📑 Daftar Isi

Ilustrasi Samsung Galaxy Watch dan Apple Watch yang menunjukkan perbandingan desain smartwatch premium.

Samsung Siapkan Smartwatch Murah Galaxy Aero dengan RTOS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Samsung dikabarkan menyiapkan smartwatch murah bernama Galaxy Aero berdasarkan kode "galaxy_rtos_watch" di aplikasi Galaxy Wearable.
  • Galaxy Aero akan menggunakan RTOS (Real-Time Operating System) yang lebih ringan dibandingkan Wear OS Google.
  • Keunggulan RTOS: konsumsi daya rendah, baterai tahan hingga seminggu atau lebih, dan biaya produksi lebih murah.
  • Kompromi: tidak ada dukungan aplikasi pihak ketiga, Google Maps, Wallet, atau Gemini seperti Wear OS.
  • Samsung sebelumnya sudah menggunakan FreeRTOS pada Galaxy Fit 3 dengan memori 16MB dan baterai 208mAh yang tahan hampir dua minggu.
  • Galaxy Aero diposisikan sebagai pesaing jam tangan murah dari Amazfit dan Motorola.
  • Belum ada konfirmasi resmi dari Samsung mengenai spesifikasi lengkap, harga, dan tanggal peluncuran.

Telset.id – Samsung dikabarkan tengah menyiapkan smartwatch alternatif yang lebih terjangkau dengan nama Galaxy Aero. Perangkat ini akan menjadi pilihan baru bagi pengguna yang ingin merasakan ekosistem wearable Samsung tanpa harus merogoh kocek dalam untuk seri premium seperti Galaxy Watch 9 atau Galaxy Watch Ultra 2.

Temuan ini berasal dari referensi kode di dalam aplikasi Galaxy Wearable yang diungkap oleh SamMobile. Kode tersebut menyebut perangkat dengan nama “galaxy_rtos_watch,” yang mengindikasikan bahwa smartwatch ini tidak akan menggunakan Wear OS milik Google, melainkan sistem operasi real-time atau RTOS.

Kabar ini muncul di tengah tren harga smartwatch premium yang terus meningkat. Sebelumnya, peluncuran Galaxy Watch 9 dan Galaxy Watch Ultra 2 dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Kehadiran Galaxy Aero dengan RTOS menjadi strategi Samsung untuk menjangkau pasar yang lebih luas, terutama mereka yang mencari perangkat dengan harga lebih bersahabat.

Apa Itu RTOS dan Keunggulannya?

RTOS merupakan singkatan dari Real-Time Operating System. Berbeda dengan Wear OS yang berperilaku seperti Android mini, RTOS adalah platform ringan yang dirancang untuk menjalankan serangkaian tugas tertentu dengan cepat dan efisien. Sistem ini hanya membutuhkan daya pemrosesan dan memori yang jauh lebih kecil.

Pada sebuah smartwatch, tugas-tugas tersebut mencakup penunjuk waktu, pemantauan detak jantung, penghitung langkah, pelacakan tidur, hingga notifikasi dasar. Karena sifatnya yang ringan, RTOS mampu berjalan pada mikrokontroler berdaya rendah dengan konsumsi RAM yang jauh lebih sedikit dibandingkan prosesor aplikasi yang dibutuhkan Wear OS.

Keunggulan utama dari penggunaan RTOS adalah efisiensi biaya produksi. Samsung tidak perlu memasang prosesor mahal, memori besar, atau baterai berkapasitas tinggi seperti pada model Wear OS premium. Hal ini memberikan ruang bagi Samsung untuk bersaing dengan jam tangan dan pelacak kebugaran murah dari merek seperti Amazfit dan Motorola.

Samsung Galaxy Watch 8 and Apple Watch comparison.

Selain harga yang lebih murah, konsumsi daya yang rendah juga berdampak pada ketahanan baterai. Smartwatch berbasis RTOS umumnya mampu bertahan hingga seminggu atau lebih dalam sekali pengisian daya. Sebagai perbandingan, sebagian besar model Wear OS masih membutuhkan pengisian daya setiap satu atau dua hari sekali.

