Telset.id – Penelitian terbaru American Heart Association (AHA) menyebut perangkat wearable massal seperti smartwatch dan fitness tracker dapat membantu memprediksi episode tekanan darah sangat tinggi atau hypertensive crisis hingga tiga hari sebelum terjadi. Temuan ini menjadi kabar penting bagi pengguna wearable yang selama ini memakai perangkatnya hanya untuk memantau detak jantung dan kualitas tidur.
Penelitian berlangsung selama 12 bulan dan melibatkan lebih dari 4.000 peserta yang hidup dengan hipertensi tahap 2. Dalam studi tersebut, peserta mengenakan blood pressure monitor portabel bergaya manset sekaligus fitness tracker. Alat pengukur tekanan darah memantau tekanan darah peserta saat berolahraga hingga ketika tidur, sementara wearable berbasis pergelangan tangan mengukur detak jantung dan heart rate variability (HRV).
Menurut para ahli di American Heart Association, ketika data dari fitness wearable dan blood pressure monitor dimasukkan ke model AI, sistem dapat memprediksi apakah seseorang berisiko mengalami hypertensive crisis. Prediksi itu memberi kesempatan bagi pengguna untuk segera mencari pertolongan medis.
Bagaimana AI Membaca Risiko Hipertensi Kritis
Dari ribuan peserta studi, 312 orang mengalami episode lonjakan tekanan darah yang berbahaya. Studi juga mencatat bahwa orang yang tekanan darahnya tidak turun saat tidur memiliki peluang lima kali lebih tinggi mengalami episode hypertensive crisis.
Selain itu, di antara peserta yang menerima peringatan dari sistem sensing berbasis AI dan mendapatkan obat yang tepat dari tenaga kesehatan dalam 24 jam pertama, peluang terjadinya hypertensive crisis berkurang 61%. Kunjungan darurat ke rumah sakit juga turun 45%.
Tim peneliti memantau sejumlah metrik, termasuk tingkat tekanan darah saat tidur dan saat terjaga, serta bagaimana perubahan metrik tersebut terhadap aktivitas jantung. “Di antara peserta yang mendapat peringatan positif, sekitar 32% mengalami hypertensive crisis, sementara 97,4% pasien yang tidak mendapat peringatan tetap bebas krisis,” demikian pernyataan pers dari AHA.
Baca Juga:
Batasan Wearable dan Posisi Huawei Watch D3
Meski hasil studi disebut sebagai milestone penting, cakupannya masih terbatas. American Heart Association mengingatkan bahwa tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan tidak diobati dapat berujung pada risiko kesehatan serius seperti gagal jantung, stroke, serangan jantung, kehilangan penglihatan, dan aterosklerosis.

Sampai sekarang, wearable belum berada di tahap bisa dianggap sebagai pengganti penuh perangkat medis untuk mengukur aktivitas jantung dan tekanan darah. Apple Watch Series 12 dan Samsung Galaxy Watch 9, misalnya, dapat mendeteksi fluktuasi tekanan darah dan memberi peringatan kepada pengguna. Namun keduanya tidak menunjukkan nilai sistolik dan diastolik spesifik seperti yang bisa diukur oleh blood pressure monitor medis bergaya manset.
Kedua perangkat itu tetap mengumpulkan sejumlah biomarker lain yang berguna, seperti detak jantung, HRV, dan saturasi oksigen darah. Huawei mengambil langkah berbeda. Smartwatch terbarunya, Watch D3, dilengkapi manset berpenggerak micropump yang benar-benar mengembang dan mengukur nilai tekanan darah sistolik dan diastolik.
Menariknya, minat terhadap perangkat wearable dengan kemampuan pemantauan kesehatan terus tumbuh di pasar Indonesia. Sejumlah merek bahkan merilis beberapa perangkat sekaligus, seperti yang terlihat dari langkah Xiaomi Indonesia yang menghadirkan tiga wearable baru dengan harga mulai Rp 449 ribu.

Di sisi lain, pendekatan pemantauan kesehatan tanpa wearable juga mulai muncul. Anker, misalnya, menghadirkan perangkat yang bisa melacak tidur tanpa perlu dikenakan di tubuh, sebagaimana terlihat pada Anker SleepLab. Sementara itu, segmen wearable AI juga semakin ramai dengan kehadiran perangkat seperti Meta Muse Charm yang menyasar fungsi berbeda.
Para pakar kesehatan yang ditemui dalam pembahasan studi ini menegaskan bahwa perangkat wearable berkembang pesat, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai solusi menyeluruh atau alternatif bagi perangkat medis. Kemampuan utamanya adalah menunjukkan tren dan berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk fungsi tubuh serta pola kebugaran secara umum.
Dengan kata lain, temuan American Heart Association memperkuat posisi wearable sebagai alat skrining awal, bukan pengganti diagnosis dokter. Bagi pengguna yang memiliki riwayat hipertensi, data HRV dan pola tekanan darah dari perangkat sehari-hari bisa menjadi sinyal awal untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.





Komentar
Belum ada komentar.