Telset.id – Samsung resmi mengantongi izin dari Korea’s Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) untuk versi peningkatan fitur deteksi sleep apnea pada perangkat Galaxy Watch dan Galaxy Ring. Persetujuan ini menyusul izin FDA yang sudah diterima pada Juli 2026, dan menjadikan fitur sleep apnea Samsung kini tersedia di 84 negara. Perubahan utamanya bukan lagi sekadar mendeteksi tanda-tanda sleep apnea, tapi menghitung frekuensi gangguan pernapasan per jam selama tidur.
Fitur sleep apnea pertama Samsung mendapat persetujuan di Korea pada 2023, lalu meraih otorisasi De Novo dari FDA pada awal 2024. Sejak itu, fitur tersebut diperluas ke berbagai pasar, dan Samsung menyebut cakupannya kini mencapai 84 negara. Versi baru yang baru disetujui MFDS membawa kemampuan yang lebih rinci dibandingkan fitur awal yang hanya memberi tahu apakah ada tanda-tanda sleep apnea terdeteksi.
Perbedaan mendasar versi peningkatan ini terletak pada cara kerja algoritma AI-nya. Fitur tidak hanya mendeteksi tanda sleep apnea derajat sedang hingga berat, tetapi juga menghitung jumlah gangguan pernapasan per jam saat pengguna tidur. Hasil hitungan itu kemudian dikelompokkan ke dalam tiga level berdasarkan frekuensinya, yaitu mild, occasional, atau frequent.
Cara Kerja dan Ketersediaan Fitur
Fitur ini diakses melalui aplikasi Samsung Health Monitor pada perangkat Galaxy. Untuk memperoleh hasil, pengguna perlu merekam tidur minimal lima jam pada dua kesempatan dalam rentang sepuluh hari. Data yang terkumpul dari sesi tidur itulah yang menjadi dasar algoritma AI dalam menghitung frekuensi gangguan pernapasan.
Di Korea, fitur peningkatan ini akan diluncurkan mulai November 2026. Perangkat pertama yang menerimanya adalah Galaxy Watch Ultra2, Galaxy Watch9, dan Galaxy Ring. Setelah itu, fitur menyusul ke perangkat lebih lama, yaitu Galaxy Watch7 dan Galaxy Watch8 yang menjalankan Wear OS 7.0 atau versi lebih baru, melalui pembaruan perangkat lunak.
Samsung secara khusus menyoroti Galaxy Ring karena bobotnya ringan dan nyaman dipakai saat tidur. Kondisi itu dinilai membantu perangkat mengumpulkan data tidur yang dibutuhkan fitur sleep apnea. Bagi pengguna yang jamnya tidak masuk daftar tersebut, fitur orisinal tetap tersedia di Galaxy Watch4 dan model lebih baru yang menjalankan Wear OS 5.0 atau lebih baru. Fitur orisinal itu hanya memberi tahu apakah tanda-tanda sleep apnea terdeteksi.
Baca Juga:
Konteks Kesehatan dan Posisi Fitur
Samsung mengutip US National Sleep Foundation yang menyebut sekitar 25% pria dan 10% wanita di Amerika Serikat memiliki sleep apnea, dan banyak di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut. Angka itu menjadi latar mengapa Samsung mendorong fitur deteksi berbasis wearable sebagai sarana awal pemantauan tidur.
Perusahaan menegaskan bahwa hasil dari fitur ini dapat menjadi referensi yang berguna ketika pengguna berkonsultasi dengan spesialis. Dengan kata lain, fitur ini diposisikan sebagai alat bantu pemantauan, bukan pengganti diagnosis medis profesional. Pengelompokan hasil ke dalam tiga level mild, occasional, dan frequent memberi gambaran frekuensi gangguan pernapasan yang bisa dibawa ke diskusi dengan tenaga medis.
Ekspansi fitur ini juga memperlihatkan arah Samsung dalam memperkuat ekosistem kesehatan wearables-nya, sejalan dengan langkah perusahaan memperluas lini perangkat Galaxy. Di sisi lain, Samsung juga tengah mengatur portofolio produk lain, seperti terlihat dari langkah pangkas produksi Galaxy A yang berdampak pada segmen ponsel murah. Untuk pasar India, Samsung juga telah menghadirkan Galaxy A08 4G sebagai bagian dari strategi produknya di segmen menengah ke bawah.
Bagi pengguna yang lebih dekat dengan lini audio, Samsung juga baru saja memperkenalkan Galaxy Buds Open sebagai bagian dari ekosistem perangkat pendamping. Sementara itu, kepatuhan terhadap klaim pemasaran juga menjadi perhatian di Korea, seperti terlihat dari kasus denda klaim gaming yang pernah dialami Samsung untuk Galaxy S21 dan S22.
Dengan persetujuan MFDS ini, fitur sleep apnea versi peningkatan Samsung melengkapi rangkaian izin yang sudah diterima di Korea dan Amerika Serikat. Peluncuran bertahap di Korea mulai November 2026 akan menjadi penanda pertama ketersediaan fitur ini di pasar konsumen, sebelum menyusul ke perangkat lebih lama melalui pembaruan perangkat lunak.





Komentar
Belum ada komentar.