Telset.id – Supermicro resmi menjual workstation berbasis Nvidia GB300 Grace Blackwell Ultra superchip dengan harga US$92.887,47 atau sekitar Rp1,5 miliar sebelum pajak dan ongkos kirim. Harga tersebut menjadikan mesin ini sekitar tujuh kali lebih mahal dibandingkan Mac Studio dengan chip Apple M5 Ultra yang dibanderol US$12.299,00.
Workstation ini membawa total memori 748GB, jauh melampaui 256GB yang ditawarkan Mac Studio dengan M5 Ultra. Perbedaan harga dan spesifikasi yang mencolok ini menegaskan bahwa produk tersebut memang ditujukan untuk segmen riset dan enterprise, bukan konsumen rumahan.

Nvidia membagi total memori 748GB tersebut menjadi 496GB memori sistem yang terhubung ke CPU Grace dan 252GB memori HBM3e pada GPU Blackwell Ultra. Meski terstruktur berbeda, gabungan memori ini tetap memberikan kapasitas hampir tiga kali lipat dari total memori yang tersedia pada Mac Studio.
Workstation ini memasangkan prosesor Grace 72-core dengan GPU Blackwell Ultra, membentuk arsitektur memori koheren yang menurut Nvidia mendukung model dengan parameter triliunan secara lokal. Sistem penyimpanannya mencakup dua drive M.2 NVMe 1.92TB dan dua drive 960GB, memberikan kombinasi kapasitas lokal yang fleksibel bagi pengguna.
Slot M.2 tambahan mendukung standar PCIe 5.0 dan PCIe 6.0, memungkinkan ekspansi lebih lanjut untuk dataset penelitian yang lebih besar. Jaringan menggunakan dual port 400GbE yang dipasangkan dengan Nvidia ConnectX-8 SuperNIC, plus port LAN manajemen khusus untuk administrasi jarak jauh.
Untuk konektivitas, sistem ini menyediakan beberapa port USB, output mini display, dan dukungan IPMI untuk diagnostik serta pemantauan jarak jauh. Nvidia mengklaim platform ini mampu memberikan performa hingga 20 PFLOPS FP4, tiga kali lebih cepat dalam kecepatan inferensi dibandingkan chip H200.
Sistem ini juga mendukung beban kerja agen berkelanjutan dengan menghasilkan hingga 1200 token per detik tanpa biaya token tambahan. Pendinginannya mengandalkan sistem liquid direct-to-chip yang dipadukan dengan beberapa kipas di dalam chassis tower atau rack-mount.
Konsumsi dayanya berasal dari satu catu daya 1600W dengan rating efisiensi Titanium 94% untuk operasi berat yang berkelanjutan. Chassisnya memiliki bobot sekitar 88 pon atau sekitar 40 kilogram saat kosong, mencerminkan kepadatan komponen yang tertanam dalam bingkai yang ringkas.
Harga Workstation untuk Riset dan Enterprise
Supermicro membangun workstation ini untuk laboratorium riset dan perusahaan yang menjalankan model besar secara lokal, jauh dari kebutuhan komputasi rumah atau kantor pada umumnya. Apple Mac Studio, di sisi lain, melayani profesional kreatif dan pengguna umum yang membutuhkan performa kuat tanpa infrastruktur AI khusus di rumah.
Pembeli yang mencari biaya masuk lebih rendah dapat menemukan diskon 3% untuk pelanggan baru pada model Gold Series. Diskon tersebut menurunkan harga menjadi sekitar US$90.101,05, angka yang masih jauh di atas pertimbangan kebanyakan pembeli untuk workstation desktop.
Pembeli volume juga dapat meminta penawaran diskon yang lebih besar, praktik umum di kalangan vendor yang menjual ke lingkungan riset dan laboratorium. Supermicro mendaftarkan workstation ini dengan nomor model ARS-511GD-NB-LCC-01-G2, bagian dari lini Gold Series yang ditujukan untuk laboratorium riset.
Baca Juga:
Bagi sebagian besar pembeli, perangkat seperti ini hanya masuk akal jika model dengan parameter triliunan harus berjalan sepenuhnya di lokasi, tanpa ketergantungan pada cloud. Jika tidak, kesenjangan harga dibandingkan dengan alternatif prosumer tampak sulit untuk dibenarkan bagi anggaran riset tipikal di luar organisasi yang didanai dengan baik.
Keputusan Supermicro untuk merilis workstation dengan harga selangit ini menunjukkan arah pasar komputasi AI yang semakin tersegmentasi. Di satu sisi, ada produk konsumen seperti Mac Studio yang menawarkan performa memadai dengan harga relatif terjangkau. Di sisi lain, ada perangkat khusus seperti ARS-511GD-NB-LCC-01-G2 yang dirancang untuk menangani beban kerja AI terberat di lingkungan profesional.
Bagi peneliti dan perusahaan yang membutuhkan kemampuan pemrosesan model bahasa besar secara lokal, investasi sebesar ini bisa jadi sepadan. Namun, bagi pengguna umum dan profesional kreatif, alternatif seperti Mac Studio tetap menjadi pilihan yang lebih rasional dari sisi biaya.
Perkembangan ini juga memperlihatkan bagaimana Nvidia terus memperkuat posisinya di pasar komputasi AI melalui kemitraan dengan vendor seperti Supermicro. Strategi ini berbeda dengan pendekatan Apple yang mengintegrasikan kemampuan AI ke dalam produk konsumen yang lebih terjangkau.
Dengan hadirnya workstation seharga miliaran rupiah ini, persaingan di pasar komputasi AI semakin menarik untuk diikuti. Konsumen kini memiliki pilihan yang lebih jelas antara solusi enterprise kelas atas dan produk prosumer yang lebih ramah kantong.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.