Telset.id – Snap, induk perusahaan media sosial Snapchat, secara resmi mengumumkan kembalinya ke pasar konsumen lewat kacamata augmented reality (AR) generasi keenam yang diberi nama SPECS. Perangkat ini sudah bisa dipesan di muka lewat situs SPECS.COM dengan deposit refundable sebesar $200.
Keputusan Snap ini cukup mengejutkan mengingat dua generasi terakhir kacamata pintarnya, yaitu generasi keempat dan kelima yang dirilis September 2024, hanya diperuntukkan bagi developer. Kini, Snap membuka pintu bagi konsumen umum untuk merasakan teknologi AR yang selama ini mereka kembangkan.
SPECS dibanderol dengan harga $2.195 dan dijadwalkan akan mulai dikirim pada musim gugur tahun ini ke tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Perangkat ini menampilkan layar augmented reality yang memungkinkan pengguna melihat gambar hasil komputer yang ditumpangkan di atas gambar dunia nyata.
Snap sendiri menyebut SPECS sebagai “komputer wearable yang dibangun ke dalam kacamata augmented reality tembus pandang.” Dengan kata lain, perangkat ini bukan sekadar aksesori, melainkan sebuah platform komputasi baru yang menyatu dengan penglihatan penggunanya.
Evan Spiegel, salah satu pendiri sekaligus CEO Snap Inc., memberikan pernyataan resmi yang cukup ambisius. “SPECS adalah awal dari era baru dalam komputasi. Selama beberapa dekade, komputer meminta kita untuk menunduk, duduk diam, atau keluar dari momen. SPECS menghadirkan komputasi ke dunia di sekitar kita, tempat kita hidup, bekerja, belajar, berkreasi, dan terhubung,” ujarnya.
Spesifikasi dan Varian SPECS
Snap menawarkan SPECS dalam dua varian ukuran. Pertama, varian 47mm dengan bobot 132 gram. Kedua, varian 52mm yang sedikit lebih berat, yaitu 136 gram. Keduanya menggunakan layar liquid crystal on silicon (LCoS) milik Snap yang diklaim mampu memberikan medan pandang (field of view) selebar 51 derajat.
Dari segi tampilan, SPECS mampu merender 16 juta warna. Menariknya, medan pandang yang dihasilkan setara dengan monitor desktop 24 inci untuk keperluan kerja, atau setara dengan layar bioskop rumahan 115 inci yang diletakkan sekitar 10 kaki (3 meter) dari pengguna.
Bagi pengguna yang membutuhkan kacamata resep, Snap menyediakan insert yang bisa dilepas dan mencakup berbagai rentang resep. Fitur ini memastikan bahwa pengguna dengan gangguan penglihatan tetap bisa menikmati pengalaman AR secara optimal.
Dari segi performa, SPECS ditenagai oleh dua prosesor Snapdragon. Satu prosesor khusus untuk computer vision, dan satu lagi untuk menjalankan Lenses. Lenses sendiri adalah fitur AR yang mengubah penampilan atau lingkungan pengguna secara real-time, termasuk animasi, efek 3D, dan filter untuk foto serta video.
Baterai dan Privasi
Snap mengklaim bahwa SPECS mampu bertahan hingga 4 jam dalam penggunaan campuran, termasuk pemutaran audio dan video, Lenses, notifikasi Bluetooth, AI, dan lainnya. Casing pengisi daya yang disertakan mampu mengisi ulang kacamata hingga empat kali, sehingga total waktu penggunaan mencapai 20 jam.
Salah satu fitur yang paling ditekankan oleh Snap adalah privasi. Sebuah lampu LED akan menyala saat kamera sedang digunakan. Selain itu, SPECS akan meminta izin sebelum mengakses informasi pribadi. Data juga diproses langsung di perangkat (on-device) untuk meminimalkan risiko kebocoran data.
“SPECS hanya akan berfungsi jika orang mempercayainya. Privasi harus dibangun sejak awal,” tegas Spiegel. Pendekatan ini menjadi kunci bagi Snap untuk meyakinkan konsumen yang mungkin masih skeptis terhadap perangkat wearable dengan kamera.
