RedMagic 11 Pro Dicoret 3DMark, Nubia Bela Diri Soal Skor Benchmark

RedMagic 11 Pro Dicoret 3DMark, Nubia Bela Diri Soal Skor Benchmark

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Skor benchmark tinggi di lembar spesifikasi kerap jadi senjata pamungkas untuk menjual smartphone gaming. Tapi, apa jadinya jika angka-angka mentereng itu dihapus dari papan peringkat resmi karena dianggap “curang”? Inilah yang baru saja menimpa RedMagic 11 Pro dan Pro+, setelah platform pengujian ternama, 3DMark, mencabut hasil performa kedua ponsel gaming Nubia itu dari databasenya.

Langkah tegas 3DMark ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan, penghapusan dilakukan karena sang produsen diduga melanggar aturan selama proses pengujian. Inti masalahnya terletak pada cara ponsel menangani batasan performa saat menjalankan software benchmark. 3DMark menyatakan perangkat bersikap berbeda ketika mendeteksi tesnya berjalan. Secara spesifik, ponsel dituding menghilangkan batas normal untuk konsumsi daya dan suhu saat benchmark dijalankan. Praktik ini memungkinkan chipset bekerja pada level yang luar biasa tinggi tanpa mengalami throttling, bahkan saat temperatur terus merangkak naik.

Dari sudut pandang 3DMark, ini menciptakan hasil yang tidak mencerminkan penggunaan dunia nyata yang khas. Aturan platform dirancang untuk memastikan skor mewakili performa yang bisa diharapkan pengguna dalam kondisi normal, bukan dalam mode pengujian khusus. Karena itulah, hasil untuk RedMagic 11 Pro dan Pro+ diklasifikasikan sebagai pelanggaran dan dihapus. Ini adalah tamparan keras bagi citra ponsel yang mengusung bendera performa maksimal. Bagi Anda yang sedang membandingkan performa gaming berbagai ponsel, kejadian ini jadi pengingat penting untuk melihat benchmark dengan kritis.

Ilustrasi benchmark 3DMark di smartphone

Lantas, bagaimana tanggapan Nubia? Sang brand di balik seri RedMagic tak tinggal diam. Dalam pernyataan resmi kepada Android Authority, perusahaan membela pendekatan yang mereka ambil. Nubia berargumen bahwa perangkat mereka dibangun untuk “pengalaman berperforma tinggi,” khususnya dalam skenario gaming yang menuntut, dan menyertakan berbagai mode performa yang bisa diaktifkan pengguna. Mereka secara spesifik menunjuk fitur bernama “Diablo Mode,” yang memang dirancang untuk mendorong hardware hingga batas maksimalnya di bawah beban kerja berat.

Nubia juga menyatakan bahwa benchmarking seharusnya dipandang sebagai “indikator potensi performa sebuah perangkat di bawah kondisi terkontrol dan beban tinggi,” menambahkan bahwa hasilnya bisa bervariasi tergantung pengaturan sistem dan penggunaan. Dengan kata lain, Nubia berpendapat bahwa skor yang dihasilkan mencerminkan apa yang mampu dilakukan oleh hardware, sekalipun level performa tersebut tidak selalu aktif secara default. Ini adalah pembelaan yang menarik, karena mengangkat pertanyaan filosofis: apakah benchmark harus mengukur performa “normal sehari-hari” atau justru “potensi maksimal” yang bisa dikeluarkan perangkat?

Sebenarnya, tidak mengejutkan melihat sebuah brand mengoptimalkan aplikasi tertentu agar berjalan lebih baik—itu hal yang wajar dan justru baik. Namun, dalam kasus aplikasi benchmark, praktik semacam ini seharusnya tidak terjadi, karena dianggap sebagai manipulasi skor. Integritas data benchmark adalah fondasi bagi konsumen dan media untuk melakukan perbandingan yang adil. Ketika fondasi itu goyah, kepercayaan pun ikut terkikis. Ini menjadi pelajaran berharga, mirip dengan dinamika persaingan sengit yang kita lihat dalam duel chipset flagship terbaru, di mana setiap angka dijadikan ajang pamer kekuatan.

Kasus RedMagic ini mengingatkan kita pada sebuah paradoks dalam industri teknologi. Di satu sisi, konsumen menginginkan angka benchmark yang tinggi sebagai jaminan kualitas. Di sisi lain, produsen merasa terdorong, atau bahkan tertekan, untuk memenuhi ekspektasi itu dengan cara apapun, termasuk dengan mengoptimalkan perangkat secara khusus untuk melewati tes-tes tertentu. Di mana batas antara optimasi cerdas dan manipulasi? 3DMark tampaknya telah memberikan garis tegasnya. Platform itu tidak ingin skor yang tercantum di daftarnya hanyalah ilusi, hasil dari “mode balap” khusus yang tidak merepresentasikan pengalaman pengguna sesungguhnya saat bermain game berat selama berjam-jam.

REDMAGIC 11 Pro and 11 Pro+

Pernyataan Nubia tentang “Diablo Mode” memang masuk akal dari perspektif pengguna hardcore. Seorang gamer yang membeli RedMagic mungkin memang ingin memeras setiap bit kekuatan dari chipsetnya, dan fitur semacam itu adalah nilai jual. Namun, masalahnya terletak pada transparansi. Jika ponsel secara otomatis mengaktifkan mode ultra-performance ini hanya saat mendeteksi aplikasi benchmark, tanpa sepengetahuan penguji, maka skor yang dihasilkan menjadi menyesatkan. Skor itu tidak menggambarkan performa “out-of-the-box”, melainkan performa dalam kondisi laboratorium yang sangat spesifik dan diatur. Ini berbeda dengan, misalnya, realme 11 yang lebih fokus pada keseimbangan fitur harian.

Jadi, apa yang bisa dipelajari dari insiden ini? Pertama, sebagai konsumen, kita perlu lebih bijak membaca skor benchmark. Angka tinggi di 3DMark atau AnTuTu bukanlah segalanya. Yang lebih penting adalah performa konsisten dalam penggunaan nyata, manajemen termal yang baik, dan pengalaman gaming yang mulus tanpa drop frame. Kedua, bagi produsen, integritas dalam pengujian adalah aset jangka panjang. Kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit diperbaiki dibandingkan kehilangan beberapa poin dalam sebuah chart benchmark. Insiden ini mungkin hanya tentang dua model ponsel, tetapi implikasinya menyentuh seluruh etika kompetisi dalam industri smartphone gaming yang semakin panas. Satu hal yang pasti, perdebatan antara “potensi maksimal” dan “performsa realistis” dalam benchmark masih akan panjang.