Telset.id – Produsen yang masih nekat merilis laptop atau PC gaming dengan konfigurasi single-channel RAM pada tahun 2026 dinilai tidak peduli pada konsumennya. Pasalnya, keputusan tersebut dapat menyebabkan penurunan performa hingga 40 persen pada tugas yang bergantung pada grafis terintegrasi (iGPU), sebuah kerugian besar yang tidak sebanding dengan penghematan biaya kecil yang diperoleh.
Fenomena ini menjadi sorotan tajam setelah serangkaian pengujian menunjukkan dampak dramatis dari penggunaan satu keping RAM versus dua keping. Alasan utama di balik penurunan performa ini adalah bandwidth memori yang terbatas. Dalam konfigurasi single-channel, bandwidth yang tersedia hanya setengah dari konfigurasi dual-channel.
Untuk konteks, dua keping 16GB DDR5 pada kecepatan 5.600 MT/s menghasilkan bandwidth teoretis maksimal sekitar 89,6 GB/s. Sebaliknya, satu keping 32GB DDR5 pada kecepatan yang sama hanya mampu menghasilkan 44,8 GB/s. Ini adalah penurunan drastis yang secara langsung mempengaruhi kinerja sistem, terutama pada iGPU.
“Tidak ada cara yang bisa dibenarkan untuk melihat penghematan kecil yang Anda dapatkan di sana, dan berkata ‘ahh ya, tidak apa-apa, mereka bisa menangani penurunan performa 40% pada tugas iGPU’,” tulis Zak Storey, kontributor TechRadar, dalam laporannya yang juga dikutip Telset.id.
Masalah ini semakin parah ketika iGPU dan CPU harus saling berebut akses ke memori sistem yang sama. iGPU, yang tidak memiliki VRAM sendiri, sangat bergantung pada RAM sistem. Ketika bandwidth menjadi bottleneck, data tidak dapat ditransfer dengan cukup cepat, yang pada akhirnya memperlambat seluruh sistem.

Storey memberikan contoh nyata dari pengujiannya. Ia membandingkan dua PC gaming kecil dengan iGPU Radeon 890M. Satu unit menggunakan RAM dual-channel, sementara yang lain single-channel. Hasilnya, pada game Cyberpunk 2077 di resolusi 1080p, PC dual-channel mencapai 38 fps, sedangkan PC single-channel hanya 22 fps. Pada game F1 24, perbedaannya lebih ekstrem: 86 fps untuk dual-channel berbanding 30 fps untuk single-channel.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak produsen tidak secara transparan mencantumkan konfigurasi single-channel ini pada kemasan atau halaman produk. Mereka hanya menuliskan kapasitas RAM, misalnya “32GB DDR5”, tanpa menyebutkan bahwa itu hanya satu keping. Bahkan, beberapa produk dengan harga tinggi pun masih melakukan praktik ini.
“Tidak ada satu pun produsen yang mencantumkan bahwa itu adalah pengaturan single-channel; tidak di halaman produk, tidak di listing Amazon, atau bahkan spesifikasi di sisi kotak,” keluh Storey.
Kondisi ini diperparah dengan krisis harga RAM yang sedang berlangsung. Kenaikan harga memori akibat permintaan tinggi dari sektor AI membuat produsen mencari cara untuk menekan biaya, salah satunya dengan menggunakan satu keping RAM berkapasitas besar. Namun, langkah ini dinilai sangat merugikan konsumen.
Baca Juga:
Bagi konsumen yang mengandalkan performa iGPU, baik untuk gaming ringan, editing video, atau rendering, konfigurasi single-channel adalah sebuah bencana. Dampaknya tidak hanya pada frame rate game, tetapi juga pada waktu rendering file, kecepatan kompresi, dan berbagai tugas komputasi penting lainnya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi konsumen untuk melakukan riset sebelum membeli laptop atau PC gaming. Pastikan produk yang dipilih memiliki konfigurasi dual-channel RAM. Jika tidak, dan Anda sangat bergantung pada performa tersebut, rekomendasi tegas dari para ahli adalah untuk mencari produk lain.
“Saya sangat menyarankan untuk melakukan riset Anda sekarang. Pastikan mesin yang mungkin Anda pertimbangkan untuk dibeli memiliki pengaturan dual-channel,” tegas Storey.
Meskipun produsen terkadang menawarkan opsi untuk menambah keping RAM di kemudian hari, hal ini tidak serta merta menyelesaikan masalah. Konsumen tetap harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli keping RAM kedua, dan performa awal yang buruk mungkin sudah mengecewakan.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan konsumen. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya dual-channel RAM, diharapkan produsen mulai meninggalkan praktik penggunaan single-channel pada produk yang mengandalkan iGPU. Tekanan dari pasar bisa menjadi satu-satunya cara untuk mengubah kebiasaan ini.





Komentar
Belum ada komentar.