Telset.id – Persaingan ponsel lipat memasuki babak baru. Samsung dikabarkan akan merilis Galaxy Z Fold 8 Wide dengan harga $1.800, sementara Apple disebut membanderol iPhone Ultra pertamanya di atas $2.000. Langkah ini memunculkan spekulasi bahwa raksasa Korea Selatan itu sengaja menekan harga untuk mengantisipasi kehadiran pesaing utamanya.
Berdasarkan laporan terbaru, jajaran flagship foldable Samsung untuk 2026 terdiri dari tiga model. Galaxy Z Flip 8 dibanderol $1.200, Galaxy Z Fold 8 Ultra seharga $2.100, dan Galaxy Z Fold 8 Wide sebagai pendatang baru dengan harga $1.800. Kenaikan harga terjadi pada Z Flip 8 dan Z Fold 8 Ultra yang masing-masing naik $100 dari pendahulunya.
Z Fold 8 Wide hadir dengan rasio aspek lebih lebar daripada tinggi. Tujuannya jelas: bersaing langsung dengan iPhone Ultra milik Apple yang juga mengadopsi rasio aspek serupa. Jika bocoran harga terbaru akurat, selisih $400 antara kedua perangkat menjadi senjata ampuh bagi Samsung.
“Samsung mungkin sengaja memberi harga Z Fold 8 Wide secara agresif untuk menarik orang yang penasaran dengan foldable Apple tapi tidak ingin mengeluarkan lebih dari dua ribu dolar,” tulis Sebastian Pier dari PhoneArena. “Keluar dari ekosistem Apple bukan lagi tugas mustahil seperti dulu, dan harga lebih rendah bisa cukup untuk mempengaruhi beberapa pembeli.”
Keputusan ini menunjukkan strategi matang Samsung. Perusahaan memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam memproduksi ponsel lipat melalui berbagai generasi eksperimen. Sebaliknya, Apple baru pertama kali memasuki kategori ini. Samsung telah membangun ekosistem matang di sekitar perangkat lipatnya, menjadikannya pemain paling dominan di segmen tersebut.
Baca Juga:
Jika bocoran spesifikasi akurat, Galaxy Z Fold 8 Wide akan memiliki layar utama 7,6 inci dengan rasio 4:3 seperti paspor, dipadukan layar sampul 5,4 inci yang lebih praktis untuk mengetik sehari-hari. Dapur pacunya mengandalkan chip Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 dengan RAM 12 GB atau 16 GB serta penyimpanan hingga 1 TB.
Ketebalan perangkat saat terbuka hanya 4,3 mm, menjadikannya sangat ramping. Untuk mencapai profil tersebut, Samsung mengorbankan lensa telefoto dan hanya menyematkan kamera ganda 50 MP (utama) dan 50 MP (ultrawide). Bobotnya diperkirakan sekitar 200 gram. Baterai 4.800 mAh mendukung pengisian cepat 45W.
Sementara itu, Apple iPhone Ultra diprediksi membawa faktor bentuk buku premium yang merupakan hibrida antara iPhone dan iPad mini. Layar dalam ~7,8 inci dengan rasio 4:3, layar luar ~5,4 inci. Apple disebut menggunakan engsel titanium dan perekat optik khusus untuk mencapai layar OLED hampir tanpa lipatan dengan ketebalan 4,5 mm saat terbuka.
Performa iPhone Ultra akan digerakkan oleh chip A20 Pro generasi berikutnya, RAM 12 GB, dan modem C2 milik Apple sendiri. Menariknya, untuk mempertahankan bodi ultra-tipis, Apple menggantikan sistem Face ID dengan sensor Touch ID yang tertanam di tombol daya samping.
Jika rumor harga ini akurat, langkah Samsung bisa dianggap sangat cerdas. Di tengah tren kenaikan harga komponen yang terus terjadi, menawarkan perangkat lipat premium dengan selisih harga signifikan menjadi strategi jitu. Terlebih, Apple belum memiliki rekam jejak di kategori ponsel lipat, sementara Samsung sudah melewati tujuh generasi.
“Samsung tidak perlu takut,” tambah Pier. “Perusahaan telah membuat ponsel lipat selama bertahun-tahun. Berbeda dengan Apple yang baru pertama kali masuk kategori ini, Samsung memiliki pengalaman nyata dan ekosistem matang.” Galaxy S25 Edge mungkin kesulitan menemukan audiens, tapi ponsel lipat adalah cerita berbeda.
Keputusan Apple untuk menghentikan dukungan terhadap beberapa perangkat lama juga bisa menjadi faktor. Pengguna yang ingin beralih ke ekosistem Android mungkin melihat Z Fold 8 Wide sebagai titik masuk yang menarik, terutama dengan harga lebih terjangkau.
Dengan harga $1.800, Galaxy Z Fold 8 Wide memang bukan perangkat murah. Namun, di dunia di mana foldable Apple bisa mencapai $2.200, selisih $400 tiba-tiba terasa berarti. Samsung mungkin memposisikan diri sebagai pilihan rasional bagi konsumen yang menginginkan pengalaman ponsel lipat premium tanpa harus menguras kantong terlalu dalam.
Pertanyaan besarnya: apakah strategi harga ini cukup untuk menggerus dominasi Apple di pasar premium? Atau justru konsumen akan tetap memilih iPhone Ultra meski harganya lebih mahal? Jawabannya baru akan terlihat saat kedua perangkat resmi diluncurkan pada September 2026.
Yang jelas, perang harga di segmen ponsel lipat baru saja dimulai. Dan Samsung, dengan pengalaman dan ekosistemnya, memilih bermain agresif sejak awal.





Komentar
Belum ada komentar.