah serius akibat GPS jamming yang terjadi secara umum di wilayah udara Ukraina. Gangguan ini membuat operator drone berpotensi kehilangan arah menuju target. Sebagai solusi cepat dan murah, mereka memasang kompas magnetik secara kasar pada drone Molniya.

“Because of this, many frontline Russian units have started crudely installing magnetic compasses on their drones,” tulis laporan tersebut. Kompas ini biasanya dipasang tepat di bawah kamera FPV, memungkinkan operator untuk melirik ke bawah guna memastikan arah terbang. Ketika dikombinasikan dengan data telemetri lainnya, pilot drone bisa menentukan lokasi relatif mereka bahkan tanpa sinyal GPS.

Satu gambar yang bocor menunjukkan bahwa kompas hanya dipasang ke panel dekat kamera FPV dengan lima sekrup Philips. Ini menandakan bahwa modifikasi tersebut bukan berasal dari pabrik, melainkan inisiatif langsung dari pasukan di lapangan. Beberapa pihak mungkin mengejek pengembangan “tambahan” ini sebagai langkah mundur bagi arsenal Rusia yang dianggap “canggih.” Namun, laporan menegaskan bahwa selama ini membantu Rusia mencapai misi, modifikasi tersebut tetap efektif dan mematikan.

Drone Molniya sendiri adalah drone jarak menengah murah yang mengandalkan sistem kontrol radio open-source ExpressLRS. Sistem ini memungkinkan operator mengendalikannya dari potensi jarak maksimum hingga 62 mil (100 kilometer). Beberapa varian Molniya juga menggunakan koneksi Starlink untuk melawan upaya jamming dari unit perang elektronik Ukraina. Namun, persyaratan Ukraina untuk mendaftarkan unit Starlink di negara tersebut sebelum digunakan membuat strategi ini tidak lagi layak.

Selain kompas, drone Molniya juga bisa dilengkapi dengan kabel fiber optik yang membuatnya kebal terhadap segala jenis interferensi elektronik. Meskipun ini membatasi potensi jangkauan Molniya menjadi hanya 18 mil (30 kilometer), keuntungannya adalah mengurangi kemungkinan operator kehilangan kendali atas unit tersebut.

Modifikasi ini mengingatkan pada praktik Perang Dunia II ketika beberapa awak tank Amerika mengelas pelat logam tebal untuk meningkatkan armor kendaraan mereka guna melawan tank Panzer Jerman yang ditakuti. Kreativitas di medan perang seringkali lahir dari keterbatasan dan tekanan situasi.

the Molniya drone

Meskipun terlihat primitif, kompas $2 ini memberikan solusi navigasi alternatif yang sangat dibutuhkan di tengah peperangan elektronik modern. GPS jamming telah menjadi taktik umum di kedua sisi konflik, membuat ketergantungan pada satelit navigasi menjadi risiko besar. Dengan kompas sederhana, operator drone setidaknya memiliki alat bantu manual untuk memverifikasi arah.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa kompas ini bekerja dengan prinsip magnetisme Bumi, sebuah teknologi navigasi kuno yang justru menjadi andalan di era drone canggih. “I’m sure in the documents they write: Navigation equipment based on the principles of Earth’s magnetism,” tulis salah satu komentar di media sosial yang mengomentari foto modifikasi tersebut.

Keberadaan modifikasi ini menunjukkan bahwa perang di Ukraina telah menjadi laboratorium inovasi militer yang unik. Kedua belah pihak terus mencari cara untuk mengatasi kelemahan teknologi lawan, seringkali dengan solusi sederhana namun efektif. Dalam konteks ini, kompas murah menjadi bukti bahwa adakalanya solusi low-tech bisa menjadi jawaban atas tantangan high-tech.

Bagi pengamat militer, fenomena ini juga menyoroti betapa pentingnya fleksibilitas dan kreativitas di medan perang modern. Meskipun Rusia memiliki persenjataan canggih, termasuk satelit komunikasi dan sistem perang elektronik, kebutuhan di lapangan memaksa mereka untuk kembali ke dasar-dasar navigasi.

Dengan harga hanya $2 per unit, kompas ini menjadi salah satu upgrade termurah namun paling krusial di medan perang. Efektivitasnya mungkin tidak bisa diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kemampuannya menyelesaikan misi di tengah gangguan elektronik yang masif.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.