Strategi dan Pesaing
Keputusan Snap untuk kembali ke pasar konsumen setelah dua generasi hanya untuk developer menunjukkan keyakinan mereka terhadap kematangan teknologi SPECS. Perusahaan ini pertama kali dikenal di dunia wearable lewat Snapchat Spectacles yang bisa merekam video 30 detik seharga $129,99 dan dijual dari mesin penjual otomatis di pantai California pada tahun 2016.
Generasi kedua Spectacles dirilis pada 2018 dengan ketahanan air, bodi 30% lebih tipis, audio yang lebih baik, resolusi HD yang lebih tinggi, serta casing pengisi daya yang mampu memberikan hingga empat kali pengisian penuh. Kini, SPECS hadir sebagai lompatan besar dari sekadar kamera wearable menjadi platform AR yang sesungguhnya.
Persaingan di segmen ini tidaklah mudah. Saat ini, pesaing utama SPECS adalah Meta Ray-Ban Display glasses yang menggunakan heads-up display di lensa kanan untuk menampilkan informasi digital di atas lingkungan nyata. Meta sudah lebih dulu meluncurkan produk konsumennya, sehingga Snap harus bekerja ekstra untuk merebut pangsa pasar.
Namun, Spiegel optimistis. Dalam pernyataannya, ia mengklaim bahwa “SPECS adalah kacamata AR paling mumpuni dan paling nyaman dipakai yang pernah dibuat.” Klaim ini tentu harus dibuktikan saat perangkat mulai dikirim ke konsumen pada musim gugur mendatang.
Spiegel sebelumnya juga pernah mengungkapkan bahwa tokoh teknologi idolanya adalah Steve Jobs, salah satu pendiri Apple, dan Edwin Land, pendiri Polaroid. Kedua tokoh ini dikenal karena kemampuan mereka menciptakan produk yang mengubah cara orang berinteraksi dengan teknologi.
Dengan harga $2.195, SPECS jelas bukan perangkat untuk semua orang. Namun, Snap tampaknya tidak sedang mengejar volume penjualan massal. Mereka lebih fokus pada membangun ekosistem dan meyakinkan early adopter bahwa AR wearable adalah masa depan komputasi.
Bagi konsumen yang tertarik, situs SPECS.COM menyediakan fitur virtual try-on yang memungkinkan calon pembeli melihat bagaimana penampilan mereka saat mengenakan SPECS varian 47mm maupun 52mm. Fitur ini menjadi nilai tambah mengingat harga perangkat yang cukup tinggi.
Ke depannya, keberhasilan SPECS akan sangat bergantung pada ketersediaan konten dan aplikasi yang memanfaatkan kemampuan AR-nya. Snap perlu memastikan bahwa para developer tertarik untuk membangun Lenses dan pengalaman AR lainnya di platform ini.
Selain itu, faktor kenyamanan pemakaian sehari-hari juga akan menjadi penentu. Dengan bobot 132 hingga 136 gram, SPECS masih lebih berat dari kacamata biasa, namun lebih ringan dari banyak headset AR lain yang beredar di pasaran.
Satu hal yang pasti, Snap telah mengambil langkah berani dengan membawa teknologi AR ke tangan konsumen. Apakah SPECS akan menjadi hits seperti smartphone pertama, atau hanya menjadi produk niche seperti Google Glass, waktu yang akan menjawab.
Bagi para penggemar teknologi dan early adopter di Indonesia, sayangnya belum ada informasi mengenai ketersediaan SPECS di pasar lokal. Saat ini, pengiriman hanya terbatas ke AS, Inggris, dan Prancis. Namun, bukan tidak mungkin Snap akan memperluas pasar ke Asia jika respons global positif.
Sebagai perbandingan, tren pre-order produk teknologi juga sedang marak di Indonesia. Beberapa merek seperti Caviar dan iQOO juga telah membuka pre-order produk terbaru mereka di pasar Asia, menunjukkan bahwa model pemesanan awal ini semakin populer.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, SPECS menandai babak baru dalam evolusi wearable. Snap tidak hanya menjual kacamata, tetapi juga visi mereka tentang masa depan komputasi yang tidak lagi terbatas pada layar di tangan atau meja.





Komentar
Belum ada komentar.