Telset.id – Kekhawatiran baru muncul di kalangan pengguna smart home setelah temuan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar smart appliances secara rutin mengirimkan data penggunaan pribadi ke pabrikan. Consumer Reports menemukan bahwa merek-merek besar mentransmisikan data antara 3,4MB hingga 19MB setiap minggu ke produsen. Meski terlihat kecil, data berbasis teks tentang kebiasaan pengguna, konsumsi makanan, hingga jadwal keluarga dari smart fridge bisa menjadi tambang emas informasi yang berpotensi dijual ke penawar tertinggi.
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah jenis data apa yang dikumpulkan oleh perangkat pintar ini, untuk apa data tersebut digunakan, siapa yang menerimanya, dan mengapa pengguna harus peduli. Sebagian besar data bersifat dasar seperti frekuensi dan waktu penggunaan. Namun, data pribadi seperti kode pos, tanggal lahir, dan lokasi juga ikut dikumpulkan. Hal ini menyangkut privasi dan kesadaran bahwa interaksi dengan smart appliances bisa melampaui batas rumah.

Jenis Data yang Dikumpulkan Smart Appliances
Smart appliances tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga menghemat waktu dan energi. Kulkas pintar dapat memberi tahu saat persediaan susu menipis atau mengelola kalender keluarga dari layar depannya. Mesin cuci pintar bisa mengingatkan saat perlu mengisi ulang deterjen atau saat siklus pencucian selesai. Namun, kemampuan ini juga berarti perangkat dapat mengetahui seberapa sering anggota keluarga membuka pintu kulkas, kapan membeli bahan makanan, berapa banyak telur yang dikonsumsi setiap minggu, hingga jadwal les anak.
Mesin cuci juga bisa merekam seberapa sering pengguna mencuci pakaian, hari apa saja, hingga rasio pakaian halus dengan handuk dan perlengkapan olahraga. Kabar buruknya, sebagian besar smart appliances terus-menerus mengumpulkan data untuk dikirim kembali ke pabrikan. Kabar baiknya, data ini biasanya dienkripsi.
Namun, jenis data yang dikumpulkan masih belum jelas. Consumer Reports menanyakan hal ini kepada merek-merek dalam studinya, tetapi sebagian besar hanya menyebutkan “data penggunaan dan kinerja.” Kenmore mengatakan mengumpulkan informasi seperti status daya (saat perangkat dinyalakan dan dimatikan), seberapa sering pintu dibuka dan ditutup, status filter, detail siklus dan suhu, serta penggunaan energi. LG dan Samsung mengklaim mengumpulkan informasi identitas dasar seperti kode pos, nomor telepon, dan lokasi.
Ke depannya, seiring pertumbuhan AI dan smart home yang saling terhubung, perangkat dapat mengumpulkan lebih banyak data bersama perangkat pintar lainnya di rumah. Kombinasi ini dapat memberikan gambaran jelas tentang kebiasaan dan pola penggunaan keluarga.

Cek Kebijakan Privasi untuk Transparansi Data
Untuk mengetahui data yang dilacak oleh smart appliances, langkah terbaik adalah membaca kebijakan privasi perusahaan. Pengguna bisa menemukannya secara daring atau dalam pamflet yang disertakan bersama produk. Perlu waktu untuk membaca dan memahami pernyataan yang sering kali samar.
Kebijakan privasi Samsung mencatat bahwa informasi yang dikumpulkan digunakan untuk iklan yang dipersonalisasi dan pemasaran langsung, serta untuk mengevaluasi dan meningkatkan bisnisnya. Informasi juga dibagikan dengan “anak perusahaan dan afiliasi” serta “mitra bisnis” pihak ketiga. Namun, tidak ada kejelasan mengenai informasi apa yang dibagikan atau alasannya.
Kebijakan privasi LG menyatakan bahwa perusahaan mengumpulkan informasi tentang penggunaan layanan, termasuk perilaku perangkat, informasi daya, dan lainnya, yang dapat dibagikan dengan mitra periklanan dan bisnis. Data digunakan untuk “aktivitas pemasaran langsung,” “meningkatkan pengalaman pengguna,” dan menganalisis kinerja bisnis LG. LG menyatakan bahwa pengguna dapat meminta salinan informasi pribadi yang dimiliki perusahaan kapan saja.
Bosch melalui aplikasi Home Connect yang digunakan dengan smart appliances-nya, mengumpulkan “data touchpoint” terkait penggunaan, yang dapat mencakup data anonim untuk “penggunaan statistik” dan agregat interaksi pengguna.

Evaluasi Penggunaan Setelah Mengetahui Fakta
Secara keseluruhan, data yang dikumpulkan mungkin tampak tidak berbahaya. Namun, penting untuk memahami kemungkinan data tersebut digunakan untuk memasarkan produk, baik dari merek itu sendiri maupun pihak ketiga yang diberi akses. Mengingat banyak perangkat pintar lain melakukan hal serupa, ini mungkin kenyataan yang harus diterima.
Meskipun pengguna bisa menyelidiki kebijakan privasi atau menghubungi perusahaan secara langsung, mungkin tidak akan pernah mendapatkan gambaran yang jelas tentang informasi apa yang dikumpulkan dari smart appliances dan bagaimana data tersebut digunakan. Hal ini bisa membuat pengguna berpikir dua kali untuk menghubungkan perangkat sama sekali.
Di sisi lain, smart appliances memiliki kelebihan seperti kemudahan, penghematan waktu dan energi, diagnostik jarak jauh, pemecahan masalah melalui aplikasi, kontrol jarak jauh, dan personalisasi. Sebelum membeli dan menghubungkan smart appliance ke sistem rumah, sebaiknya baca kebijakan privasi perusahaan untuk mengetahui informasi apa yang akan dikumpulkan dan dibagikan. Kemungkinan besar, informasi tersebut bersifat pribadi dan data penggunaan, meskipun anonim. Mengetahui kebijakan perusahaan dapat membantu menentukan merek yang dipilih, atau bahkan keputusan untuk menggunakan smart appliances sama sekali.






Komentar
Belum ada komentar.