Kompromi yang Perlu Dipertimbangkan

Namun, baterai tahan lama ini datang dengan sejumlah kompromi. Wear OS berperilaku lebih mirip ponsel Android kecil karena mendukung aplikasi yang dapat diunduh, Google Maps, Wallet, Gemini, serta akses ke bagian khusus Google Play Store.

Sebaliknya, smartwatch berbasis RTOS dari Samsung kemungkinan besar hanya akan mengandalkan alat kesehatan milik Samsung sendiri, tampilan jam, dan aplikasi bawaan. Dukungan aplikasi pihak ketiga mungkin terbatas, sementara notifikasi yang masuk mungkin menawarkan lebih sedikit opsi untuk membalas atau berinteraksi.

Ini bukan kali pertama Samsung menggunakan RTOS pada perangkat wearable. Galaxy Fit 3, misalnya, sudah menggunakan FreeRTOS dan mampu menangani pelacakan kebugaran, pemantauan tidur, kontrol media, serta notifikasi dasar hanya dengan memori 16MB. Perangkat tersebut memiliki baterai kecil berkapasitas 208mAh yang dapat bertahan hampir dua minggu.

Stress measurement on Samsung Galaxy Fit 3 fitness band.

Galaxy Aero bisa menawarkan pengalaman perangkat lunak yang serupa, yang pada dasarnya menjadikannya pelacak kebugaran berbentuk jam tangan. Namun, belum diketahui apakah Samsung sedang mengembangkan sesuatu yang lebih canggih untuk smartwatch yang belum diumumkan ini.

Dengan pendekatan ini, Samsung tampaknya ingin memperluas jajaran produknya dengan menyasar segmen pengguna yang lebih sadar harga. Strategi serupa juga terlihat di industri lain, di mana efisiensi biaya menjadi pertimbangan utama. Sebagai contoh, perusahaan global beralih ke AI China yang lebih murah untuk menekan biaya operasional.

Langkah Samsung menghadirkan smartwatch RTOS juga sejalan dengan upaya menghadirkan perangkat dengan harga lebih kompetitif. Di segmen otomotif, misalnya, Volkswagen ID. Polo hadir dengan harga mulai Rp 400 jutaan sebagai opsi mobil listrik yang lebih terjangkau.

Meski demikian, Samsung belum memberikan pernyataan resmi mengenai Galaxy Aero. Informasi yang beredar saat ini masih berdasarkan penemuan kode di dalam aplikasi Galaxy Wearable. Publik masih harus menunggu konfirmasi lebih lanjut mengenai spesifikasi lengkap, tanggal peluncuran, dan harga resmi dari perangkat ini.

Yang jelas, kehadiran Galaxy Aero dengan RTOS menunjukkan bahwa Samsung tidak hanya fokus pada pasar premium. Perusahaan ini juga ingin memastikan bahwa konsumen dengan anggaran terbatas tetap bisa menikmati produk wearable berkualitas. Keputusan ini bisa menjadi langkah penting dalam persaingan di segmen smartwatch entry-level yang selama ini didominasi oleh merek-merek seperti Amazfit.

Bagi pengguna yang selama ini ragu membeli smartwatch karena harganya yang mahal, Galaxy Aero bisa menjadi jawaban. Dengan baterai yang tahan lama dan harga yang lebih terjangkau, perangkat ini berpotensi menarik minat banyak konsumen yang mengutamakan fungsi dasar tanpa perlu membayar lebih untuk fitur-fitur canggih yang mungkin tidak mereka butuhkan.

Namun, pengguna yang terbiasa dengan ekosistem aplikasi Wear OS mungkin perlu berpikir dua kali. Keterbatasan aplikasi pihak ketiga dan opsi interaksi notifikasi yang lebih sedikit bisa menjadi penghalang bagi mereka yang menginginkan pengalaman smartwatch yang lebih lengkap.

Pada akhirnya, pilihan antara Galaxy Aero dengan RTOS dan model Wear OS premium bergantung pada kebutuhan dan prioritas masing-masing pengguna. Samsung tampaknya ingin memberikan opsi yang lebih beragam di pasar, dan Galaxy Aero adalah bukti nyata dari strategi tersebut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.